Masa Lalu Aurelie Moeremans: Dari Roby Tremonti sampai Memoar Broken Strings
Nama Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan setelah dikabarkan menjalin hubungan dengan artis Roby Tremonti. Keduanya diketahui berkenalan pada 2009 di sebuah lokasi syuting dan disebut terlibat cinta lokasi. Namun, hubungan itu tak direstui orangtua Aurelie karena usianya saat itu masih sekitar 15 tahun.
Ibunda Aurelie bahkan sempat meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komnas Perlindungan Anak. Meski begitu, Aurelie dan Roby disebut sempat menikah pada 2011 tanpa kehadiran keluarga Aurelie. Ibundanya menuding Roby mencuci otak anaknya.
Hubungan itu berakhir pada 2013. Roby diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Aurelie hingga akhirnya sang aktris kembali ke orang tuanya.
"Gak ada. Gue menikah bahagia-bahagia sama dia. Masa sih kalau nikah dengan penuh ancaman, dia bahagia gitu kalau dilihat dari foto-fotonya. Jadi itu gak mungkin," ungkapnya saat ditemui detikcom di kawasan Bogor, Jawa Barat, Kamis (2/1/2013).
Pada 2020, muncul kabar yang menyebut Aurelie berstatus janda. Ia pun membuat video klarifikasi dan membantah status tersebut.
"Ini terakhir kali aku membahas masa lalu yang kelam itu. Jadi, ya jelas aku gak pernah menikah, aku bukan janda," ucap Aurelie.
Aurelie bercerita pernah menemui seorang pastor di Gereja Katedral Bogor untuk mengadukan soal surat pernikahan yang dikeluarkan oleh sebuah gereja di Cibinong. Menurutnya, pastor di gereja tersebut mengakui bahwa surat pernikahan itu tidak sah.
"Ini pernyataan Status Liber. Status Liber itu apa? Intinya aku gak pernah menikah dan aku gak punya ikatan pernikahan apa pun," tutur Aurelie sambil menunjukkan surat tersebut.
Sementara itu, Roby tetap bersikukuh pernah menikahi Aurelie Moeremans dan membantah tudingan pemalsuan surat.
"Faktanya emang pernah (nikah), gak halu," kata Roby di Rumpi.
"Tentang surat palsu, saya cuma bisa bilang, sangat menyayangkan, saya juga gak mau membanggakan kepercayaan saya sendiri, gak. Gila ya, gue dibilang memalsukan (surat pernikahan). Kalau dibilang surat palsu, gak," imbuhnya.
Ia juga membantah tudingan KDRT, pemaksaan, hingga membawa kabur anak orang.
"Pada saat itu saya lebih ke sakit. Meskipun saya laki-laki, kita manusia juga ada kekecewaan. Dan pada saat itu saya cuma sebagai laki-laki, 'Oke gue ngaku kalah, gue gak mau maksa orang sayang sama gue,' ngomong klisenya," ucapnya.
"Gue gak mau ada orang siapa pun mau berada di lingkungan gue tapi terpaksa, mendingan gue terima sakitnya. Move on-nya dua tahun dengan tuduhan-tuduhan itu ya, kecewanya ada," lanjutnya.
Meski begitu, Roby mengaku bahagia melihat Aurelie saat ini membina rumah tangga dengan Tyler Bigenho.
"Tapi intinya saya sekarang udah bilang, gak ada maksud saya gangguin Aurelie. Aurelie udah nikah, saya senang, gak ada niat untuk ribut lagi, gak ada," ujarnya.
"Intinya dia udah bahagia, saya doain langgeng," kata Roby.
Kini, Aurelie Moeremans memilih melangkah lebih jauh. Aktris yang tinggal di Amerika Serikat bersama sang suami itu baru saja merilis memoar digital berjudul Broken Strings. Buku ini menceritakan pengalaman pahitnya menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun.
"Proses menulisnya sebenarnya relatif cepat. Saat aku mulai menulis, semuanya mengalir begitu saja seperti menulis diary. Ceritanya sudah lama ada di kepalaku, hanya butuh keberanian untuk akhirnya dituangkan," cerita Aurelie Moeremans kepada detikcom melalui pesan singkat, Senin (12/1/2026).
Menulis buku ini bukan perkara mudah bagi Aurelie. Ia harus kembali membuka luka lama yang selama ini ia pendam.
"Iya, tentu saja (gak mudah). Kendala terbesarnya adalah harus membuka kembali luka lama yang selama ini aku pendam. Mengingat detail-detail itu tidak mudah dan cukup menyakitkan, tapi justru proses itu menjadi bagian dari penyembuhan," tuturnya.
"Ada momen di mana aku ingin berhenti karena terlalu berat. Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal kenapa aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan," jelas Aurelie Moeremans.
Aurelie mengaku awalnya hanya menulis untuk dirinya sendiri sebagai proses healing. Namun sang suami, Tyler Bigenho, justru mendorongnya untuk membagikan kisah tersebut ke publik.
"Awalnya aku sama sekali tidak berniat menjadikannya buku. Aku menulis untuk diriku sendiri, sebagai cara untuk healing, tapi setelah suamiku membaca, dia meyakinkanku bahwa cerita ini terlalu penting untuk disimpan sendiri dan bisa membantu banyak orang," ungkap Aurelie Moeremans.
(dar/pus)











































