Setelah Morfem turun panggung, giliran The Jansen yang bikin area festival kembali panas. Band punk asal Bogor tersebut membawakan sejumlah lagu, di antaranya Ku Bukan Mesin Lotremu, Langit Tak Seharusnya Biru, Kau Pemeran Utama di Sebuah Opera, dan Mereguk Anti Depresan Lagi.
Tata, vokalis The Jansen, membuka aksi mereka dengan sapaan singkat. "Selamat sore, Bogor. Kami The Jansen," kata Tata.
Bukan cuma musik yang dibikin kencang, The Jansen juga menyelipkan pesan sosial dalam penampilannya. Visual panggung bernuansa merah dan kepulan asap dibuat menyerupai atmosfer kebakaran dan asap, dengan gambaran kondisi Kalimantan.
Nuansa tersebut membuat penampilan The Jansen terasa lebih intens sekaligus membawa perhatian penonton pada isu kebakaran di Kalimantan yang tengah menjadi salah satu persoalan nasional.
Energi musik yang agresif, visual yang penuh asap, dan respons penonton membuat area depan panggung makin liar. Moshpit pun jadi salah satu titik paling ramai sepanjang penampilan mereka.
Setelah menyelesaikan set-nya, Tata menutup aksi The Jansen dengan salam perpisahan. "Sampai jumpa selanjutnya," kata Tata.
Magnumotion Loud Fest 2026 digelar di Sentul Otopark pada 22 Agustus 2026. Festival ini menghadirkan sederet nama dari skena musik keras Indonesia, seperti Seringai, for Revenge, The Paps, 510, The Jansen, Cloath, hingga Kraken.
Kehadiran berbagai musisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari geliat ekosistem musik keras Indonesia yang banyak tumbuh dari komunitas independen.
Perpaduan aksi Morfem dan The Jansen pun menjadi salah satu momen yang paling bikin panggung Magnumotion Loud Fest makin panas. Musik kencang, sorakan penonton, sampai moshpit berpadu dalam satu sore yang penuh energi.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
(fbr/tia)