Bernadya, sukses menggelar showcase bertajuk Semoga Hanya di Mimpi yang berlokasi di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/7/2026) malam.
Showcase ini jadi a big leap dalam perjalanan karier penyanyi berusia 22 tahun tersebut. Gimana gak, ini merupakan konser terbesarnya sejak Babak Penutup: Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan tahun lalu. Kelihatan banget dari skala venue yang dipilih jauh lebih megah.
Mendekati detik-detik tampil di panggung besar, Bernadya blak-blakan mengaku sangat gugup. Saking nervous-nya, rasa panik sampai menghampirinya setiap hari selama masa persiapan, loh.
"Karena aku nervous ya. Jadi setiap harinya tuh terasa kayak 'Ah! 10 hari lagi!', 'Ah! 3 hari lagi!' gitu. Jadi setiap hari itu isinya mulas, panik. Cepat banget," ujar Bernadya saat jumpa pers sebelum manggung.
Eits, tapi jangan salah. Demi memanjakan visual dan emosi para penonton, Bernadya gak main-main dalam mempersiapkan segalanya. Ia bahkan menggandeng sutradara sekaligus drummer band Seringai, Edy Khemod, sebagai creative director. Karena konsep album terbarunya ini kental banget dengan estetika era 2000-an!
"Karena ini... kita langsung sebuah lompatan yang apa... this is a leap gitu ya dalam hal ini kan kalau ngobrolin venue. Jadi tentu yang kita tampilkan juga jauh lebih niat, jauh lebih kita persiapkan dari yang sudah-sudah," tegasnya.
"Dan ini kali pertamanya aku juga menggandeng Mas Edy Khemod di situ. Jadi kali ini jauh lebih apa ya, lebih terkonsep. Bukan gak terkonsep (sebelumnya), maksudnya ada alurnya, ada alurnya lebih detail, treatment per lagunya itu lebih kita pikirkan gitu," tambah Bernadya.
Pilihan menggandeng Edy Khemod berawal dari diskusi kocak antara Bernadya dan CEO Juni Group, Boim, yang merasa butuh sosok yang benar-benar mengalami kejayaan era 2000-an.
"Kami rasa kayaknya kami tidak cukup... (tua). Eh, beliau ini (Boim) juga cukup tua sih. Gimana ya?" ucap Bernadya sambil tertawa.
"Aku ngobrol sama Mas Boim waktu itu, 'Mas Boim, aku mau yang gini, gini, gini.' Oh, tapi kayaknya kita butuh seseorang yang bener-bener di era itu sudah melakukan sesuatu," ceritanya.
Edy Khemod yang saat ini juga sedang menggarap film debutnya, Operasi Pesta Copet (dibintangi Iqbaal Ramadhan), menyambut antusias konsep nostalgia ini.
"Jadi, menarik tema yang dibawakan Nadya itu. Obrolan awal adalah soal mimpi, nge-translate mimpi, membawa penonton ke mimpinya dengan tema 2000-annya," tutur Edy.
"Ada beberapa treatment pertunjukan yang menurut kita menarik. Jadi di sini kita akan, rencananya ada showcase full album ya. Kemudian bisa kita lanjut ke showcase lagu-lagu yang tentunya teman-teman familiar dengan lagu-lagunya," pungkas drummer tersebut.
Keseruan 2 Part Konser: Dari Baju Tidur sampai Dangdutan!
Buat kamu yang nonton langsung malam tadi, jalannya pertunjukan beneran bikin emosi naik-turun! Acara dibuka pukul 19.15 WIB oleh aksi panggung energik dari Marbles, girl group rookie besutan A-List Entertainment.
Daniella, Quilla, Tiffany, Kyka, dan Beverly sukses membakar semangat penonton lewat single baru mereka Catch Me yang belum dirilis, serta lagu debut Hompimpa.
Memasuki sajian utama, konsernya dibagi jadi 2 part (Act) yang unik banget. Di babak pertama ini, Bernadya tampil imut dan santai pakai baju tidur (piyama). Lucunya lagi, para personel homeband yang mengiringinya juga kompak mengenakan setelan baju tidur!
Di sini, Bernadya menyanyikan secara berurutan seluruh lagu dari album barunya, Semoga Hanya di Mimpi.
Suasana melankolis langsung terasa lewat Laut yang Tenang, Peluk Aku Sekarang, Kita Buat Menyenangkan, sampai Menyenangkan Mengenalmu. Penonton juga disuguhi visual panggung magis saat Rabun Jauh dan Belum Sempat Kenal dibawakan dengan kain transparan berlapir efek buram.
Kejutan manis terjadi di lagu Sebelum Jadi Panjang, di mana Rendy Pandugo naik ke panggung membawa gitar untuk mengiringi Tolong Bilang Ini Mimpi.
Sempat dikira selesai, Bernadya balik lagi ke panggung dengan balutan baju warna cokelat untuk Act 2. Di segmen nostalgia ini, Bernadya membawakan lagu-lagu hits lamanya yang udah melekat banget di hati para Bersenadya (sebutan fans Bernadya).
Lagu-lagu kayak Apa Mungkin, Kata Mereka Ini Berlebihan, Sinyal Sinyal, hingga Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan sukses bikin Tennis Indoor bernyanyi berjamaah.
Gak cuma galau-galauan, plot twist paling gokil terjadi menjelang akhir konser! Begitu suara producer tag "Oh, What Jemsii!" berkumandang, Tenxi mendadak muncul dan mengubah lagu mellow Untungnya, Hidup Terus Berjalan menjadi aransemen versi hipdut yang penuh hentakan. Ya, masa gak goyang?
Simak Video "Video Respons Bernadya soal Tuduhan Terjemahkan Lagu Taylor Swift"
(dar/pig)