Eksplorasi Warna Baru The Jansen Lewat Album Romantisasi Impulsif
So, berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya, album kali ini membawa eksplorasi warna musik dan narasi yang jauh lebih pekat, kelam, namun tetap meledak-ledak.
Detikcom berkesempatan ngobrol santai bareng dua personel The Jansen, Adji dan Tata di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (22/7/2026).
Mereka membeberkan makna di balik judul album yang terbilang unik hingga proses kreatif yang penuh eksperimen ini.
Soal judul album, Adji melempar pandangannya tentang fenomena meromantisasi keadaan yang sering banget terjadi di kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tajuk Romantisasi Impulsif berakar dari istilah yang menyindir kebiasaan menganggap indah sesuatu yang sebenarnya buruk.
"Ya, romantisasi tuh berasal dari meromantisir hidup gitu, sesuatu yang jelek atau yang enggak baik tapi kita anggap itu baik, itu indah, ala-ala yang gitu kan. Dan itu akhirnya sebenarnya jadi istilahnya kayak toxic positivity gitu loh," ujar Adji.
Kehadiran kata impulsif di belakangnya makin menegaskan kadar racun dari narasi yang ingin disampaikan.
"Dan ditambahin impulsif, jadi kayak toxic-nya tuh toxic, ya double gitu, impulsif gitu. Jadi ya dari secara tajuk terus pakai Romantisasi Impulsif gitu. Toxic-nya toxic banget gitu loh," tambahnya.
Bicara soal warna musik, Tata menggambarkan atmosfer album ini layaknya sebuah pesta di tengah kegelapan, sebuah identitas khas post-punk.
"Terus kayak saya mikir, 'Oh... perayaan tapi yang dirayakannya tuh soal kematian gitu.' Itu kan cocok banget mewakili post-punk itu sendiri gitu, gelap tapi musiknya bisa buat pecah gitu lah ya," tutur Tata.
Untuk mewujudkan warna baru yang terbilang segar buat The Jansen, mereka menggandeng sejumlah musisi kenamaan. Ketukan drum yang terbilang baru bagi The Jansen dieksekusi dengan apik oleh Derial Patricia hanya dalam tempo satu malam!
Sementara untuk lini gitar, mereka memercayakannya kepada gitaris Danilla, Evan Artam. "Spanyol-nya, Timur Tengah-nya, dia bisa menerjemahkan itu," sahut Tata.
Menariknya, saat ditanya apakah mereka puas dengan hasil akhir album Romantisasi Impulsif, baik Tata maupun Adji kompak memberikan jawaban yang cukup filosofis.
Bagi mereka, album ini hanyalah sebuah rekaman jejak rasa pada satu titik waktu tertentu. "Ibaratnya album itu kan cuma arsip dari apa yang kita rasain saat proses pembuatannya aja. Begitu rilis, ya itu udah jadi milik pendengar. Kalaupun dirasa ada kekurangan, ya dijadikan bensin atau bahan buat menghancurkan diri lagi di karya berikutnya, bukan buat disesali," tegas Tata.
Adji pun menyepakati hal tersebut. Rasa tidak puas justru menjadi amunisi utama bagi The Jansen untuk terus berkarya dan melompati batas kreatif mereka selanjutnya.
"Justru rasa gak puas itu yang bikin kita terus mau nulis dan eksperimen lagi. Kalau sudah merasa puas sama satu album, ya udah selesai, mati kreatifnya. Jadi ya emang sengaja dibiarin ada rasa enggak puasnya biar tetep penasaran ke depannya," pungkas Adji menutup perbincangan.
