Sinopsis:
Ada sesuatu dalam Carrie, karakter fiksi yang diciptakan Stephen King dalam bukunya yang super terkenal itu, yang membuat kisah ini selalu evergreen. Mungkin karena kisahnya yang sederhana-seorang gadis yang melepaskan kemampuan gilanya ketika berada di posisi yang sangat buruk.
Mungkin karena kita bisa tetap empati dengan karakter utamanya karena latar belakang karakternya yang kompleks. Atau mungkin karena kita bisa menempatkan kita di hampir semua karakter yang ada di dalam ceritanya.
Apa pun jawabannya, Carrie White terlalu menarik untuk dibiarkan diam begitu saja. Bahkan kalau kita semua sudah terlalu familiar dengan kisahnya. Setelah menghabiskan "masa jabatannya" di Netflix, Mike Flanagan mempersembahkan wajah baru Carrie melalui produk Amazon Prime pertamanya.
Dibuka dengan sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa seorang laki-laki, serial ini langsung membuat saya tertarik dengan kenyataan bahwa Carrie (Summer H. Howell) dan Margaret (Samantha Sloyan) hampir tidak pernah keluar rumah.
Mereka berdua mendekam di rumah. Tetangga bahkan tidak tahu kalau Ralph (Tahmoh Penikett) mempunyai anak istri. Dari sini Carrie langsung memperkenalkan kita petualangan familiar tapi dengan lingkungan baru yang harus dihadapi oleh tokoh utamanya.
Carrie harus sekolah dan Margaret harus bekerja, kata dinas sosial. Carrie yang selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya di sekolah langsung tarkaget-kaget menyaksikan dunia sekolah yang sama sekali tidak sesuai dengan cerita-cerita ibunya.
Tragedi di toilet sekolah membuatnya semakin terlihat seperti orang aneh. Dan kelak semua orang akan tahu kenapa Margaret memilih untuk "menyekap" Carrie di dalam rumah.
Review:
Bagian menarik pertama yang diubah oleh Flanagan dalam serial Carrie adalah dinamika hubungan antara Margaret dan Carrie. Di versi bukunya, hubungan antara Carrie dan Margaret dibuat dengan lebih berduri. Margaret dari awal langsung terasa seperti antagonis.
Dalam versi ini, hubungan mereka lebih terlihat seperti anak dan ibu yang normal. Margaret memang kelak akan mulai menunjukkan sikap-sikapnya yang ekstrim-terutama dalam konteks hubungannya dengan agamanya-tapi dinamika mereka jauh terasa lebih meyakinkan karena ketakutan Margaret dibuat dengan lebih realistis.
Hal ini membuat petualangan Carrie menjadi lebih menyentuh-terutama karena kita tahu apa yang akan terjadi nantinya. Yang juga patut dipuji dalam Carrie versi ini adalah bagaimana Flanagan berhasil menerjemahkan pergaulan anak muda zaman sekarang ke dalam kisah yang sudah menyeramkan ini.
Bentuk perundungan yang berbeda, hadirnya sosial media, dan bagaimana respons masyarakat terhadap "gosip" membuat Carrie menjadi jauh lebih mengerikan. Tidak mengerankan kalau Carrie tidak bisa membedakan mana kawan atau mana lawan.
Anak-anak zaman sekarang bisa menyembunyikan intensi mereka yang asli dengan membuat akun-akun medsos bodong. Sayangnya ada satu hal krusial yang diubah oleh Flanagan yang membuat taring Carrie tidak setajam versi aslinya-atau bahkan versi film-film sebelumnya.
Flanagan yang membayangkan bahwa kisah ini akan dieksplor ke dalam tiga musim, memperkenalkan tokoh-tokoh baru yang kurang lebih mempunyai kemampuan yang sama seperti Carrie. Mereka adalah sekelompok manusia yang mempunyai kemampuan super.
Tidak hanya mereka mempunyai peran yang krusial tapi salah satu dari mereka bahkan "mengambil alih" Carrie di detik-detik terakhir.
(Paragraf berikutnya mengandung spoiler)
Salah satu hal paling menakjubkan dalam Carrie adalah bagaimana Stephen King memaksa pembacanya untuk melihat seorang monster dan juga korban di tubuh yang sama. Carrie adalah korban perundungan sekaligus korban didik yang salah dari ibunya.
Tapi di saat yang bersamaan ia juga merupakan seorang pelaku kekerasan yang parah. Ia menggunakan kemampuannya untuk menghukum pelaku perundungan tapi juga banyak orang yang tidak bersalah. Dalam kemarahannya, Carrie membunuh ratusan nyawa yang tidak berdosa.
Bahkan dengan gambaran perundungan yang menyakitkan hati, kita tidak bisa membenarkan tindakan yang dilakukan Carrie. Dan hal tersebut yang membuat kisah ini menjadi sangat menarik untuk diikuti-dan mungkin salah satu faktor yang membuatnya klasik.
Tapi Flanagan memutuskan untuk tidak melakukan hal tersebut. Setidaknya dalam delapan episode yang ada di musim pertama ini, Flanagan membuat Carrie "kesurupan" di adegan prom yang legendaris itu. Bukan Carrie yang membunuhi semua teman-temannya tapi orang lain.
Hal ini membuat Carrie menjadi agak letoy karena justru memang adegan tersebut yang menjadi kuncinya. Apa yang dilakukan Carrie White di prom memang salah tapi memotong agensinya membuat perjalanan kisahnya tidak utuh. Tidak sesuai dengan apa yang King tulis di bukunya.
Meskipun begitu, Carrie tetap sebuah tontonan yang menghantui sekaligus adiktif. Flanagan berhasil membuat sebuah kisah remaja yang menggigit dari episode pertama sampai episode terakhir.
Tidak ada satu pun episode yang membosankan dan di akhir episode Flanagan bersama timnya berhasil membuat penontonnya ingin tahu lebih banyak soal Carrie. Meskipun sebagai sebuah serial horor, Carrie yang satu ini agak melempem.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
Simak Video "Video: Kritik untuk Sederet Musisi Ini gegara Tampil di Pelantikan Trump"
(ass/ass)