The Social Reckoning: Mengungkap Jahatnya Facebook

Candra Aditya
|
detikPop

EDITORIAL RATING

3/5

AUDIENCE RATING

-
The Social Reckoning

Sinopsis

Penggemar drama investigasi berbasis kisah nyata wajib banget merapat nih, gengs! Film The Social Reckoning hadir menyajikan cerita menegangkan seputar perjuangan membongkar rahasia paling terjaga dari salah satu raksasa media sosial dunia, Facebook.

Kisah film ini berpusat pada sosok Frances Haugen (Mikey Madison), seorang insinyur Facebook yang mulai meragukan perusahaan tempatnya bekerja. Keraguan itu muncul setelah ia menemukan sejumlah bukti mengejutkan mengenai dampak negatif platform tersebut terhadap para penggunanya.

Di balik citra manis dan upaya perusahaan yang megah dalam mengendalikan penyebaran kebencian serta informasi keliru di internet, Frances justru menemukan kenyataan yang bikin nuraninya terusik, guys.

Ia menduga kuat kalau pihak Facebook sebenarnya udah tahu betul berbagai risiko berbahaya yang ditimbulkan oleh platform mereka. Tapi sayangnya, perusahaan dinilai tetap saja mengutamakan pertumbuhan bisnis dan tingkat engagement pengguna di atas segalanya.

Gak mau tinggal diam melihat situasi tersebut, Frances akhirnya mengambil tindakan nekat. Ia memutuskan buat bekerja sama bareng jurnalis investigasi kawakan, Jeff Horowitz (Jeremy Allen White), demi mengungkap berbagai praktik gelap perusahaan yang selama ini ditutup-tutupi.

Langkah yang diambil Frances ini jelas bukan tanpa risiko besar. Demi membawa informasi vital tersebut ke hadapan publik, ia harus bersiap menghadapi konsekuensi hukum hingga tekanan hebat dari perusahaan raksasa tempatnya bekerja.

Melalui perjuangan sengit Frances dalam membongkar persoalan di balik layar salah satu platform media sosial terbesar di dunia, The Social Reckoning secara tajam menyoroti pertarungan sengit antara kepentingan bisnis, tanggung jawab perusahaan teknologi, dan hak masyarakat buat tahu kebenaran.

Review

Banyak sinefil dan kritikus yang percaya bahwa The Social Network adalah salah satu film yang paling oke dalam menggambarkan dunia digital. Disutradarai David Fincher dan ditulis oleh Aaron Sorkin-yang menganugerahinya piala Oscar-film tentang penciptaan Facebook tersebut dengan cerdas menangkap bagaimana Facebook dibuat sambil menelanjangi seorang karakter Mark Zuckerberg melalui perang hak cipta. Enam belas tahun kemudian The Social Reckoning hadir. Kali ini Sorkin duduk di kursi sutradara, menerjemahkan sendiri skripnya.

Kalau The Social Network ditutup dengan statement bahwa Zuckerberg (di film ini diperankan oleh Jeremy Strong) adalah orang yang berusaha menjadi jahat, maka film ini menebalkan statement tersebut. Zuckerberg bukan lagi berusaha, dia memang orang jahat. Jurnalis Jeff Horwitz (Jeremy Allen White) ditugaskan Wall Street Journal untuk menulis tentang apa yang terjadi di dalam Facebook. Dalam upayanya mencari kebenaran, seorang data analyst dari Facebook bernama Frances Haugen (Mikey Madison) menjawab email Horwitz.

Dalam awal perjumpaan mereka Frances mengatakan bahwa dia sangat mencintai pekerjaan. Dia percaya bahwa Facebook dibuat untuk tujuan yang mulia. Bahkan ketika dia duduk di hadapan Horwitz, dia masih mempercayai hal ini. Tapi di saat yang bersamaan, ia percaya bahwa algoritma Facebook didesain untuk membuat orang-orang semakin ekstrim. Tidak ada pengecekan data dalam Facebook. Yang penting adalah orang semakin aktif menggunakan medsos tersebut. Penyelidikan Horwitz dan pengakuan Frances akhirnya membawa kita semua ke salah satu kejadian yang tidak akan terlupakan di Amerika: Penyerbuan Gedung Kapitol pada 6 Januari.

Suka atau tidak suka dengan gaya penulisan Aaron Sorkin, para penggemar film tidak akan bisa menyanggah bahwa skrip yang dibuat Aaron Sorkin mempunyai kepribadian. Ia punya gaya tersendiri yang sangat bisa dilihat karakteristiknya. Dengan piala Emmy, Oscar dan nominasi Tony, Sorkin sudah lebih dari membuktikan bahwa ia adalah penulis skrip yang bagus. Sayangnya, untuk saat ini, ia masih belum bisa mendapatkan gelar sutradara yang baik.

Susah untuk tidak membandingkan The Social Reckoning dengan film sebelumnya The Social Network yang jauh lebih superior. Kehebatan David Fincher adalah ia tidak hanya sanggup menerjemahkan skrip Sorkin yang sangat verbal dengan presentasi visual yang sinematik tapi ia juga berhasil menyampaikan semua emosi yang dibutuhkan film tersebut dengan fasih. Tidak hanya itu, semua orang yang ada di film tersebut tampil dengan prima-bahkan Dakota Johnson yang saat itu belum terkenal bisa terlihat potensinya dalam film tersebut. Sorkin tidak tahu bagaimana cara mengisi momen hening dalam film ini. Semuanya dipersembahkan verbal dan tanpa nuance. Rasanya seperti menonton ceramah yang berkepanjangan.

Sebenarnya hampir semua karya Sorkin juga seperti ini. Tapi dalam beberapa kasus, "ceramah" ini bisa diselamatkan berkat penampilan aktornya yang meyakinkan. Banyak aktor dari film atau serial TV yang ditulis oleh Sorkin yang bisa mengunyah dialog Sorkin dengan lancar dan menjadikannya natural. The Social Reckoning sayangnya tidak memiliki itu. Mikey Madison dan Jeremy Allen White mungkin cukup mempunyai beberapa momen yang oke tapi banyak hal rasanya "maksa". Jeremy Strong seperti itu sama sekali tidak berkesan-kalau mau menghindari kata salah pilih-sebagai Mark Zuckerberg.

Yang juga mengganggu adalah bagaimana beberapa keputusan kreatif Sorkin yang terasa agak sedikit sumbang. Untuk menyembunyikan pertemuan mereka, Frances digambarkan selalu berdandan seksi seperti orang mau berkencan ketika mendatangi hotel Horwitz untuk memberikan informasi. Visualisasi ini adalah murni rekaan Sorkin. Dengan tema film yang sama sekali tidak membahas romansa, gambaran Sorkin terhadap adegan ini rasanya sangat fals. Belum lagi bagaimana Sorkin meletakkan kameranya saat memperkenalkan Frances untuk pertama kalinya. Entah apa yang menyebabkan Sorkin harus memaksa Frances terlihat seksi untuk sebuah film yang poinnya justru membahas tentang kebejatan Facebook.

Sejujurnya sebagai sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata, The Social Reckoning masih terhitung menghibur meskipun terasa sekali ia membuang semua potensi kerennya. Sebagai film investigasi, film ini kurang tegang atau bombastis. Sebagai "sekuel" The Social Network, film ini terasa downgrade gila-gilaan. Mungkin salah satu cara untuk menikmati film ini adalah melupakan bahwa The Social Network pernah ada. Dengan begitu, film ini akan terlihat sebagai film yang aman dan menghibur-tapi hanya berhenti di situ saja.

The Social Reckoning tayang di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.


TAGS


MOVIE LAINNYA

SHOW MORE