7 Film yang Bertarung Melawan Sensor

Asep Syaifullah
|
detikPop
The Devils (1971)
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Ketakutan terhadap dampak karya seni dalam budaya pop bukanlah hal baru. Mulai dari fenomena Satanic Panic pada game D&D hingga tuduhan bahwa video game memicu kekerasan pada anak.

Layar lebar pun tak luput dari fenomena ini. Beberapa film terpaksa memotong adegan demi menurunkan rating usia, sementara yang lain sampai diseret ke meja hijau dan dilarang tayang selama puluhan tahun.

Berikut adalah 7 film terkenal yang harus berhadapan dengan gunting sensor dan reaksi keras publik.

1. Natural Born Killers (1994) - Dituduh Picu Kekerasan

Natural Born KillersNatural Born Killers Foto: Dok. Ist

Setelah melalui pemotongan adegan berulang kali, Natural Born Killers berhasil menurunkan ratingnya dari NC-17 menjadi R.

Namun, kontroversi sebenarnya baru dimulai setelah film dirilis. Film ini dituduh menjadi inspirasi aksi kekerasan di dunia nyata.

Sutradara Oliver Stone dan pihak Warner Bros. bahkan diseret ke pengadilan oleh novelis John Grisham yang menuntut agar studio bertanggung jawab.

Meski kasus tersebut akhirnya ditolak, film tentang pasangan pembunuh berdarah dingin ini terlanjur menyandang status infam.

2. The King's Speech (2010) - Disensor Demi Urusan Bisnis

The King's Speech (2010)The King's Speech (2010) Foto: Dok. Ist

Aturan MPAA umumnya hanya mengizinkan satu kali penggunaan kata berawalan "F" (F-bomb) untuk film berating PG-13.

Aturan ini memicu dilema bagi The King's Speech. Padahal, adegan kemarahan Duke of York yang dipenuhi umpatan adalah momen paling krusial ketika ia berusaha mengatasi gagapnya.

Setelah memenangkan Best Picture di ajang Oscar, The Weinstein Company memilih menyensor filmnya sendiri untuk penayangan bioskop yang lebih luas.

Mereka memotong umpatan tersebut demi menurunkan rating dari R ke PG-13-sebuah bukti bahwa pertimbangan ekonomi sering kali memengaruhi sensor berbanding lurus dengan konten film itu sendiri.

3. The Exorcist (1973) - Beda Standar Bioskop dan Televisi

Cuplikan adegan Ellen Burstyn dalam film The Exorcist (1973).Cuplikan adegan Ellen Burstyn dalam film The Exorcist (1973). Foto: Dok. Ist

Sutradara William Friedkin mengejutkan penonton dunia lewat The Exorcist dan membangkitkan kembali genre horor supernatural.

Karakter Regan yang kesurupan mengantarkan film ini meraih rating R di bioskop. Namun, Friedkin harus melakukan pemotongan adegan tambahan untuk penayangan perdananya di televisi pada 1980.

Semua kata-kata kasar harus dipotong, tetapi anehnya, konten grafis yang terbilang ekstrem tetap diizinkan tayang untuk pemirsa televisi.

Karena sosok pastor dalam film digambarkan sebagai pahlawan, narasi film ini dinilai mendukung gereja, sehingga penggambaran unsur setan masih dianggap dapat ditoleransi.

4. The Devils (1971) - Dilarang Puluhan Tahun

The Devils (1971)The Devils (1971) Foto: Dok. Ist

Sutradara kenamaan Ken Russell diberikan kebebasan penuh saat menggarap The Devils, yang mengangkat kisah persekusi politik terhadap pastor Katolik Urbain Grandier di Prancis abad ke-17.

Namun, perpaduan antara konten bernuansa seksual dan kritik terhadap agama membuat lembaga penyiaran BBC menahannya selama bertahun-tahun.

Film ini memicu kontroversi hebat di kalangan kritikus hingga akhirnya diarsip/dilarang selama puluhan tahun. Saat akhirnya dirilis kembali, The Devils mendapat pujian atas keberaniannya menantang norma, akting para pemain yang kuat, serta tata panggung yang memukau.

5. The Dreamers (2003) - Standar Ganda Sensor Amerika

The DreamersThe Dreamers Foto: Dok. Ist

Dua setengah menit adegan eksplisit dalam The Dreamers harus dipotong agar film tersebut terhindar dari rating NC-17 saat dirilis di Amerika Serikat.

Film karya Bernardo Bertolucci yang dibintangi Michael Pitt muda ini berlatar belakang gejolak aktivisme mahasiswa di Paris 1968.

Fokus lembaga sensor Amerika yang lebih sensitif terhadap konten seksual dibandingkan kekerasan selalu menjadi tanda tanya besar bagi para pembuat film Eropa.

Bertolucci sendiri kabarnya menolak keras pemotongan adegan untuk versi penayangan di Amerika Serikat tersebut.

6. Henry & June (1990) - Pelopor Rating NC-17

Henry & June (1990)Henry & June (1990) Foto: Dok. Ist

Penulis Henry Miller sudah lama dikenal sebagai figur kontroversial dalam sejarah sastra Amerika lewat karya-karyanya yang sarat batas kebebasan berpendapat.

Film Henry & June mengangkat kisah hubungannya dengan sang istri dan kekasih gelapnya di Paris.

Pada 27 September 1990, film ini mencatatkan sejarah sebagai film pertama yang mendapatkan klasifikasi rating NC-17 (kategori baru yang menggantikan rating X).

Salah satu adegan di bawah jembatan Paris antara karakter Henry dan Anaïs Nin dianggap terlalu berani dan hanya bisa lolos tanpa sensor jika ditayangkan di Eropa.

7. Irréversible (2002) - Pengalaman Menonton yang Menantang

Irréversible (2002)Irréversible (2002) Foto: Dok. Ist

Disutradarai oleh sutradara avant-garde asal Argentina, Gaspar Noé, Irréversible hadir dengan struktur alur mundur yang mendobrak aturan sinema konvensional.

Adegan pembukanya langsung menyajikan klimaks cerita di mana karakter Marcus (Vincent Cassel) mendatangi klub malam untuk membalas dendam atas pemerkosaan istrinya (Monica Bellucci).

Adegan trauma yang dialami karakter Bellucci dibuat sangat panjang dan intens hingga membuat banyak penonton tak sanggup menyaksikannya.

Penayangan film ini di Amerika Serikat hadir dengan peringatan keras bagi para penonton sebelum kredit pembukanya yang khas dimulai.

(ass/dar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO