7 Film Animasi Terbaik dari Pixar

Asep Syaifullah
|
detikPop
Disney/PIXARs animated feature, WallE is the story of one robots comic adventures as he chases his dream across the galaxy.
Foto: Dok. Pixar
Jakarta - Pixar Animation Studios telah puluhan tahun memimpin industri animasi global lewat cerita yang tidak hanya menghibur anak-anak, tetapi juga menyentuh hati penonton dewasa.

Kombinasi inovasi teknologi, kedalaman emosi, serta penulisan naskah yang matang membuat karya-karyanya selalu dikenang sepanjang masa.

Berikut 7 film animasi Pixar terbaik beserta alasan mengapa karya-karya ini layak menyandang predikat yang terbaik:

Toy Story (1995)

Toy Story 5 (2026).Toy Story 5 (2026). Foto: Dok. Pixar

Petualangan Woody, seekor boneka koboi favorit, yang merasa posisinya terancam saat pemiliknya mendapat mainan baru yang canggih, Buzz Lightyear.

Film ini adalah sejarah. Sebagai film animasi komputer berdurasi panjang pertama di dunia, Toy Story membuktikan bahwa teknologi CGI dapat membawa jiwa dan karakter yang amat hidup.

Naskahnya jenius dalam mengeksplorasi rasa cemburu, penerimaan diri, dan konsep loyalitas dari sudut pandang sebuah mainan.

Finding Nemo (2003)

Finding NemoFinding Nemo Foto: Dok.Istimewa

Perjuangan Marlin, seekor ikan badut yang penakut, mengarungi samudra lepas bersama Dory untuk menyelamatkan anaknya, Nemo, yang ditangkap oleh penyelam.

Finding Nemo menetapkan standar baru untuk visual animasi bawah air yang sangat detail dan dinamis pada zamannya.

Dari sisi narasi, film ini menyentuh dinamika hubungan orang tua dan anak, mengajarkan pentingnya melepas rasa takut serta memberi kepercayaan kepada anak untuk tumbuh mandiri.

WALL-E (2008)

Wall-EWall-E Foto: Dok. Pixar

Berlatar ratusan tahun di masa depan saat Bumi sudah mati dan ditinggalkan manusia, WALL-E-robot pembersih sampah yang kesepian-menemukan benih kehidupan dan jatuh cinta pada robot canggih bernama EVE.

Pixar mengambil risiko besar dengan menyajikan 30 menit pertama film hampir tanpa dialog sama sekali, bergantung sepenuhnya pada animasi dan ekspresi karakter.

WALL-E adalah masterclass dalam penceritaan visual yang menyentil isu krisis lingkungan, konsumerisme, dan ketergantungan manusia pada teknologi secara elegan.

Up (2009)

"UP"(L-R) Russell and Carl Fredricksen Disney/Pixar. All Rights Reserved. Foto: Dok. Pixar

Carl Fredricksen, seorang kakek tua yang murung, mewujudkan janji mendiang istrinya untuk pergi ke Paradise Falls dengan menerbangkan rumahnya menggunakan ribuan balon udara, didampingi seorang anak pramuka bernama Russell.

Sekuens pembuka berdurasi 4 menit yang menggambarkan perjalanan hidup Carl dan Ellie dianggap sebagai salah satu adegan terbaik sepanjang sejarah sinema.

Film ini berhasil menyeimbangkan momen kepedihan atas kehilangan dengan humor dan petualangan absurd secara luar biasa.

Inside Out (2015)

Poster 'Inside Out'Poster 'Inside Out' Foto: IMDB

Menceritakan dinamika lima emosi dasar-Joy, Sadness, Anger, Fear, dan Disgust-di dalam pusat kendali otak seorang anak berusia 11 tahun bernama Riley yang sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Konsepnya sangat jenius dan berani karena mempersonifikasikan kerja psikologis manusia secara konseptual.

Film ini dipuji luas oleh para ahli kesehatan mental karena menyampaikan pesan penting bahwa rasa sedih bukanlah hal buruk, melainkan emosi valid yang dibutuhkan manusia untuk bertumbuh.

Coco (2017)

Film 'Coco' garapan PixarFilm 'Coco' garapan Pixar Foto: Istimewa

Miguel, seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi musisi meski dilarang keluarganya, secara tidak sengaja terlempar ke World of the Dead pada perayaan DΓ­a de los Muertos di Meksiko.

Coco adalah perayaan budaya yang luar biasa indah dengan visual warna-warni yang megah dan lagu ikonik "Remember Me".

Film ini menyentuh tema universal tentang ikatan keluarga, rasa hormat pada leluhur, serta bagaimana ingatan orang-orang tercinta menjaga mereka tetap hidup di hati kita.

Ratatouille (2007)

RatatouilleRatatouille Foto: istimewa

Remy, seekor tikus dengan indra penciuman dan pengecap yang tajam, bermimpi menjadi koki hebat di Paris dan bekerja sama secara tersembunyi dengan seorang pemuda pembersih dapur bernama Linguini.

Lewat premis yang tampaknya tidak masuk akal, film ini melahirkan filosofi ikonik bahwa "bukan siapa saja bisa menjadi seniman hebat, tetapi seniman hebat bisa datang dari mana saja".

Animasi tekstur makanan, atmosphere kota Paris, dan monolog klimaks dari kritikus Anton Ego menjadikan film ini sebuah karya seni yang amat berkelas.

(ass/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO