Bikin Balita Ketagihan, CoComelon Gandeng UCLA untuk Perbaiki Konten
Namun, animasi super populer ini juga sering kali panen kritikan di berbagai forum pola asuh (parenting) seperti Reddit.
Banyak orang tua mengeluhkan bahwa tayangan ini terlalu menstimulasi (overstimulating), membuat anak kecanduan gawai, hingga dituding memicu keterlambatan bicara (speech delay) karena ritme gambarnya yang dinilai terlalu cepat untuk diproses otak anak.
Stigma negatif ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2020, seorang kolumnis di media The Guardian bahkan sempat menyebut CoComelon "kayak kokain" bagi anak-anak usia prasekolah.
Di media sosial, sempat viral video bayi-bayi yang langsung berlari kencang menuju televisi begitu mendengar lagu tema instrumen marimba khas acara tersebut.
Ketakutan publik semakin diperparah oleh laporan The New York Times pada 2022 yang membongkar bahwa tim produksi sengaja menguji video mereka langsung ke balita agar tayangannya bisa se-menarik mungkin dan sukses "mengunci" perhatian anak.
Dilansir dari LA Times, untuk menghadapi gelombang kritik dan kekhawatiran para orang tua tersebut, Moonbug Entertainment selaku studio di balik CoComelon akhirnya mengambil langkah tidak biasa.
Mereka menggandeng lembaga think tank psikologi anak dari University of California, Los Angeles (UCLA)-yaitu Center for Scholars and Storytellers-untuk membuktikan komitmen mereka sekaligus merombak formula tayangan agar lebih ramah bagi tumbuh kembang anak.
Sebagai perusahaan hiburan swasta yang biasanya menutup rapat dapur produksinya, Moonbug melakukan gebrakan tak biasa dengan merilis panduan resmi pengembangan anak (Moonbug Learning Principles Framework) di situs resmi mereka pada pertengahan Juni 2026.
Bao Nguyen, Head of Communications Moonbug, mengungkapkan bahwa perusahaan telah mulai memasukkan hasil riset dari para ahli UCLA ini ke dalam proses kreatif mereka sejak akhir 2025.
Panduan baru ini berfokus pada visual yang lebih adaptif serta menekankan pentingnya membantu anak-anak menghadapi momen kehidupan nyata, membentuk hubungan positif dengan pengasuh, belajar lewat bermain, serta menampilkan keberagaman karakter (seperti karakter Nina yang berdarah Meksiko-Amerika, Cece yang Korea-Amerika, dan Cody yang merupakan anak kulit hitam).
Salah satu contoh nyata dari kolaborasi bertahun-tahun dengan UCLA ini adalah episode bertajuk "Fast Little Fishy Splash Water Park Adventure" yang rilis di YouTube pada Mei 2026.
Dalam episode tersebut, karakter utama, JJ, diceritakan sempat takut bermain air sebelum akhirnya berhasil melawan rasa takutnya berkat dukungan ibu dan teman-temannya.
"Ini adalah contoh hebat dari apa yang coba kami lakukan," ujar Rich Hickey, Chief Creative Officer Moonbug.
"Penceritaan yang inklusif dan belajar lewat bermain-semuanya terlihat jelas dalam episode tersebut."
Saat dimintai keterangan mengenai kritik bahwa CoComelon bergerak terlalu cepat dan bikin anak kecanduan, Rich Hickey menegaskan bahwa studio selalu percaya konten mereka sesuai dengan usia target penonton (age-appropriate).
Ia menjelaskan bahwa Moonbug memproduksi variasi video yang disesuaikan dengan ritme aktivitas harian anak. Ada video beritme lambat yang dirancang khusus untuk mengantarkan anak tidur (bedtime), dan ada pula video beritme lebih cepat yang sengaja dibuat untuk memicu anak bergerak aktif secara fisik.
Di balik kontroversinya, CoComelon adalah salah satu produk industri hiburan paling sukses dan bernilai tinggi dalam sejarah modern. Berawal dari video animasi alfabet sederhana yang diunggah oleh sutradara komersial Jay Jeon pada 2006, karakter balita JJ baru diperkenalkan pada 2017.
Hanya dalam beberapa tahun, performanya melesat tajam:
2020: CoComelon resmi menjadi saluran YouTube yang paling banyak ditonton di seluruh dunia, dengan rata-rata 3,5 miliar penayangan per bulan.
Ekspansi Netflix: Pada tahun yang sama, tayangan ini memulai debutnya di Netflix dan langsung memecahkan berbagai rekor peringkat (ratings).
Akuisisi Raksasa: Pada 2020 pula, hak atas CoComelon dibeli oleh perusahaan hiburan asal London, Moonbug.
Investasi Rp53 Triliun: Moonbug kemudian dicaplok oleh Candle Media-perusahaan yang dipimpin oleh mantan eksekutif top Disney, Kevin Mayer dan Tom Staggs-dengan nilai fantastis mencapai 3 miliar dolar AS (sekitar Rp53,34 triliun).
Saat ini, platform streaming raksasa Disney+ bahkan telah berhasil mengamankan hak tayang eksklusif untuk platform mereka.
Melalui kolaborasi barunya dengan para peneliti UCLA, Moonbug berharap dapat terus mempertahankan imperium bisnis digital ini sembari membangun kembali rasa percaya para orang tua di seluruh dunia.
