Penjualan Tiket Supergirl Melorot di Bawah Black Widow

Asep Syaifullah
|
detikPop
Cuplikan adegan dalam trailer Supergirl (2026).
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Langkah awal film kedua dari semesta baru DC Studios (DCU), Supergirl, tampaknya harus menghadapi tantangan berat di tangga box office.

Berdasarkan data penjualan tiket 24 jam pertama di Amerika Serikat, performa pre-sale film yang dibintangi Milly Alcock ini tercatat berada di bawah performa film era pandemi Marvel, Black Widow.

Menurut laporan Portal Box Office, Supergirl mengantongi sekitar 110.000 tiket dalam satu hari pertama penjualan, atau setara dengan pendapatan kasar sekitar USD 1,75 juta atau Rp 31,76 miliar.

Angka ini tertinggal dari beberapa film pahlawan super lainnya saat memulai pra-penjualan di titik yang sama:
Superman (2025): 325.000 tiket (USD 5 juta)
Black Widow (2021): 175,000 tiket (USD 2,4 juta)
Thunderbolts*(2025): 160.000 tiket (USD 2,5 juta)
Supergirl (2026): 110.000 tiket (USD 1,75 juta)

Satu-satunya film pahlawan super skala besar yang berhasil dilewati oleh Supergirl hanyalah The Marvels (2023), yang kala itu menjual 95.000 tiket di hari pertama sebelum akhirnya berujung menjadi salah satu kerugian finansial terbesar dalam sejarah Marvel.

Berdasarkan ritme pra-penjualan saat ini, analis industri memproyeksikan Supergirl akan membuka pekan pertamanya di pasar domestik (AS) pada angka sekitar USD 55 juta atau Rp998 miliar.

Estimasi ini sejalan dengan prediksi pelacakan jangka panjang (long-range tracking) yang menempatkan batas atas performa film ini di kisaran angka tersebut.

Proyeksi USD 55 juta ini langsung memicu kekhawatiran karena angka tersebut sama persis dengan debut domestik The Flash (2023). Film tersebut sempat dibuka dengan angka yang sama sebelum akhirnya tumbang di bioskop global dan mencatatkan kerugian besar bagi Warner Bros.

Meskipun situasi ini memberikan tekanan bagi DC Studios yang dipimpin James Gunn, Supergirl memiliki sedikit ruang bernapas dibanding kasus The Flash.

Film ini dilaporkan menghabiskan anggaran produksi bersih sekitar USD 170 juta hingga USD 175 juta-masih lebih rendah daripada The Flash yang memakan biaya di atas USD 200 juta.

Dengan asumsi biaya produksi tersebut, film yang disutradarai Craig Gillespie ini diperkirakan membutuhkan pendapatan global sekitar USD 315 juta hingga USD 425 juta (bergantung pada kalkulasi biaya pemasaran) untuk bisa mencapai titik impas.

Menjelang perilisannya pada 26 Juni 2026, tantangan terbesar bagi Supergirl adalah menarik minat penonton kasual di luar basis penggemar inti komik DC. Terlebih lagi, jendela rilis musim panas kali ini sangat padat dan kompetitif.

Supergirl harus berebut layar IMAX dan perhatian penonton keluarga melawan judul-judul raksasa seperti Toy Story 5 serta animasi Minions.


(ass/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO