Heboh James Cameron Digugat gegara Dituding Ambil Wajah Aktris Ini untuk Avatar
Sutradara legendaris James Cameron, bersama Disney dan Lightstorm Entertainment, secara resmi digugat oleh aktris dan aktivis keturunan Quechua-Huachipaeri, Q'orianka Kilcher.
Gugatan setebal 99 halaman yang diajukan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat tersebut menuduh Cameron telah melakukan tindakan yang disebut sebagai "pencurian identitas biometrik secara industri" terhadap fitur wajah Kilcher saat ia masih berusia remaja.
Inti dari gugatan ini berawal pada 2005. Saat itu, Kilcher yang baru berusia 14 tahun mencuri perhatian dunia lewat perannya sebagai Pocahontas dalam film The New World karya Terrence Malick.
Kilcher mengeklaim bahwa Cameron mengekstraksi, mereplikasi, dan menggunakan kemiripan wajahnya dari foto-foto promosi di harian Los Angeles Times untuk menciptakan karakter utama Na'vi, Neytiri.
Meskipun karakter Neytiri diperankan melalui teknologi motion-capture oleh Zoe SaldaΓ±a, gugatan tersebut menegaskan bahwa struktur dasar wajah, proporsi biometrik, dan karakteristik unik Neytiri diambil langsung dari wajah Kilcher tanpa izin maupun kompensasi.
Yang membuat posisi hukum James Cameron tersudut adalah pengakuannya sendiri. Dalam sebuah wawancara 2024 dengan kanal YouTube asal Prancis, Konbini, Cameron secara terbuka membahas proses desain awal Neytiri sambil menunjukkan sketsa aslinya.
"Sumber untuk [sketsa] ini adalah sebuah foto yang ada di L.A. Times sebagai bagian dari promosi 'The New World'. Dia adalah aktris muda bernama Q'orianka Kilcher," ujar Cameron dalam video tersebut.
Ia bahkan secara spesifik menunjuk bagian bawah wajah sketsa itu dan berkata, "Ini sebenarnya adalah bagian bawah wajahnya. Dia memiliki wajah yang sangat menarik."
Selain video tersebut, dokumen gugatan mengungkap adanya sebuah "hadiah kejutan" yang diberikan Cameron kepada Kilcher di kantor produksinya bertahun-tahun kemudian.
Hadiah tersebut berupa cetakan sketsa Neytiri yang telah dibingkai dan ditandatangani oleh Cameron dengan pesan tertulis:
"Kecantikanmu adalah inspirasi awal saya untuk Neytiri. Sayang sekali saat itu kamu sedang syuting film lain. Lain kali ya."
Kilcher mengaku merasa bingung dengan catatan tersebut pada saat itu. Meskipun ia sempat mencoba menjalin komunikasi profesional dengan Cameron selama bertahun-tahun, gugatan menyatakan bahwa tidak ada tawaran kerja atau kompensasi nyata yang pernah diberikan.
Sebagai seorang aktivis yang vokal membela hak-hak masyarakat asli (Indigenous), Kilcher menyoroti adanya kontradiksi moral yang tajam. Waralaba Avatar selama ini dibranding sebagai film yang bersimpati pada perjuangan suku asli melawan eksploitasi korporasi.
Namun, pengacara Kilcher, Arnold P. Peter, menyebut tindakan Cameron sebagai bentuk eksploitasi diam-diam.
"Hasilnya adalah sebuah waralaba film yang sangat menguntungkan dan mempresentasikan diri seolah-olah bersimpati pada perjuangan masyarakat adat, sementara secara diam-diam mengeksploitasi seorang pemuda Pribumi asli di balik layar," tulis dokumen gugatan tersebut.
Gugatan ini juga menyinggung sejarah panjang kritik publik terhadap Cameron mengenai caranya merepresentasikan kelompok adat dalam film, yang kini dianggap semakin diperparah dengan dugaan penggunaan data biometrik tanpa izin.
Kilcher menuntut ganti rugi atas pelanggaran hak publisitas, penggunaan identitas biometrik yang tidak sah, serta pembagian keuntungan dari waralaba Avatar yang telah meraup miliaran dolar secara global.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Disney, Lightstorm Entertainment, maupun perwakilan James Cameron belum memberikan pernyataan resmi.
Namun, kasus ini diprediksi akan menjadi preseden penting di Hollywood terkait batasan antara "inspirasi artistik" dan "pencurian identitas digital" di era teknologi CGI yang semakin canggih.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
