Habiskan Budget Rp 3,2 T, Desert Warrior Cuma Dapat Rp 10 Juta per Bioskop
Film epik sejarah Desert Warrior, yang diproduksi dengan ambisi besar dan anggaran raksasa mencapai $208 juta (sekitar Rp3,2 triliun), hancur lebur di pasar Amerika Serikat pada pekan perdana penayangannya.
Alih-alih menjadi pesaing berat bagi film-film musim panas, proyek ambisius ini justru mencatatkan angka kunjungan yang nyaris nol di berbagai wilayah, memicu pertanyaan besar mengenai strategi distribusi dan masa depan film kolosal berbiaya tinggi.
Data yang dirilis baru-baru ini (via News.com) menunjukkan angka yang sangat menyakitkan bagi pihak investor. Dari sekitar 2.300 layar bioskop yang menayangkan film ini di Amerika Serikat, Desert Warrior hanya mampu mengantongi pendapatan rata-rata $647 atau sekitar Rp10,2 juta per bioskop sepanjang akhir pekan pembukaan.
Jika ditotal, film ini hanya meraup $1,5 juta di pasar domestik. Sebagai perbandingan, film dengan anggaran serupa biasanya membutuhkan pendapatan pembukaan minimal $60 juta hingga $80 juta hanya untuk memiliki peluang mencapai titik impas.
Dengan angka saat ini, Desert Warrior secara praktis telah kehilangan ratusan juta dolar bahkan sebelum minggu pertamanya berakhir.
Kegagalan Desert Warrior sebenarnya sudah mulai tercium sejak proses produksinya yang bermasalah. Dibintangi oleh Anthony Mackie (pemeran Captain America yang baru) dan Aiysha Hart, film ini disutradarai oleh Rupert Wyatt (Rise of the Planet of the Apes).
Proyek ini didanai oleh MBC Studios dan diambil gambarnya di Neom serta Tabuk, Arab Saudi, mulai akhir 2021. Namun, film ini mengalami penundaan bertahun-tahun di tahap pasca-produksi.
"Film ini seperti menghilang dari radar. Ketika sebuah film dengan biaya sebesar itu tertunda selama hampir lima tahun, biasanya itu pertanda ada masalah besar di ruang pengeditan atau ketidakyakinan pihak distributor," ungkap seorang analis box office.
Ada beberapa alasan mengapa film ini berakhir menjadi bencana finansial:
1. Kurangnya Pemasaran (Marketing): Meskipun memiliki bintang besar, strategi promosi film ini hampir tidak terasa. Banyak penonton yang tidak menyadari bahwa film ini telah dirilis di bioskop.
2. Kehilangan "Relevansi": Tema epik sejarah yang diusungnya gagal bersaing dengan tren film saat ini yang lebih didominasi oleh biopik musik (seperti Michael) dan sekuel franchise besar.
3. Kualitas yang Dipertanyakan: Minimnya ulasan positif dari kritikus menjelang perilisan membuat calon penonton enggan melangkahkan kaki ke bioskop.
Dengan hasil ini, Desert Warrior kini resmi bersanding dengan film-film gagal legendaris lainnya seperti John Carter, The 13th Warrior, dan 47 Ronin.
Bagi industri film di Arab Saudi yang mencoba menembus pasar global, hasil ini merupakan pukulan telak bagi ambisi mereka untuk memproduksi konten blockbuster internasional.
Bagi Anthony Mackie, ini adalah noda besar dalam portofolio kariernya di tengah persiapannya untuk film Marvel mendatang. Para ahli memprediksi Desert Warrior akan ditarik dari peredaran bioskop lebih cepat dari jadwal dan segera dilempar ke layanan video-on-demand (VOD) sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa pendapatan yang ada.
Kegagalan Desert Warrior menjadi pengingat keras bagi studio film bahwa nama besar sutradara dan anggaran tanpa batas tidak menjamin kesuksesan jika tidak dibarengi dengan strategi rilis yang matang dan narasi yang kuat.
Di saat Michael memecahkan rekor kesuksesan, Desert Warrior justru menjadi simbol peringatan tentang risiko besar di balik industri layar lebar.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
