10 Film Perang Terbaik dari Luar Amerika
Namun ada beberapa film di luar Amerika yang sering dianggap lebih baik karena mereka berani mengeksplorasi rasa bersalah, kekalahan, dan dampak psikologis jangka panjang, sementara film perang Amerika sering kali berakhir dengan nada kemenangan atau heroisme yang terlalu dramatis.
Penasaran film apa saja? Berikut judul-judulnya:
1. Das Boot (1981)
Das Boot (1981) Foto: Dok. Ist |
Film ini adalah mahakarya dalam membangun suasana klaustrofobik. Sebagian besar durasi film dihabiskan di dalam ruang sempit kapal selam U-boat.
Penonton diajak merasakan ketegangan yang menyesakkan: suara tetesan air, derit besi yang tertekan tekanan air dalam, hingga bau keringat dan ketakutan para awaknya.
Berbeda dengan film Amerika yang sering menonjolkan patriotisme, Das Boot justru memperlihatkan sisi kemanusiaan tentara Jerman yang terjebak dalam tugas yang mustahil, di mana musuh terbesar mereka bukan hanya kapal lawan, melainkan kebosanan dan maut yang mengintai di balik dinding besi.
2. Come and See (1985)
Come and See (1985) Foto: Dok. Ist |
Banyak kritikus menyebut film ini sebagai film perang paling jujur yang pernah dibuat. Alih-alih menggunakan efek CGI yang megah, sutradara Elem Klimov menggunakan realisme yang brutal (bahkan menggunakan peluru asli dalam beberapa adegan).
Kita melihat perubahan wajah protagonis muda, Florya, dari seorang bocah yang bersemangat menjadi pria tua yang hancur secara mental dalam hitungan hari. Film ini adalah "horor perang" yang sesungguhnya, memperlihatkan kekejaman Nazi di Belarusia tanpa sensor sedikit pun.
3. All Quiet on the Western Front (2022)
Film All Quiet on the Western Front. Foto: dok. Netflix |
Meskipun ada versi tahun 1930 (Amerika), versi Jerman terbaru ini memberikan perspektif yang jauh lebih kelam tentang Perang Dunia I. Fokus utamanya adalah pada kesia-siaan perang.
Film ini memperlihatkan kontras yang tajam antara para jenderal yang makan mewah di kereta yang nyaman, sementara ribuan pemuda mati dengan cara yang mengerikan di parit hanya untuk merebut tanah sejauh beberapa meter. Visualnya sangat mentah, kotor, dan menghancurkan segala bentuk romantisasi kepahlawanan.
4. Grave of the Fireflies (1988)
Cuplikan adegan di anime Grave of the Fireflies. Foto: Dok. Studio Ghibli |
Film animasi ini membuktikan bahwa kartun bisa menyampaikan pesan yang jauh lebih berat daripada film *live-action*. Melalui kisah kakak beradik Seita dan Setsuko, Studio Ghibli menyoroti "biaya manusia" dari perang.
Film ini tidak fokus pada tentara yang berperang, melainkan pada warga sipil yang terlupakan dan kelaparan. Ini adalah tamparan keras bagi sejarah, menunjukkan bagaimana kebanggaan nasional seringkali dibayar dengan nyawa anak-anak yang tak berdosa.
5. Life is Beautiful (1997)
Life is Beautiful (1997) Foto: Dok. Ist |
Keistimewaan film ini terletak pada percampuran genrenya yang berisiko tinggi: komedi dan tragedi Holocaust. Roberto Benigni memerankan seorang ayah yang berpura-pura bahwa kamp konsentrasi adalah sebuah permainan besar demi melindungi mental anaknya.
Di sinilah letak kekuatannya; film ini menunjukkan bahwa di tengah kekejaman yang paling tidak manusiawi sekalipun, kasih sayang dan imajinasi manusia adalah bentuk perlawanan yang paling kuat.
6. Quo Vadis, Aida? (2020)
Quo Vadis, Aida? (2020) Foto: Dok. Ist |
Film ini sangat kuat karena didasarkan pada kejadian nyata pembantaian Srebrenica tahun 1995. Penonton dibawa ke dalam kepanikan Aida, seorang penerjemah yang mengetahui apa yang akan terjadi, namun terhambat oleh birokrasi internasional (PBB) yang tidak berdaya.
Ketegangannya sangat nyata dan membuat frustrasi, menyoroti kegagalan dunia internasional dalam mencegah genosida di zaman modern.
7. Ivan's Childhood (1962)
Ivan's Childhood (1962) Foto: Dok. Ist |
Tarkovsky menggunakan pendekatan puitis dan surealis untuk menceritakan perang. Melalui mimpi-mimpi Ivan yang indah, kita melihat kontras dengan realitas perang yang berlumpur dan gelap.
Film ini mengeksplorasi bagaimana perang mencuri "kemurnian" seorang anak. Ivan bukan lagi seorang anak kecil; dia adalah alat perang yang penuh dendam, dan hal itulah yang paling tragis dari keseluruhan ceritanya.
8. Downfall / Der Untergang (2004)
Der Untergang (2004) Foto: Dok. Ist |
Film ini legendaris karena akting Bruno Ganz yang luar biasa sebagai Adolf Hitler. Film ini tidak mencoba memaafkan Hitler, melainkan "memanusiakannya" dalam arti menunjukkan sisi kerapuhan, kemarahan, dan kegilaannya saat dunianya runtuh.
Dengan melihat Hitler sebagai manusia (bukan monster kartun), film ini menjadi jauh lebih menakutkan karena mengingatkan kita bahwa kejahatan sebesar itu dilakukan oleh manusia nyata.
9. La Grande Illusion (1937)
La Grande Illusion (1937) Foto: Dok. Ist |
Dibuat saat Eropa di ambang Perang Dunia II, film ini adalah pesan perdamaian yang sangat kuat. Fokusnya adalah pada hubungan antara tawanan Prancis dan penjaga Jerman.
Film ini membahas tentang kasta sosial yang melampaui batas negara; seorang bangsawan Prancis mungkin merasa lebih dekat dengan bangsawan Jerman daripada dengan prajuritnya sendiri yang berasal dari kelas pekerja. Ini adalah studi karakter yang sangat cerdas tentang kemanusiaan.
10. The 9th Company (2005)
The 9th Company (2005) Foto: Dok. Ist |
Sering disebut sebagai "Full Metal Jacket" versi Rusia. Film ini menceritakan tentang invasi Soviet ke Afghanistan. Bagian pertamanya fokus pada latihan militer yang keras, dan bagian keduanya adalah pertempuran yang brutal di pegunungan.
Yang membuatnya unggul adalah penggambarannya tentang pengkhianatan politik; bagaimana para tentara ini berjuang mati-matian untuk sebuah negara (Uni Soviet) yang saat itu sedang dalam proses keruntuhan.
(ass/tia)





















































