The Bell: Panggilan untuk Mati Hadirkan Teror dan Ikon Horor Baru

Pingkan Anggraini
|
detikPop
Ratu Sofia dan Bhisma untuk film The Bell: Panggilan untuk Mati
Foto: Bayu/The Bell: Panggilan untuk Mati
Jakarta - Menjelang penayangannya di bioskop pada 7 Mei 2026, film horor The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan teror baru yang mengangkat kekuatan folklore lokal. Ini merupakan hasil kolaborasi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions.

Pada film ini juga menawarkan pendekatan berbeda dengan menghidupkan sosok Penebok sebagai ikon horor yang mencekam dan siap menghantui tahun ini.

Di tengah tren film horor Indonesia yang terus mendominasi industri perfilman, The Bell: Panggilan untuk Mati hadir dengan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan instan.

Film ini mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi, menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat.

Nah pada sosok Penebok di film ini membangun atmosfer yang berangkat dari mitos dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah arus globalisasi konten.

Film ini bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat, namun menjadi awal teror ketika dicuri oleh sekelompok anak muda demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi, membawa ancaman yang perlahan semakin nyata.

Di tengah situasi yang kian mencekam, Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Lebih dari sekadar menghadirkan ketakutan, The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan relevansi dengan realitas masa kini. Fenomena generasi digital yang haus akan viralitas menjadi salah satu lapisan cerita yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton.

Keputusan para karakter yang menjadikan hal mistis sebagai konten hiburan menjadi refleksi atas batas yang semakin kabur antara dunia nyata dan sensasi digital, sekaligus menghadirkan konsekuensi yang tidak terduga.

Sutradara The Bell, Jay Sukmo membawa pendekatan yang cukup berbeda dalam film ini dengan menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton.

Lewat pendekatan tersebut, Jay Sukmo juga ingin menghadirkan teror yang lebih halus dan terasa, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat.

"Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya," ujarnya. Pendekatan ini membuat filmnya terasa lebih imersif.

Melalui film ini, sosok Penebok diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar.

Dengan visual yang khas dan latar cerita yang kuat, Penebok dihadirkan sebagai simbol ketakutan yang berbeda, bukan hanya menyeramkan, tetapi juga memiliki kedalaman budaya.

Selain penayangannya di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12 sampai 20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan film The Bell: Panggilan untuk Mati ke sineas global.

So, yang mau nonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop, film ini bakal tayang mulai 7 Mei 2026 ya.


(pig/ass)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO