Sony Pictures PHK Masal Ratusan Karyawan
Di bawah kepemimpinan CEO baru, Ravi Ahuja, perusahaan ini resmi memangkas ratusan posisi di berbagai divisi film, televisi, dan operasional korporat secara global.
Langkah ini menandai manuver besar pertama Ahuja sejak mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan dari Tony Vinciquerra pada awal tahun ini.
Dilansir dari Variety (8/4) melalui memo internal yang dikirimkan kepada seluruh staf pada Selasa (7/4/2026), Ravi Ahuja menjelaskan bahwa keputusan sulit ini merupakan bagian dari upaya untuk menjadikan Sony perusahaan yang lebih "lincah" dalam menghadapi pasar yang kian kompetitif.
"Industri kita terus mengalami perubahan yang sangat cepat. Untuk tetap unggul, kita harus beroperasi dengan fokus, kecepatan, dan keselarasan yang lebih besar. Hal ini menuntut kita untuk menyelaraskan organisasi dengan ke mana arah bisnis ini akan pergi bukan di mana bisnis ini pernah berada,"* tegas Ahuja dalam memo tersebut.
Langkah ini mencerminkan filosofi Ahuja untuk memprioritaskan kapabilitas unik Sony yang tidak dimiliki pesaingnya, terutama integrasi dengan ekosistem teknologi dan hiburan Sony Group yang lebih luas.
Laporan dari LA Times merincikan bahwa pengurangan staf ini tidak terpusat pada satu area saja, melainkan menyisir berbagai lini:
Sony Pictures Television (SPT): Divisi produksi dan distribusi TV internasional mengalami penyesuaian untuk merespons melambatnya pasar sindikasi tradisional.
Motion Picture Group: Meskipun sukses besar di box office belakangan ini, unit film layar lebar tetap mengalami perampingan staf pendukung.
Unit Korporat: Departemen seperti pemasaran, sumber daya manusia, dan keuangan turut terdampak guna mengurangi tumpang tindih birokrasi.
Pixomondo: Unit efek visual (VFX) pemenang Emmy milik Sony dikabarkan mengalami perubahan struktur operasional yang signifikan sebagai bagian dari efisiensi ini.
PHK ini bukanlah sekadar pemotongan biaya demi bertahan hidup, melainkan pengalihan sumber daya ke sektor-sektor yang lebih menguntungkan. Sony kini melipatgandakan taruhannya pada:
1. Ekspansi Anime: Melalui Crunchyroll Sony melihat potensi pertumbuhan masif di pasar global yang tidak terikat pada pola distribusi Hollywood konvensional.
2. Sinergi PlayStation: Sony semakin fokus pada konvergensi antara film dan game (seperti kesuksesan The Last of Us dan Uncharted).
3. Model "Arms Dealer": Berbeda dengan Disney atau Warner Bros. yang memiliki layanan streaming boros biaya, Sony tetap pada strateginya sebagai penyedia konten (penjual senjata) bagi platform streaming lain seperti Netflix dan Disney+.
Langkah Sony ini menjadi sinyal kuat 2026 adalah tahun "pembersihan" bagi studio besar. Setelah hiruk-pikuk pemulihan pasca-pandemi dan mogok kerja penulis/aktor tahun lalu, perusahaan media kini lebih memilih tim yang kecil namun terspesialisasi.
Bagi para pekerja di Culver City, pengumuman ini merupakan pil pahit. Namun bagi para investor, ini adalah bukti bahwa Sony serius untuk tetap menjadi pemain paling efisien dan menguntungkan di Hollywood tanpa harus terjebak dalam perang modal layanan streaming yang membara.
(ass/tia)











































