Terlalu Brutal! The Bride Bikin Bos Warner Bros Protes
Tapi sayangnya, bukan cuma karena deretan aktor kelas kakapnya kayak Christian Bale dan Jessie Buckley, melainkan karena hasil test screening-nya yang bikin penonton (dan pihak studio) jantungan.
Gyllenhaal, yang sukses besar lewat debutnya di The Lost Daughter, kali ini bener-bener mau "liar" dengan membawa kisah klasik Frankenstein ke level yang lebih gelap, berani, dan... cukup bikin mual.
Dilansir dari Variety (4/3) kabar yang beredar dari pemutaran uji coba rahasia baru-baru ini menyebutkan kalau suasana di dalam bioskop bener-bener tegang. Masalah utamanya? Penggambaran kekerasan seksual yang dianggap terlalu eksplisit.
Banyak penonton yang merasa adegan-adegannya terlalu "frontal" dan bikin nggak nyaman. Gyllenhaal sendiri nggak membantah hal ini. Dia mengakui kalau reaksi awal dari penonton emang keras banget.
"Ada kekerasan seksual. Ada kekerasan. Karena ini film studio besar, kami mengujinya berulang kali," kata Gyllenhaal.
"Kami mengadakan pemutaran besar-besaran di mal, di mana orang-orang datang untuk menontonnya, yang belum pernah saya ikuti sebelumnya sebagai aktris atau sutradara. Sangat menarik. Dan salah satu hal yang mereka angkat adalah kekerasan: Apakah terlalu kejam? Dan saya membicarakannya dengan seorang teman perempuan saya, yang berkata - dan dia tidak bermaksud meremehkan - 'Saya bertanya-tanya jika Anda seorang pria yang membuat film ini, apakah Anda akan memiliki respons yang sama.'"
Saking "ajaibnya" visi Maggie, kabarnya petinggi Warner Bros. sampai harus turun tangan buat "ngerem" imajinasi sang sutradara. Salah satu momen paling absurd yang bocor ke publik adalah instruksi tegas dari studio.
"Kamu nggak boleh memasukkan adegan Frankenstein menjilat muntahan hitam di leher sang pengantin wanita!"
The Bride (2026). Foto: Dok. Ist |
Bayangin, seliar apa imajinasi Maggie sampai bos studio harus ngasih instruksi se-spesifik itu? Pihak studio khawatir kalau film ini terlalu disturbing, ratingnya bakal hancur dan penonton umum nggak bakal berani datang ke bioskop.
Berlatar di Chicago tahun 1930-an, film ini bukan sekadar horor monster biasa. Maggie pengen nampilin semangat "Punk Rock" dan pemberontakan perempuan. Frankenstein (Christian Bale) minta tolong ke Dr. Euphronius buat menghidupkan kembali seorang wanita muda yang tewas dibunuh secara tragis.
Begitu si "Bride" (Jessie Buckley) ini hidup lagi, dia bukan jadi pendamping yang patuh. Dia malah punya jiwa pemberontak yang liar, melampaui apa yang bisa dikontrol oleh penciptanya. Dia jadi simbol kebebasan yang... yah, cukup brutal.
Gara-gara perdebatan panjang soal sensor dan editing ini, jadwal rilis film sempat mengalami penyesuaian. Tim produksi sekarang lagi kerja keras buat menyeimbangkan antara visi artistik Maggie yang idealis dengan standar kenyamanan penonton (dan aturan sensor studio).
Hasil akhirnya? Kita baru bisa buktiin sendiri pas film ini tayang di bioskop pada 6 Maret 2026.
(ass/tia)












































