Drama Scream 7: Pemecatan Melissa Barrera hingga Neve Campbell Naik Gaji

Asep Syaifullah
|
detikPop
Scream 7 (2026).
Foto: Dok. Paramount Pictures
Jakarta - Industri perfilman horor global sedang diguncang oleh drama yang tak kalah mencekam dari teror topeng Ghostface. Proyek ambisius Scream 7 kini resmi memasuki babak baru setelah mengalami serangkaian guncangan hebat yang memaksa pihak studio, Spyglass Media Group, melakukan perombakan total terhadap naskah dan jajaran pemain utamanya.

Setelah sempat berada di ambang ketidakpastian, titik terang muncul dengan kabar kembalinya sang legenda hidup franchise ini, Neve Campbell, sebagai Sidney Prescott.

Namun, di balik kembalinya sang bintang, tersimpan cerita tentang pemecatan, mundurnya aktor papan atas, hingga negosiasi gaji yang alot.

Kekacauan produksi ini bermula ketika Melissa Barrera, pemeran Sam Carpenter yang diproyeksikan sebagai wajah baru Scream, dipecat secara sepihak oleh studio.

Keputusan ini diambil menyusul unggahan Barrera di media sosial terkait isu kemanusiaan di Gaza yang dianggap kontroversial oleh pihak manajemen.

Tak butuh waktu lama bagi Scream 7 untuk menerima pukulan kedua. Jenna Ortega, yang popularitasnya sedang meroket lewat serial Wednesday, juga mengumumkan pengunduran dirinya dari proyek ini.

Meskipun alasan resminya karena bentrok jadwal syuting, banyak spekulasi beredar mundurnya Ortega adalah bentuk solidaritas terhadap rekan mainnya, Melissa Barrera.

Kehilangan dua tokoh utama di tengah jalan membuat Scream 7 kehilangan arah narasi. Dalam upaya penyelamatan darurat, studio akhirnya kembali mengetuk pintu Neve Campbell.

Seperti diketahui, Campbell absen di film keenam karena merasa tawaran gaji yang diberikan tidak sebanding dengan nilai yang ia berikan kepada franchise tersebut selama puluhan tahun.

Scream 7 (2026).Neve Campbell di Scream 7 (2026). Foto: Dok. Paramount Pictures

Namun, laporan terbaru dari Variety (26/2) dan IMDb menyebutkan bahwa kali ini studio bersedia 'pecah telur' dengan memberikan penawaran gaji yang sangat fantastis demi membawa Sidney Prescott pulang, yakni sekitar USD 7 juta (Rp 117 miliar). Langkah ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi Campbell dalam memperjuangkan kesetaraan bayaran bagi aktor veteran.

Dengan hilangnya karakter Sam dan Tara Carpenter, naskah yang sudah disiapkan sebelumnya terpaksa dibuang ke tempat sampah. Kevin Williamson, sang maestro yang menulis naskah film Scream pertama (1996), kini turun tangan langsung tidak hanya sebagai penulis, tetapi juga sebagai sutradara.

Perubahan kreatif ini mencakup:
* Fokus Kembali ke Sidney: Cerita akan bergeser dari konflik keluarga Carpenter kembali ke kehidupan Sidney Prescott yang kini sudah dewasa dan berkeluarga.
* Sentuhan Horor Klasik: Williamson berencana mengembalikan vibe ketegangan psikologis yang menjadi akar kesuksesan Scream di era 90-an.
* Kejutan Ghostface Baru: Dengan naskah yang segar, identitas dan motif Ghostface kali ini dipastikan akan sangat berbeda dari rencana awal.

Sayangnya karpet merah Scream 7 yang seharusnya menjadi perayaan kembalinya kejayaan horor slasher berubah menjadi medan ketegangan. Di balik lampu kilat kamera yang menyoroti Neve Campbell, teriakan protes menggema di luar lokasi premiere, menciptakan suasana yang jauh lebih mencekam daripada filmnya sendiri.

Penampilan Melissa Barrera di Scream VI (2023).Penampilan Melissa Barrera di Scream VI (2023). Foto: Dok. Paramount Pictures

Saat jajaran pemain dan kru baru bersiap untuk pemutaran perdana, sekelompok demonstran berkumpul di luar lokasi acara dengan membawa spanduk bertuliskan dukungan untuk Palestina. Aksi ini merupakan respons langsung terhadap pemecatan Melissa Barrera.

Para demonstran menyuarakan kekecewaan mereka terhadap Spyglass Media Group dan Paramount, menuding studio tersebut melakukan tindakan diskriminatif. Mereka menganggap pemecatan Barrera-yang dipicu oleh unggahannya yang menyebut situasi di Gaza sebagai pembersihan etnis-adalah upaya pembungkaman terhadap suara kemanusiaan.

"Tidak ada keadilan, tidak ada film!" menjadi salah satu slogan yang diteriakkan di tengah kerumunan.

Kini, saat Scream 7 akhirnya dirilis, para penggemar dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah mereka akan mendukung kembalinya pahlawan masa kecil mereka, Sidney Prescott, atau tetap teguh pada boikot demi solidaritas terhadap Melissa Barrera?

Aksi protes di premiere Los Angeles ini menjadi pengingat keras bagi Hollywood bahwa di era sekarang, tindakan politik sebuah studio di balik layar memiliki konsekuensi nyata yang bisa membayangi gemerlapnya lampu bioskop.

Scream 7 kini bukan sekadar film horor, melainkan simbol perdebatan soal kebebasan berpendapat di industri hiburan.


(ass/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO