Cara Galactus Hindari 'Kutukan' Kang the Conqueror
Namun, beban yang dipikul Sang Pemakan Planet ini bukan sekadar melahap dunia, melainkan memulihkan kepercayaan penonton terhadap sosok "Big Bad" di Marvel Cinematic Universe (MCU).
Berdasarkan analisis terbaru terhadap produksi The Fantastic Four: First Steps, para pakar industri mencatat bahwa Marvel telah berhasil menghindari satu kesalahan fatal yang sebelumnya melumpuhkan narasi Kang the Conqueror.
Kegagalan Kang bukan terletak pada akting atau desain karakternya, melainkan pada konsep Varian yang terlalu kompleks.
Dengan memperkenalkan ribuan versi Kang di seluruh multiverse, Marvel secara tidak sengaja melemahkan urgensi karakter tersebut. Setiap kali satu versi Kang dikalahkan, seperti saat melawan semut di Ant-Man and the Wasp: Quantumania, ancaman Kang secara keseluruhan di mata audiens ikut merosot.
Seorang analis dari ComicBook mencatat perbedaan mendasar dalam pendekatan terhadap Galactus.
"Kang menderita akibat konsep 'ancaman yang bisa dibuang'. Penonton diberitahu bahwa dia berbahaya, tapi mereka terus melihatnya kalah. Galactus menghindari lubang hitam narasi ini dengan menjadi satu entitas tunggal yang tak tergoyahkan. Dia bukan sekumpulan varian; dia adalah kekuatan alam (force of nature) yang absolut."
Dalam film The Fantastic Four: First Steps, Galactus (yang disuarakan oleh Ralph Ineson) diposisikan bukan sebagai politisi multiverse yang licik, melainkan sebagai bencana kosmik yang tak terhindarkan.
Marvel menghindari masalah Kang dengan cara tidak memberikan Galactus versi lemah.
"Marvel sudah belajar bahwa untuk membangun penjahat level Avengers, mereka tidak boleh memperkenalkannya melalui kekalahan beruntun. Galactus hadir dengan skala yang begitu masif sehingga tidak ada ruang untuk perdebatan mengenai kekuatannya. Jika dia muncul, taruhannya adalah kehancuran total, bukan sekadar perebutan takhta di garis waktu."
Masalah lain yang menghantui Kang adalah motivasinya yang sering kali terasa kabur dan terjebak dalam eksposisi dialog yang panjang mengenai waktu dan realitas.
Galactus, di sisi lain, memiliki motivasi yang sangat sederhana namun mengerikan: Rasa Lapar. Kederhanaan ini justru menjadi kekuatan utama.
Tanpa perlu menjelaskan teori fisika kuantum yang rumit, penonton bisa langsung memahami bahaya yang dibawa Galactus. Ia tidak datang untuk memerintah atau mengubah sejarah; ia datang untuk bertahan hidup dengan mengonsumsi planet.
Keputusan Marvel untuk menempatkan The Fantastic Four di alam semesta retro-futuristik 1960-an yang terpisah dari garis waktu utama (Earth-616) juga dinilai sebagai langkah jenius.
Ini memungkinkan Galactus untuk menghancurkan segalanya tanpa merusak kontinuitas film Marvel lainnya yang sedang berjalan.
"Ini memberi Galactus ruang bernapas untuk menjadi ancaman yang benar-benar mengerikan tanpa terganggu oleh intervensi superhero lain yang belum saatnya bertemu dengannya. Marvel memberikan Galactus sebuah panggung eksklusif untuk membangun reputasinya sebagai penjahat yang jauh lebih kredibel daripada Kang."
Dengan beralih dari kompleksitas multiverse Kang ke kemegahan kosmik Galactus, Marvel Studios tampak kembali ke formula yang membuat Thanos begitu efektif: seorang penjahat dengan kehadiran fisik yang mengintimidasi, tujuan yang jelas, dan kekuatan yang konsisten.
Galactus bukan hanya sekadar pengganti Kang; ia adalah koreksi arah bagi MCU yang sedang berupaya mengembalikan wibawa ancaman tingkat kosmik di layar lebar.
(ass/dar)











































