CEO Netflix Buka Suara soal Gugatan Paramount dan Rilis di Bioskop
Gugatan tersebut menuntut agar WBD mengungkap secara penuh detail kesepakatannya dengan Netflix yang dinilai melanggar hukum.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Sarandos menanggapi berbagai kekhawatiran yang muncul di Hollywood sejak Netflix mengumumkan kesepakatan akuisisi WBD senilai US$ 83 miliar. Salah satu sorotan utama adalah masa depan perilisan film di bioskop.
"Saya rasa ada banyak suara lantang, tetapi tidak selalu banyak. Sebagian besar orang mempertanyakan niat kami soal penayangan di bioskop, dan itu wajar karena kami memang belum mengatakan apa pun tentang hal itu," ujar Sarandos, dikutip detikcom, Sabtu (17/1/2026).
Ia menilai reaksi keras yang muncul lebih banyak dipengaruhi emosi. Menurut Sarandos, akuisisi tersebut justru akan memperkuat industri film, bukan sebaliknya.
"Sebagian besar lebih dipengaruhi oleh emosi daripada hal lain. Ketika kami membeli studio ini, kami akan merilis lebih banyak film bersama daripada yang kami lakukan secara terpisah. Perkiraan kami adalah meningkatkan pengeluaran konten dari perusahaan gabungan selama beberapa tahun ke depan," jelasnya.
Sarandos menegaskan kesepakatan tersebut akan berdampak positif bagi industri hiburan, khususnya di Hollywood.
"Jadi ini benar-benar kabar baik bagi kota ini bahwa kami akan terus mengembangkan bisnis ini," pungkasnya.
Sementara itu, CEO sekaligus Chairman Paramount David Ellison terus menyuarakan penolakan terhadap kesepakatan Netflix dan WBD. Paramount bahkan telah mengajukan gugatan hukum dengan harapan seluruh perjanjian, termasuk nilai moneternya, dapat dibuka ke publik. Ellison juga disebut tengah melobi sejumlah tokoh berpengaruh di Eropa untuk memblokir merger tersebut.
Menanggapi kekhawatiran bahwa Netflix akan mengorbankan rilis bioskop demi streaming, Sarandos menegaskan hal itu tidak akan terjadi. Dengan WBD sebagai salah satu distributor terbesar dunia, Netflix justru ingin memperkuat jalur distribusi teater.
"Saya mengerti orang-orang merasa emosional karena mereka mencintai bioskop dan tidak ingin itu hilang. Mereka pikir kami akan membuatnya menghilang. Kami tidak melakukan itu," tegas Sarandos.
Ia bahkan memastikan Netflix akan tetap agresif di bisnis bioskop.
"Ketika kesepakatan ini selesai, kami akan memiliki mesin distribusi teater yang fenomenal dan menghasilkan pendapatan teater miliaran dolar yang tidak ingin kami pertaruhkan," katanya.
Netflix, lanjut Sarandos, akan menjalankan bisnis film secara kompetitif seperti sebelumnya.
"Kami akan menjalankan bisnis itu sebagian besar seperti sekarang, dengan jangka waktu 45 hari. Jika kami berada di bisnis perfilman, dan memang demikian, kami ingin menang. Saya ingin memenangkan akhir pekan pembukaan. Saya ingin memenangkan pendapatan box office," ungkapnya.
Tak hanya Paramount, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga sempat menyuarakan kekhawatirannya terhadap kesepakatan besar tersebut. Sarandos mengaku heran dengan komentar Trump.
"Saya tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Saya juga tidak ingin terlalu memikirkannya," ucap Sarandos singkat.
Sarandos optimistis, kehadiran Netflix justru akan membuat Hollywood semakin berkembang dalam lima tahun ke depan.
"Akan ada bisnis yang sangat sehat. Mereka sebenarnya sudah bagus, hanya kekurangan sumber daya. Dan kami bisa menyediakan sumber daya itu, termasuk jaringan distribusi untuk membuat karya-karya ini menjadi lebih besar dan lebih baik," tuturnya.
Terlepas dari upaya Paramount untuk menggagalkan akuisisi, Netflix dan WBD tetap melaju dengan persiapan merger yang digadang-gadang menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Hollywood. Dampaknya terhadap industri film global kini tinggal menunggu waktu.
(ass/ass)











































