James Gunn Ungkap Eksplorasi Rivalitas Ikonik dalam Man of Tomorrow

Asep Syaifullah
|
detikPop
James Gunn dan Chris Pratt saat wawancara eksklusif dengan detikcom.
Potret James Gunn. Foto: Disney/Marvel Studios/detikcom
Jakarta - Sutradara sekaligus petinggi DC Studios, James Gunn, baru saja memberikan bocoran signifikan mengenai masa depan Superman di layar lebar.

Setelah merampungkan film pertama yang dijadwalkan tayang tahun 2025, Gunn mulai mengarahkan sorotannya pada sekuel yang dinantikan bertajuk Superman: Man of Tomorrow.

Dalam pengungkapan terbarunya (via MovieWeb pada 4 Januari) Gunn menekankan bahwa sekuel ini bukan sekadar kelanjutan aksi pahlawan super biasa, melainkan sebuah studi karakter yang mendalam mengenai dua kutub yang berlawanan: Clark Kent dan Lex Luthor.

Gunn menjelaskan bahwa dinamika antara sang Man of Steel yang diperankan oleh David Corenswet dan sang jenius yang haus kekuasaan, Lex Luthor, yang diperankan oleh Nicholas Hoult, akan menjadi inti emosional dari narasi tersebut.

Menariknya, Gunn tidak melihat kedua karakter ini sebagai sekadar "pahlawan" dan "penjahat" dalam hitam-putih.

Baginya, keduanya mewakili spektrum emosi manusia yang ada dalam dirinya sendiri, yang kemudian diproyeksikan ke dalam skala kosmik DC Universe.

James Gunn merefleksikan hubungan personalnya dengan kedua karakter tersebut melalui sebuah pernyataan yang cukup menyentuh mengenai proses kreatifnya.

Lebih lanjut, Gunn mengisyaratkan bahwa Man of Tomorrow akan membawa penonton ke wilayah yang jarang dijelajahi dalam film-film Superman sebelumnya.

Jika film pertama berfokus pada pengenalan kembali Clark Kent ke dunia modern, maka sekuelnya akan lebih menantang moralitas dan integritas sang pahlawan melalui kecerdikan Lex Luthor.

Lex tidak lagi digambarkan sebagai musuh yang hanya mengandalkan teknologi atau kekuatan fisik, melainkan sosok manipulator ulung yang mampu mengguncang pondasi kepercayaan publik terhadap Superman.

Fokus naratif ini juga memberikan ruang bagi Nicholas Hoult untuk menampilkan versi Lex Luthor yang lebih kompleks.

Gunn berjanji bahwa penonton akan melihat sisi kemanusiaan dari Lex yang ambisius, yang merasa bahwa dirinya adalah pahlawan sebenarnya bagi umat manusia, sementara Superman dianggapnya sebagai ancaman alien yang menghambat potensi manusia.

Pertentangan ideologi inilah yang akan menjadi motor penggerak utama dalam film tersebut, menciptakan ketegangan yang lebih bersifat psikologis dan emosional.

Dengan rencana produksi yang akan dimulai pada musim semi 2026, Superman: Man of Tomorrow diprediksi akan menjadi tonggak penting dalam pembangunan DC Universe baru di bawah kepemimpinan Gunn.

Film ini diharapkan tidak hanya memberikan tontonan aksi yang megah, tetapi juga sebuah kisah yang mampu membuat penonton bersimpati pada ambisi manusiawi sekaligus mengagumi ketulusan seorang pahlawan.


(ass/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO