Heboh Ribut-ribut Netizen Korea Selatan vs ASEAN
Dilansir dari The Rakyat Post (12/2) disebutkan jika permasalahan ini bermula pada konser DAY6 yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur pada 31 Januari kemarin.
Pada acara itu terjadi masalah karena fans dari Korea Selatan yang disebut fansite master membawa kamera profesional ke dalam venue.
Hal ini padahal termasuk dalam larangan barang-barang yang di bawa ke dalam area konser, namun entah kenapa kamera dan lensa itu bisa lolos. Beberapa penonton lainnya pun merekam tindakan itu dan menyebarkannya di media sosial hingga viral.
Oknum itu pun akhirnya meminta maaf karena sudah melanggar peraturan dan membuat penonton lain tak nyaman, tapi entah kenapa sekelompok fans Korea lainnya justru malah gak terima dan memperpanas situasi.
Mereka malah melontarkan hinaan berbau rasial tentang wajah, bahasa, dan ekonomi dilontarkan kepada warga Asia Tenggara. Dengan penuh amarah, mereka juga menuntut penghormatan terhadap budaya idola penggemar mereka.
Dan gak butuh waktu lama untuk para fans K-Pop lainnya dari ASEAN untuk ikutan nimbrung di dalam perdebatan itu. Apalagi meme-meme juga udah mulai banyak bertebaran di sana setelah serangan dari fans Korea Selatan itu menyasar ke negara-negara tetangga Malaysia lainnya.
Hujatan dari netizen Korea Selatan pada no na. Foto: Dok. X |
Sebuah unggahan di X oleh seorang pengguna Korea Selatan menampilkan tangkapan layar video no na yang berjalan-jalan di sawah dengan keterangan: "Kami tidak punya uang untuk menyewa lokasi syuting, jadi kami merekam di sawah".
Hal ini pun langsung membuat netizen Tanah Air ikutan ngamuk dan membalas dengan bahasa lokal seperti Jawa yang tentunya sulit untuk dimengerti netizen dari negeri Gingseng itu.
Kondisi seperti ini dan hate-campaign sering kali ditemui karena penggemar toksik menggunakan platform media sosial untuk menyerang orang yang mengkritik idola mereka, fandom lain, atau bahkan anggota lain dalam grup yang sama.
Baca juga: IVE Buka Comeback REVIVE+ dengan BANG BANG |
Bahkan para idola sendiri pun tidak aman dari penggemar toksik mereka, karena individu-individu ini mengembangkan sikap posesif dan mengontrol kehidupan pribadi idola mereka, percaya bahwa mereka harus mengendalikan aspek-aspek seperti pilihan kencan, teman, dan bahkan ekspresi kreatif.
Banyak forum online yang membahas perilaku ini, dan seringkali oleh mereka yang ingin memahami mengapa industri hiburan favorit mereka dirusak oleh penggemar toksik.
(ass/tia)












































