Pop Photos

Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia 'Menggema' di Venesia

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Jakarta - Setelah 6 tahun vakum, Paviliun Indonesia comeback ke ajang La Biennale di Venezia atau Venice Biennale. Intip karya seni yang ditampilkan ya, detikers:
Paviliun Indonesia yang berjudul Printing The Unprinted: The Story of the Grandy Voyage ada di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, yang dibuka pada Kamis (7/5). Ini pertama kalinya Indonesia hadir lagi di aja La Biennale di Venezia. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Bukan sembarang pameran seni, Paviliun Indonesia menceritakan tentang imaji pelayaran dari Danau Toba, menyusuri pesisir Sumatera Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, dan hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Armada tersebut terdiri atas tiga kapal luar biasa, yaitu: Siboru Deak Parujar (Dewi Pencipta Batak) sebagai kapal induk; Naga Padoha (Ular Kosmik) sebagai kapal pengawal; dan Sahala ni Ombak (Roh Ombak) yang didedikasikan untuk penjelajahan ilmiah. Foto: (Dok Istimewa)
Perupa asal Yogyakarta, Agus Suwage, menghidupkan bagian pertama manuskrip Sacred Authority and Diplomacy ke dalam tiga lembar etsa. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Perupa RE Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472), Storm Off Hormuz, dan The Aging Admiral's Face. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi. Sang navigator membuka perspektif baru, berlandaskan pengetahuan astrolab Islam sejak masa Abbasiyah. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia yang digambarkan oleh seniman Mariam Sofrina. Ia membuat tiga lembar etsa. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Melalui tiga etsa berikutnya, perupa Nurdian Ichsan menampilkan cerita di balik Seniman dan Pengrajin. Ada Forging Iron at Lake Toba, Glass and Mechanical Clocks, dan The Hybrid Emblem of Harajoan. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Di tema Kaum Intelektual, seniman asal Yogyakarta Theresia Agustina Sitompul atau Tere menghadirkan apisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual. Para pendeta Datu menafsirkan pertanda dari seekor ayam sebelum keberangkatan, memaknai pelayaran sebagai takdir Banua Tonga. Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO