Sembilan Budak Setan 'Menghantui' Pembaca Indonesia
Buku Sembilan Budak Setan mengumpulkan karya fiksi horor dari sembilan penulis terkemuka tanah air: Cyntha Hariadi, Tenni Purwanti, Nelden Djakababa Gericke, Gunawan Tri Atmodjo, Seno Gumira Ajidarma, Clara Ng, Ken Hanggara, Leopold Adi Surya, dan Almarhum Gunawan Maryanto.
Dikuratori oleh Eka Kurniawan dan Intan Paramaditha, antologi ini menghadirkan teror yang lahir bukan sekadar dari entitas gaib tapi juga isu sosial, luka sejarah, trauma relasi keluarga hingga kekerasan berbasis gender.
Enam cerpen lahir dari sayembara menulis untuk Kumpulan Budak Setan 2 pada 2016, tiga lainnya ditulis penulis undangan. Cerita di dalam bukunya bukan sekadar teror, namun menjelma jadi ikatan ikatan ibu dan anak yang menyesakkan, dendam yang tumbuh di antara saudara, kekerasan terhadap perempuan, hingga pembantaian yang sengaja dihapus dari ingatan.
Kematian pun bukan lagi jadi sebuah akhir, namun ada mereka yang pergi tanpa pemakaman yang layak, ada masa lalu yang menolak dilupakan, dan ada perkara yang belum selesai meski nyawa telah lama terenggut.
Salah satu penulis, Cyntha Hariada yang menulis cerpen Malaikat Mama mengatakan terlibat dalam buku antologi jadi pengalaman berkarya yang berkesan.
"Antologi ini mempertemukan berbagai cara pandang dari sembilan penulis dalam memaknai rasa takut, luka, dan sisi ganjil manusia," ujar Cyntha Hariadi dalam keterangan pers yang diterima redaksi.
Tenni Purwanti pun antusias karena antologinya akhirnya resmi terbit dan menyapa pembaca Tanah Air. "Buku Sembilan Budak Setan menawarkan warna horor yang beragam dan memiliki kedalaman cerita tersendiri," ungkapnya.
Merayakan momen penerbitan kumcer Sembilan Budak Setan, pameran penggalan kata bertajuk 'Penggalan Kata dari Para Budak Setan' juga akan masih dibuka untuk publik di Makarya, kawasan Matraman, Jakarta Timur hingga 18 November 2026.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
