Novel Yang Mulia Resmi Menyapa Pembaca Indonesia
Peluncuran buku yang digelar di Gramedia Jalma, Blok M, akhir pekan lalu, mengupas tuntas latar belakang sejarah, identitas Tionghoa-Indonesia, dan konflik rahasia keluarga di dalam karyanya.
Yang Mulia menceritakan kehidupan keluarga taipan Tionghoa bernama Sulinado yang tinggal di Jakarta. Awalnya, Estella meracuni seluruh keluarganya dan hanya Gwendolyn yang berhasil selamat. Dari konflik pertama itulah, membuka tabir rahasia serta luka masa lalu.
Baca juga: 'Yang Mulia' Mudik ke Jakarta |
Di balik kemewahan dan intrik keluarga, novelnya memotret secara mendalam bagaimana ketakutan, diskriminasi, dan gejolak politik Kerusuhan Mei 1998 meninggalkan jejak kelam serta pengalaman trauma traumatik bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia.
Bukunya berlatar akhir dari rezim Soeharto dan dimulainya demokrasi dan reformasi. "Bagi mereka, kerusuhan adalah harga yang harus dibayar: penderitaan seorang perempuan yang melahirkan kebebasan, mengeluarkan kepalanya yang besar dari antara pahanya. Bagi kami orang Tionghoa, kerusuhan 1998 telah menegaskan kenyataan bahwa kami adalah orang asing di tanah yang penuh permusuhan."
Rio Johan yang menerjemahkan buku Yang Mulia dari bahasa Inggris ke Indonesia mengatakan karya fiksi Tiffany Tsao ini terbilang unik.
"Yang Mulia ini kan unik ya, menarik karena Tiffany Tsao menuliskan ini. Cerita Indonesia, latar juga Indonesia, tapi ditulis oleh pengarang luar dalam bahasa Inggris. Ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia harus dilokalkan lagi, ada beberapa bagian termasuk di awal yang sedang makan daging lalu diganti dengan menu lokal semur saja. Ada contoh lebih banyak lagi, jadi memang disesuaikan," kata Rio Johan dalam sesi diskusi sebelumnya.
Tiffany Tsao tumbuh di Amerika Serikat, Singapura, Indonesia, dan kini menetap di Australia memperkaya sudut pandangnya dalam mengolah tema identitas serta sejarah.
Kiprahnya di dunia sastra mencakup penulisan karya fiksi, seperti novel Yang Mulia yang masuk dalam daftar panjang Ned Kelly Award 2019, hingga penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Beberapa proyek penerjemahannya, termasuk Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma dan Cerita-Cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya karya Norman Erikson Pasaribu, berhasil meraih berbagai penghargaan serta nominasi internasional.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
