Novelis Korea-Amerika, Min Jin Lee, baru saja menerbitkan karya terbarunya, American Hagwon. Di balik kesuksesan novel yang diterbitkannya setiap satu dekade, ia punya cerita tersendiri.
Satu buku digarapnya selama 10 tahun dan butuh riset mendalam. Buku pertamanya, Free Food for Millionaires' soal anak-anak imigran Korea di New York pada dekade 1990-an terbit setelah 11 tahun penulisan. Ia habisin waktu 20 tahun buat ngerjain novel Pachinko, karya yang mencakup rentang waktu hampir satu abad mulai dari desa nelayan di Korea yang diduduki Jepang hingga Wall Street pada tahun 1980-an.
Buku ini terpilih sebagai salah satu dari 100 buku terbaik di abad ini versi New York Times, dan laku lebih dari 5 juta eksemplar di seluruh dunia.
Karya ketiganya, American Hagwon, mengikuti perjalanan satu keluarga dari Seoul ke Sydney lalu ke California pada tahun-tahun menjelang dan sesudah krisis keuangan Asia 1997. Bukunya diperebutkan dalam lelang hak cipta yang melibatkan 12 pihak.
Baru-baru ini, Min Jin Lee kembali dari Jerman setelah melakukan perjalanan riset untuk buku berikutnya. Ia nyebut karyanya soal novel Eropa yang berjudul: Marshall Plan.
Ceritanya bermula dari perjanjian bilateral tahun 1963, saat ribuan orang Korea dikirim ke Jerman Barat untuk bekerja sebagai penambang atau perawat untuk mendorong perekonomian di Tanah Air mereka. Satu-satunya kesamaan dari empat novelnya adalah tema diaspora.
"Saya sedang merampungkan empat buku yang memang ingin saya tulis, dan setelah itu, saya akan tidur panjang," katanya dilansir dari The Guardian, Selasa (20/10/2026).
Bahkan ia pernah nyebut karyanya sebagai 'Kuartet Korea'. "Sebelum menginjak usia 70 tahun, saya harus menyerahkan empat naskah buku," selorohnya.
Pada usia 20 tahunan di tahun 1995, Min Jin Lee berhenti dari pekerjaannya sebagai pengacara. Ia didiagnosis sebagai pembawa virus hepatitis B dan dokter peringatkan ada kemungkinan besar ia akan menderita kanker hati.
"Saya berpikir, jika memang harus meninggal, saya ingin menulis buku terlebih dahulu. Saya sering diberitahu kondisi kesehatan saya akan terus memburuk. Jadi ya, saya selalu merasa jika saya bisa menghasilkan satu buku yang benar-benar bagus. Maka tugas saya sudah selesai," pungkasnya.
Simak Video "Video: Buku Move Forward, Bukan Move On: Rahasia Otak Sembuhkan Luka"
(tia/ass)