×
Ad

Semangat Happy Salma Lestarikan Tradisi dan Budaya Sunda

Tia Agnes Astuti - detikPop
Minggu, 18 Okt 2026 17:04 WIB
Foto: Titimangsa/Khairizal Maris
Jakarta -

Puluhan tahun berkarya di film dan layar televisi, Happy Salma gak melupakan akar muasalnya dalam berkarier. Darah seni tradisi sudah mengalir di nadinya hingga mendirikan Titimangsa sejak Oktober 2007.

Selama 19 tahun, 80 % pertunjukannya mengadaptasi karya sastra Indonesia ke bentuk panggung. Sisanya, ada banyak ruang lintas disiplin tempatnya mengeksplorasi dan basisnya selalu tentang budaya.

"Kalau mengutip dari apa ya, kamus bahasa Sanskerta, kata budaya artinya budi pekerti. Jadi memang itu selalu yang ingin kita perjuangkan, ingin kita sampaikan. Dan kenapa kita perjuangkan? Karena kita juga mampu, kita ingin berjuang terus-menerus memiliki budi pekerti yang baik, setidaknya melanjutkan apa yang leluhur kita sudah sampaikan dan sudah buat," ungkap Happy Salma di Bumi Sangkuriang pada Sabtu (17/10/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, Happy Salma ngaku aktif buat bikin pertunjukan-pertunjukan dari seni tradisi. Ia menyebutkan pernah buat Sudamala: Epilog Calonarang yang kolaborasi dengan seniman di Bali dan Taksu Ubud, diboyong ke Mangkunegaran Solo dan Gedung Arsip, Solo.

Di Bandung, Titimangsa bersama produser Pradetya Novitri dan sutradara Heliana Sinaga buat pentas Kembang Bale di NuArt Sculpture Park.

"Pernah juga membuat Citraresmi, Pitaloka, dan juga pernah membuat alih wahana dari bukunya Ramadhan K.H. yang berjudul Kuantar ke Gerbang tentang Inggit Garnasih. Jadi cerita-cerita Sunda ini dekat sekali dengan kita," ungkapnya.

Sukses dengan Lestari Tradisi 1980-an di Selabintana, Sukabumi, obor melestarikan kesenian yang seakan terlupakan itu semakin 'membara'.

"Dan alhamdulillah setelah membuat kegiatan Lestari Tradisi 1980-an di Selabintana itu, ternyata api itu, obornya teu pareum (tidak padam) gitu. Jadi apinya ada lagi, semangat lagi. Teman-teman begitu terstimulasi untuk membuat koreo baru dengan inspirasi tahun '80-an hingga akhirnya kawan-kawan diberangkatkan ke Osaka Expo," ungkapnya.

Melalui seni tradisi, Titimangsa ingin orang Sunda kembali terikat dengan kesenian tradisinya. "Kita mengenang masa-masa itu gitu, dan saling mengikat bahwa orang Sunda tuh senang bersaudara dan senang bersahabat. Dan seni tradisi adalah ibunda dan ayahandanya kita untuk kita tidak lupa dari mana kita berasal," pungkasnya.



Simak Video "Mengeksplorasi Keunikan Museum 3D di Semarang"

(tia/pus)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork