Organisasi PEN America Dipimpin Veteran Perang Irak dan Pro-Palestina

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
PEN America 2018, penghargaan sastra bergengsi dari Amerika Serikat.
Foto: Istimewa
Jakarta - Perang Israel-Hamas gak cuma berdampak pada kondisi sosial-politik dunia, namun juga dalam organisasi PEN America. Organisasinya bukan sembarangan nih, detikers.

PEN America adalah organisasi independen yang mendedikasikan diri buat melindungi kebebasan berekspresi, memajukan sastra, dan bela HAM. Kini, seperti dilansir dari AP, penulis peraih penghargaan Phil Klay ditunjuk sebagai Presiden baru PEN America.

Ia mengemban peran saat organisasi sastra dan kebebasan berekspresi dilanda perpecahan akibat perbedaan pendapat soal perang Israel-Hamas.

Klay diketahui gantikan Dinaw Mengestu, yang mengundurkan diri Juli lalu karena banyaknya tekanan dan dukungan terhadap penulis Palestina. Dalam akun Instagram, ia bilang," Saya berpendapat organisasi ini akan membela kebebasan berekspresi secara adil dan setara. Laporan ini memperjelas hal itu gak akan terjadi," tegasnya.

Dua tahun lalu, penulis di seluruh dunia melontarkan kritikan dan rasa gak puas dengan respons PEN terhadap perang Israel dan Hamas. Banyak yang menuduh pimpinan organisasi lambat dalam mengkritik kematian penulis serta jurnalis Palestina, sampai PEN America batalkan upacara penghargaan tahunan.

CEO saat itu, Suzanne Nossel, telah meninggalkan jabatannya dan digantikan oleh dua CEO bersama, Clarisse Rosaz Shariyf dan Summer Lopez.

Setelah kontroversi tersebut, PEN America kini dipimpin oleh veteran Perang Irak yang buku kumpulan cerita pendek pertamanya Redeployment memenangkan National Book Award. Ia memboyong anugerah di kategori fiksi pada tahun 2014.

Dia telah menyatakan dukungannya terhadap studi PEN mengenai penulis Israel dan Yahudi, namun juga mengkritik perlakuan Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

"Kekerasan yang terjadi tidak terkendali, tanpa pandang bulu, dan menyasar warga sipil tak berdosa," tulisnya di platform X pada Agustus.

Bahkan ia mengkritik dan menuliskan artikel untuk majalah The Atlantic pada Maret 2024. Klay tegas mengkritik pemerintah AS yang mendukung perang Israel dan lakukan genosida.

Dalam pernyataan yang dirilis oleh PEN, Klay mengatakan bahwa ia memiliki keyakinan mendalam terhadap pertukaran budaya, terhadap upaya berkelanjutan untuk memahami orang lain, budaya lain, dan gagasan lain.

"Termasuk gagasan yang mungkin gak nyaman dan penciptaan ruang publik yang lebih terbuka dan egaliter," ucapnya.



(tia/wes)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO