George W Bush dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) punya kemiripan. Sama-sama jadi presiden negara dan sama-sama punya hobi melukis. Keduanya gak bisa dipisahkan dari hobi menggambar di atas kanvas yang satu ini.
Sejak 2025 lalu, George W Bush aktif melukis potret para pemimpin dunia dan orang-orang yang berimigrasi ke AS. Koleksi karyanya dipamerkan padda 15 Mei 2025 di George W Bush Presidential Center di kampus Southern Methodist University (SMU).
Setelah meninggalkan Gedung Putih, Bush mulai melukis dengan cat minyak. Satu per satu, karya seninya dikumpulkan. Bulan ini, ia kembali memamerkan lukisannya untuk mengenang peristiwa 9/11 di lokasi yang sama. Bush pun langsung membuat 16 lukisan terbaru.
Dilihat di situs resminya, lukisan itu dipamerkan hingga 30 September dan merefleksikan keberanian, pengorbanan, dan ketangguhan.
"Karya ini muncul dari salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Amerika," tulis keterangan museum.
Subyek spesifik dari lukisan-lukisan yang dibuat Bush, sayangnya masih jadi misteri nih. Pihak museum cuma nge-spill ada satu lukisan yang diposting.
Ada gambar helm dan bunga yang diletakkan di atas tugu peringatan bagi petugas pemadam kebakaran yang gugur saat bertugas pada peristiwa 9/11. Salah satu korban petugas damkar adalah Peter L.Freund, yang meninggal dunia pada usia 45 tahun.
SBY dan SBY Art Community
Kalau di AS ada Bush, di Indonesia juga ada SBY yang eksis melukis dan mendirikan komunitas seni bernama SBY Art Community. Memasuki tahun kedua, SBY Art Community yang terdiri dari 21 pelukis kali ini menggelar pameran seni Art for Peace and a Better Future.
Puluhan pelukis itu menggandeng 5 pelukis cilik dan satu seniman residensi asal Berlin, Christopher Lehmpfuhl, di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, hingga 30 Agustus 2026.
Bukan sembarang pameran seni biasa, namun SBY Art Community mengusung tema perdamaian dalam karya-karyanya namun dengan style dari masing-masing seniman. Salah satu yang menarik perhatian adalah lukisan sepanjang 7 meter berjudul Law of the Jungle.
Lukisan ini menggambarkan dunia sebagai rimba yang dikuasai kekuatan, kekerasan, dan ketimpangan. Hewan predator melambangkan dominasi, sementara kijang, dan sapi merepresentasikan pihak yang rentan dan dieksploitasi.
Ada kutipan 'The strong do what they can, the weak suffer what they must', dan ada tulisan 'Might is Right' jadi kritik kekuatan tanpa moral. Di atas kanvas, ada lambang hukum internasional yang terbakar, merpati yang terluka, helm militer, dan bendera PBB yang terkoyak.
Tema perdamaian juga terlihat sekali dalam beberapa lukisan karya SBY. Lewat karya lanskap realisme itu karyanya bertuliskan 'Stop War' dari karton kardus.
Simak Video "Video SBY Ingatkan Risiko Krisis Ekonomi Global Imbas Perang di Timur Tengah"
(tia/ass)