Novel Koloni Versi Bahasa Inggris Terbit 11 Agustus

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Penulis Ratih Kumala saat menyambangi kantor detikcom, Jakarta Selatan, pada Kamis malam (13/11/2025).
Foto: Gilang Faturahman/ detikcom
Jakarta - Kabar yang ditunggu akhirnya tiba. Di balik fenomena Gadis Kretek yang tayang di Netflix, novel terbaru dari karya Ratih Kumala yang berjudul Colony segera terbit dalam bahasa Inggris pada 11 Agustus 2026.

Colony jadi kisah semut dan jadi cerita yang paling gak terlupakan tahun ini. Penerbit Penguin Book menulis novel Colony akhirnya di-spill kehadirannya yang desain sampulnya dibuat oleh Alit Ambara.

"Colony adalah dongeng luar biasa saat para ratu bertarung memperebutkan kekuasaan, kesetiaan rapuh, dan setiap kehidupan kecil memikul beban sebuah kerajaan. Hari ini, kami dengan senang hati mengungkap sampulnya, segera terbit 11 Agustus 2026," tulis @penguinbooksea.

Novel Koloni yang versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) itu masuk ke dalam fabel satir. Bukunya terbit sejak Agustus 2025, yang menceritakan perebutan kekuasaan dalam dua ratu yakni Ratu Gegana dan Darojak yang penuh intrik.

Dalam dunia semut, ada semut pekerja, semut pengasuh, semut jantan, semut prajurit termasuk pemimpinnya Semut Ratu.

Ratih Kumala yang menyambangi kantor detikcom pada Kamis malam (13/11/2025), cerita soal ide novel Koloni yang digarapnya selama 9 bulan tersebut.

"Novel ini sebenarnya bermula dari kekesalan dan kegelisahan aku di tahun 2024. Overwhelmed dengan berita yang ada, itu jadi bahan bakar aku buat menuliskan cerita ini. Kekesalan sampai ubun-ubun yang gak bisa teriak di medsos, akhirnya create sebuah cerita," katanya di kawasan Transmedia, Jakarta Selatan.

Saat itu, naskahnya belum ada judul dan karakter yang dituliskannya adalah manusia. Ratih pun terbersit buat menuliskan tentang historical fiction yang sudah 30 % jadi, tapi berujung kegagalan.

Novelis Kronik Betawi pun teringat akan buku George Orwell yang berjudul Animal Farm. Ia langsung merasa ingin menulis fabel yang bisa melontarkan kritik sosial dan politik pada masanya dan sukses besar di industri.

Mengapa semut? Ratih yang pernah jadi script writer di Trans TV kembali terkenang momen saat kerja di Transmedia. "Dari gedung bertingkat, aku lihat manusia kok kayak semut ya, saya selalu menanalogikan manusia itu kayak semut," ungkapnya.



(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO