Musikal MAR: Romansa Pilu di Tengah Peristiwa Bandung Lautan Api

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Drama musikal MAR.
Foto: Dok. ArtSwara
Jakarta - Panggung drama musikal MAR kembali dipentaskan ulang pada di momen long weekend pada 15-17 Mei 2026 di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta Pusat.

Bukan sembarang musikal biasa, MAR jadi 'pembuka' menuju peristiwa sejarah bangsa yang seakan luput dalam buku-buku pelajaran di sekolah: Bandung Lautan Api.

Di selatan kota Bandung, Jawa Barat, pada 1946 silam, Indonesia telah merdeka namun gak sepenuhnya merdeka. Di beberapa wilayah Indonesia, pasukan Sekutu datang pada Oktober 1945 dengan membonceng Belanda (NICA) termasuk ke Bandung yang ingin kembali dikuasai.

Berlatarkan peristiwa Bandung Lautan Api, jalinan cerita dalam panggung musikal MAR persembahan ArtSwara bertautkan. Ada seorang Sersan Mayor bernama Mar bersama dengan teman-temannya yang berpangkat Kopral sering nongkrong di Warung Ambu untuk ngopi dan bercengkrama. Tak jauh dari warung, ada rumah sakit dan di sanalah Aryati bekerja.

Warung Ambu jadi titik pertemuan pertama antara Mar dan Aryati, antara tentara dan juru rawat. Sayangnya, kisah keduanya 'tepisah' oleh tugas negara. Aryati dipindahkan ke Jakarta, dan Mar pindah ke Yogyakarta saat Ibu Kota baru sempat dipindahkan. Ada satu janji Aryati yang diminta pada Mar.

"Berjanjilah Mar, pertahankan napas terakhirmu sampai tiba di depanku," ucap Aryati.

Saat peristiwa Bandung Lautan Api pecah, Mar dan Aryati baru saja menikah. Baru suka cita terasa, mereka kembali berpisah.

"Rindu tak bisa kau lawan, Mar. Semakin kuat, semakin menguasaimu," ucap Aryati pada Mar.

Aryati sempat bertanya pada Mar, "Bukankah kita sudah merdeka? Mengapa masih ada perang?"

"Kita tetap harus mempertahankan tanah ini sampai darah penghabisan," jawab Mar.

Kisah cinta Mar dan Aryati dibuka oleh kilas balik yang dituturkan oleh Nin (Aryati di masa tua) yang diperankan oleh Sita Nursanti pada Mara (cucunya) mengenai pertemuan dengan Aki (Mar).

Melalui kenangan hidup Nin, karakter Aki/ Mar kembali dihidupkan. Narasi dari Nin dan Mara, jadi narator penghubung dan penjelas sepanjang cerita.

"tahun 1946, kakekmu pergi ke Yogyakarta dan kami harus berhubungan dengan surat lagi," kata Nin.

Pentas musikal MAR dibagi menjadi dua babak. Di awal, sebagai perkenalan Mar dan Aryati dan awal dari peristiwa Bandung Lautan Api. Redaksi detikcom yang ikut nonton saat rehearsal seakan terbius oleh rasa jatuh cinta pasangan muda tersebut dan terbuai oleh lagu yang dinyanyikan khususnya saat lagu 'Seindah Merpati.

Bagian kedua jadi konflik dan menuju klimaks. Bandung Lautan Api pun pecah dan area kesayangan Mar dan Aryati pun terbakar. Sesuai janjinya, Mar yang terluka di bawah ke hadapan Aryati sampai napas penghabisan.

Lebih Megah, Lebih Spektakuler

Re-run musikal Mar bukan sekadar pementasan yang diulang lagi, namun sama saja seperti produksi baru. Sejak awal pertunjukan, narator dan alur cerita masih sama, namun sisi artistik di atas panggung yang lebih megah dan spektakuler.

Penata artistik re-run musikal MAR, Iskandar Loedin, secara khurus membuat panggung memutar atau rotater untuk pementasan kali ini. Ada dua adegan yang jadi 'ciri'-nya yakni Warung Ambu yang terasa lebih wah dan lega, ada di tengah panggung.

Adegan berikutnya adalah bangsal rumah sakit tempat Aryati bekerja. Hal lain yang terasa spektakuler berikutnya adalah video mapping yang ditembakkan ke layar di belakang artistik. Full mapping dan sukses menambah syahdu sepanjang pertunjukan.

Lagu-lagu Ismail Marzuki Sukses Membius

Lantunan lagu demi lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki jadi alunan yang indah sepanjang musikal. Lebih dari 40 lagu ciptaan sang komposer dan libretto (dialog yang dinyanyikan) hasil aransemen Dian HP berhasil membius penonton.

Saat lagu Rindu Lukisan dinyanyikan, suasana cinta terasa. Sama halnya dengan medley lagu Sepasang Mata Bola, Sapu Tangan hingga Selendang Sutra dengan diiringi artistik yang memukau menambah khidmat musikal MAR.

Ketika lagu Gugur Bunga dinyanyikan, ditambah adegan peti mati yang diangkat oleh para tentara, banyak penonton yang terenyuh dan menangis. Kisah MAR yang ditulis Titien Wattimena dan diproduksi Artswara berhasil menuangkan kisah fiksi layaknya realita.


(tia/ass)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO