ART SG Tampilkan S.E.A Focus, Kembali Digelar 23-26 Januari
Eksibisi ini memperkuat peran Singapura yang berkembang sebagai Ibu Kota budaya dan pusat utama pertukaran seni dan transformasi di seluruh kawasan. Inisiatif kuratorial ini makin meramaikan kancah seni kontemporer Asia Tenggara.
Menurut Co-founder ART SG, Magnus Renfrew, Asia Tenggara jadi basis kolektor dan ekosistem budaya yang matang.
"S.E.A Focus di ART SG menyuarakan ekspresi menarik dalam platform terintegrasi bagi galeri seni, perupa, dan institusi buat saling terhubung dan berinteraksi," ungkapnya dalam keterangan pers yang diterima, Selasa (20/1/2026).
Dalam survei Art Basel dan UBS tentang koleksi Global yang dibagikan penyelenggara, perkembangan koleksi karya seni di Asia bakal meningkat. Di antara responden di Singapura, ada minat yang baru dari kolektor perempuan.
Ke depannya, 81 % HNWI yang disurvei optimis terhadap prospek pasar seni global dalam kurun waktu 6 bulan ke depan.
"Melalui program yang dikembangkan, inisiatif kuratorial yang inovatif, dan kemitraan yang makin erat, ART SG memperkuat peran Singapura sebagai pusat dan gerbang yang dinamis ke kawasan ini," katanya.
Nah, galeri seni yang berpartisipasi di S.E.A Focus ART SG di antaranya ada Richard Koh Fine Art (Singapura, Bangkok), Silverlens (Manila, New York), AC43 Gallery (Singapura), The Drawing Room (Manila), ISA Art Gallery (Jakarta), ShanghART Gallery (Shanghai, Singapura, Beijing), STPI (Singapura), ara contemporary (Jakarta), Mr. Lim's Shop of Visual Treasures (Singapura), Gallery VER (Bangkok), neugerriemschneider (Berlin), Artinformal (Manila), Intersections (Singapura), Gajah Gallery (Singapura, Jakarta, Manila), Mizuma Gallery (Singapura, Tokyo), Wetterling Teo Gallery (Singapura), dan masih banyak lagi, dengan presentasi dari perupa Tang Da Wu, Arahmaiani, dan Nicole Coson.
(tia/ass)











































