Produksi Gachiakuta Versi Teater Dituding Rasisme, Berujung Permintaan Maaf

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Serial Anime Gachiakuta
Gachiakuta (Foto: Courtesy of Crunchyroll)
Jakarta - Deretan waralaba anime yang sukses diadaptasi ke panggung teater seperti Chainsaw Man, My Hero Academia, Naruto sampai One Piece sukses banget digelar dalam satu dekade terakhir. Gachiakuta pun diadaptasi ke panggung teater di Jepang.

Sayangnya produksi ini menuai kontroversi karena fans dan pencipta serial menyatakan kekecewaan mereka pada keputusan baru yang dibuat tim produksinya. Produksi Gachiakuta The Stage dituding rasisme, karena karakter seperti Corvus, Semiu, dan Jabber 'diganti ras-nya'.

Tim produksinya akhirnya memposting pernyataan resmi menanggapi pro-kontra tersebut:

Terima kasih atas dukunganmu buat berkelanjutannya Gachiakuta The Stage. Kami menerima banyak komentar dan umpan balik soal ekspresi tertentu yang digunakan dalam perencanaan dan presentasi Gachiakuta The Stage.

Kami ingin menyatakan dengan jelas bahwa baik produksi ini maupun individu mana pun yang terlibat dalam pembuatannya tidak memiliki niat untuk melakukan diskriminasi, merendahkan, atau mengabaikan ras, etnis, atau budaya apa pun.

Produksi ini adalah karya fiksi yang diadaptasi untuk panggung sambil tetap menghormati pandangan dunia dari manga aslinya. Mengenai karakter, kami telah mengkonfirmasi dengan penulis aslinya apakah kebangsaan atau latar belakang ras tertentu didefinisikan dalam materi sumber.

Desain visual karakter dan pilihan ekspresif yang dibuat dalam produksi ini tidak dimodelkan berdasarkan atau dimaksudkan untuk menggambarkan ras, etnis, atau budaya tertentu namun merupakan ekspresi kreatif yang dikembangkan dalam dunia fiksi. Keputusan pemilihan pemain dan penyutradaraan dibuat tanpa niat untuk mengecualikan atau mendiskriminasi berdasarkan ras atau kebangsaan. Keputusan-keputusan ini dipertimbangkan dengan cermat oleh komite produksi.

Kami dengan hormat meminta agar semua diskusi mengenai produksi ini menghindari fitnah, pelecehan, atau pernyataan yang merusak martabat anggota pemeran atau staf. Seluruh tim produksi tetap berkomitmen penuh pada karya ini dan berupaya menciptakan produksi panggung yang inklusif.

Awal tahun ini, pencipta Gachiakuta, Kei Urana, menanggapi reaksi negatif penggemar terkait keputusan pemilihan pemeran.

"Saya hanya memberi tahu mereka bahwa saya tidak ingin mereka mengenakan 'blackface' selama pertunjukan sebenarnya. Jika kamu masih ingin berkomentar tentang ini, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi," tegasnya.

Pertunjukan Gachiakuta The Stage bakal berlangsung mulai 22 hingga 31 Mei di berbagai kota di Jepang.


(tia/dar)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO