Ide Fabel Satir Koloni Ratih Kumala, Bermula dari Kegelisahan soal Indonesia

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Penulis Ratih Kumala saat menyambangi kantor detikcom, Jakarta Selatan, pada Kamis malam (13/11/2025).
Foto: Gilang Faturahman/ detikcom
Jakarta - Novel fabel satir Koloni meramaikan industri buku Tanah Air. Buku yang ditulis oleh novelis Ratih Kumala terbit sejak Agustus lalu dan disambut baik pembaca setianya.

Koloni yang ceritain soal perebutan kekuasaan dalam sarang semut di antara dua Ratu, yakni Ratu Gegana dan Darojak yang penuh intrik juga menceritakan kehidupan semut. Dalam dunia semut, ada semut pekerja, semut pengasuh, semut jantan, semut prajurit termasuk pemimpinnya Semut Ratu.

Ratih Kumala yang menyambangi kantor detikcom pada Kamis malam (13/11/2025), cerita soal ide novel Koloni yang digarapnya selama 9 bulan tersebut.

"Novel ini sebenarnya bermula dari kekesalan dan kegelisahan aku di tahun 2024. Overwhelmed dengan berita yang ada, itu jadi bahan bakar aku buat menuliskan cerita ini. Kekesalan sampai ubun-ubun yang gak bisa teriak di medsos, akhirnya create sebuah cerita," katanya di kawasan Transmedia, Jakarta Selatan.

Saat itu, naskahnya belum ada judul dan karakter yang dituliskannya adalah manusia. Ratih pun terbersit buat menuliskan tentang historical fiction yang sudah 30 % jadi, tapi berujung kegagalan.

Novelis Kronik Betawi pun teringat akan buku George Orwell yang berjudul Animal Farm. Ia langsung merasa ingin menulis fabel yang bisa melontarkan kritik sosial dan politik pada masanya dan sukses besar di industri.

Mengapa semut? Ratih yang pernah jadi script writer di Trans TV kembali terkenang momen saat kerja di Transmedia. "Dari gedung bertingkat, aku lihat manusia kok kayak semut ya, saya selalu menanalogikan manusia itu kayak semut," ungkapnya.

Sejak awal menulis yang diselingi dengan riset, Ratih sudah tahu ke mana arah karyanya berjalan. Dia punya outline yang dijadikan kerangka dan mind mapping, tapi sembari bercerita ke anak detik, ia bakal menulis bagian mana yang lebih dahulu ditulis.

"Aku akan menulis bagian mana dulu yang aku kuasai, aku nulis itu. Di akhir kayak puzzling (puzzle), semua cerita bisa dibolak-balik," tegasnya.

Dalam proses riset pun, ia bilang Koloni lebih mudah ketimbang Gadis Kretek. Ia tinggal Google-ing dan nonton komunitas semut yang ada di berbagai channel YouTube. Gimana proses kreatif lainnya saat menggarap Koloni? Simak artikel berikutnya ya, detikers.


(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO