Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang melanda empat wilayah administratif masih menjadi misteri. Insiden tersebut kini telah ditangani pihak kepolisian dan masih dalam tahap penyelidikan.
Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Aguatiningtyas Marini menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian dalam penyelidikan kasus karhutla yang terjadi sejak pertengahan Oktober 2026 ini. Aparat penegak hukum kini tengah melakukan pengumpulan barang bukti serta keterangan dari beberapa pihak.
"Terkait penyebab kebakaran kemarin, dari jajaran Polda dan jajaran Polres turut membantu untuk melakukan investigasinya. Kita belum tahu hasilnya seperti apa," ungkap Tyas sapaan akrabnya saat dihubungi detikJatim, Minggu (25/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang jelas kita sudah laporkan serta koordinasikan dengan pihak aparat penegak hukum. Terkait perkembangannya nanti kita juga menunggu dari hasil investigasi yang sekarang sedang berjalan," imbuhnya.
Di sisi lain, insiden kebakaran hebat ini juga menyisakan pekerjaan rumah terkait dampak ekologis terhadap lingkungan sekitar, khsusunya sektor vegetasi. Berdasarkan hasil pantauan sementara, area yang paling parah terdampak kebakaran didominasi oleh ekosistem alang-alang dan semak belukar.
Sementara untuk sebagian besar pohon-pohon berukuran besar yang turut terdampak kebakaran masih mampu bertahan. Kendati demikian, pihak UPT Tahura Raden Soerjo masih akan terus memantau ketat kesehatan pohon yang selamat dari kobaran api.
"Sebagian besar itu didominasi alang-alang. Jadi insyaallah dari sisi pohon besar itu ya, sebagian kalaupun ada di beberapa titik tidak terlalu banyak. Pohon-pohon besar sebagian besar masih dalam konteks berdiri," jelasnya.
Sebagai informasi, karhutla di kawasan Tahura Raden Soerjo ini sempat melanda empat wilayah administratif sekaligus, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Mojokerto hingga Kota Batu. Luasan jangkauan api membuat pemadaman darat yang dilakukan tim gabungan harus berjalan ekstra keras.
Meski sempat menyebar luas, karhutla di kawasan Gunung Arjuno-Welirang telah tertangani. Situasi pada Minggu 25 Oktober 2026 terpantau dari sistem pemantauan dan peringatan dini karhutla (SiPongi) yang dikelola Kementerian Kehutanan, sudah tidak menunjukkan adanya titik hotspot.
