Terminal Arjosari Malang Diusulkan Jadi Titik Berangkat Trans Jatim Koridor 2

Terminal Arjosari Malang Diusulkan Jadi Titik Berangkat Trans Jatim Koridor 2

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 23 Okt 2026 23:15 WIB
Pertemuan Dishub Kota Malang, Organda dan sopir angkot soal penentuan titik keberangkatan bus TransJatim Koridor 2
Pertemuan Dishub Kota Malang, Organda dan sopir angkot soal penentuan titik keberangkatan bus TransJatim Koridor 2. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Terminal Arjosari, Kota Malang, diusulkan menjadi origin destination atau titik keberangkatan bus Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya. Karena Terminal Arjosari dinilai sebagai pusat penghubung moda transportasi di Kota Malang.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyampaikan, bahwa secara umum terminal memiliki beberapa tipe, yakni tipe A, B, serta C.

Khusus Terminal Arjosari sendiri bukan hanya berstatus tipe A yang digunakan moda angkutan antar kota dan antar propinsi saja. Melainkan juga berstatus tipe C, untuk menjadi sarana fasilitas publik bagi angkutan umum perkotaan (angkot).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terminal Arjosari merupakan pusat atau hub penghubung untuk seluruh moda transportasi. Dan menjadi ideal sebagai origin destination (OD) bus Trans Jatim Koridor 2," ungkap Widjaja kepada wartawan di kantornya, Jumat (23/10/2026), sore.

Widjaja juga menjelaskan, bahwa Terminal Arjosari menjadi tempat perpindahan antar moda transportasi yang paling ideal. Mulai dari bus, angkutan online, hingga potensi integrasi lainnya.

ADVERTISEMENT

"Berdasarkan teori, kenyataan, hasil survei Forum Independen Pengawas Transportasi, serta pemberitaan media mengenai angkutan kota dan Trans Jatim, tidak ada satu pun yang menyampaikan dampak buruk terhadap Arjosari," tegasnya.

Sementara tugas pemerintah, lanjut Widjaja, sesuai ketentuan yang berlaku. Memiliki kewajiban dalam menyediakan transportasi publik yang memadai. Termasuk di dalamnya penyediaan transportasi Trans Jatim baik koridor I maupun koridor II.

"Keberadaan Trans Jatim merupakan suatu kebutuhan mutlak bagi masyarakat pengguna transportasi, dengan tetap memperhatikan para pelaku transportasi (pengemudi angkutan)," ujarnya.

Widjaja menambahkan, ada beberapa kompensasi yang diberikan terhadap pengemudi angkutan umum untuk beroperasinya bus Trans Jatim Koridor 2.

Pertama adalah memberikan prioritas kepada keluarga pengemudi angkutan umum untuk terlibat dalam pengoperasian bus Trans Jatim, pemberian BPJS Ketenagakerjaan, subsidi pajak bagi angkutan serta layanan angkutan pengumpan atau feeder.

"Ada lima kompensasi yang diberikan kepada pengemudi angkutan umum, diantaranya BPJS tenaga kerja, subsidi pajak, dan angkutan pelajar," imbuhnya.

Sementara Sekretaris Organda Kota dan Kabupaten Malang Purwono menuturkan, bahwa desain pengoperasi bus Trans Jatim Koridor 2 diniai telah ideal. Termasuk memilih Terminal Arjosari Tipe C sebagai titik keberangkatannya.

"Idealnya Trans Jatim ini standby di Arjosari. Ketika masyarakat dari luar kota itu masuk ke Malang, ini kan pintu masuknya di Terminal Arjosari," kata Purwono terpisah.

Selain itu, Purwono juga menyinggung adanya kompensasi yang diberikan kepada para sopir angkutan umum di Kota Malang yang merasa terdampak atas beroperasinya bus Trans Jatim Koridor 2 nanti.

Satu diantaranya memberikan BPJS Ketenagakerjaan. Kemudian keluarga sopir dilibatkan apakah menjadi sopir, kru bus, pramugara atau pramugari bus Trans Jatim.

"Kemudian yang lain terkait dengan kegiatan pembersihan halte, kemudian cuci bus, itu juga itu nanti kita akan ambilkan dari teman-teman pengemudi juga," ungkapnya.

"Jadi sebetulnya kalau kita mau jujur, pemerintah ini sudah cukup untuk melihat kemudian memberikan manfaatlah untuk teman-teman (sopir angkot). Sehingga harapan kami kita membuka sudut pandang, membuka dada untuk kita bisa terima ini dengan baik," sambungnya.

Upaya Dinas Perhubungan Kota Malang bersama Organda menyampaikan wacana Terminal Arjosari Tipe C sebagai origin destination atau titik keberangkatan bus Trans Jatim Koridor 2, belum mendapatkan persetujuan dari paguyuban para sopir angkot di Kota Malang.

Dari pertemuan yang digelar di kantor Dinas Perhubungan Kota, Jumat sore, para sopir menolak wacana tersebut.

Menanggapi hal itu, Widjaja menyampaikan jika akan menyampaikan aspirasi para sopir kepada Dinas Perhubungan Propinsi Jawa Timur.

"Penentuan atau penetapan terkait titik pemberangkatan (Origin Destination), akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Perhubungan Provinsi," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads