- Khutbah Jumat Berbagai Tema 1. Relasi Hari Santri dan Cinta Negeri 2. Peran Penting Seorang Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak 3. Mencintai Sesama Manusia, Cermin Kesemournaan Islam 4. Pentingnya Mengonsumsi Makanan dan Minuman Bersertifikat Halal 5. Mencintai dan Dicintai Rasulullah 6. Pentingnya Keadilan Para Pemimpin 7. Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal 8. Menjadikan Momentum Keagamaan sebagai Akar Penguat Persaudaraan 9. Tentang Usia Manusia 10. Memahami Hakikat \
Khutbah Jumat dapat mengangkat beragam persoalan kehidupan, mulai dari memperkuat ketakwaan, membangun keluarga yang harmonis, menjaga persaudaraan, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap bangsa dan sesama manusia.
Materi khutbah yang baik tidak hanya berisi nasihat keagamaan, tetapi juga mengajak jamaah menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah Jumat Berbagai Tema
Ada banyak tema yang dapat dipilih untuk disampaikan oleh khatib kepada jemaahnya. Berikut ini contoh khutbah Jumat singkat dengan berbagai tema menarik dan terbaru yang bisa jadi pilihan bagi khatib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Relasi Hari Santri dan Cinta Negeri
Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc, MA, Ketua 4 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
اَلسَّلَامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مَنْ هُوَ خَيْرُ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
أَللّٰهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَادِقِ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.
أّمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ تَنْزِيْلِهِ: (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk menunaikan ibadah Jumat.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah Jumat, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sesungguhnya, ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan iman kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan bertakwa. Amin ya Rabbal 'alamin.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Ketahuilah, bahwa 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Agresi Militer Belanda Kedua yang membonceng tentara Sekutu (Inggris) untuk kembali menjajah Indonesia, pasca kekalahan Jepang, memantik kesadaran para ulama dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang belum lama diproklamirkan.
Lalu, melalui Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari (selaku pendiri Nahdlatul Ulama/NU) pada tanggal 22 Oktober 1945, perlawanan ulama, kaum santri dan segenap rakyat menentang penjajah Belanda berkobar di seantero negeri.
Puncaknya, meletuslah pertempuran hebat antara kaum santri dan pasukan Belanda di Surabaya, pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Dari episode sejarah bangsa Indonesia tersebut di atas, dan episode panjang lainnya dari perjuangan ulama dan kaum santri untuk negeri ini, akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, perjuangan ulama dan kaum santri diakui oleh Pemerintah Indonesia, dengan diperingatinya Hari Santri Nasional pada setiap tanggal 22 Oktober, meski baru 70 tahun setelah episode sejarah Fatwa Resolusi Jihad berlalu.
Alhamdulillah, jasa dan peran serta keberadaan pesantren pun semakin diakui dan diapresiasi dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2019.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Perjuangan ulama dan kaum santri tidak lepas dari doktrin luhur yang terpatri di dalam sistem nilai keislaman, yaitu "Hubbul wathan minal iman," atau yang kita kenal dengan prinsip "Cinta tanah air adalah manifestasi keimanan".
Ia bukanlah sebuah redaksi dari hadis Nabi, bukan pula redaksi dari ayat suci Alquran. Namun, doktrin yang digagas dan dicetuskan oleh para ulama tersebut selaras dan senapas dengan hadis Nabi dan ayat suci Ilahi.
Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan kehangatan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan, sehingga siapa pun yang berusaha menjajah dan mengusir dari tanah air tersebut, Islam memerintahkan untuk melakukan pembelaan dan perlawanan. Demikianlah pemahaman tersirat yang terdapat dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8.
Allah SWT berfirman:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Dari ayat di atas kita pahami bahwa Alquran mensejajarkan antara agama dan tanah air. Alquran memberi jaminan kebebasan beragama, sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka dan berdaulat. Maka jelas sekali, cinta kepada tanah air adalah bagian integral dari cinta kepada agama.
Zumratal Mu'minin Akramakumullah,
Dalam sebuah riwayat hadis, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahirannya, Makkah al-Mukarramah. Saat itu beliau bersabda:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُوْنِيْ مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
"Betapa baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau adalah negeri yang paling kucintai. Andai kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), tentu aku tidak tinggal di negeri selainmu." (HR Ibnu Hibban)
Setelah pengusiran tersebut, Nabi SAW lantas hijrah ke kota Yatsrib, yang di kemudian hari beliau namakan dengan Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah SAW pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Di dalam Shahih Bukhari doa beliau itu terekam:
اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau lebihkanlah cinta itu." (HR Al-Bukhari)
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri yang tumbuh dari nurani keimanan manusia. Orang yang mencintai sesuatu, apa pun itu, termasuk tanah air, maka ia akan memelihara dan merawat apa yang ia cintai. Ia akan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada apa yang ia cintai itu.
Orang yang mencintai juga akan selalu bersedia berkorban untuk kemaslahatan dan kepentingan yang ia cintai itu. Ia akan melindungi apa yang ia cintai itu. Ia tidak akan mengkhianati dan menodai cintanya itu dengan segala hal dan perbuatan yang merusak dan menghancurkan apa yang ia cintai itu. Begitulah seharusnya cinta kita terhadap tanah air kita ini, Indonesia.
Akhirnya, semoga doktrin "Hubbul wathan minal iman" yang kita warisi dari para ulama dan kaum santri para pejuang negeri terdahulu, etos juangnya dapat senantiasa kita rawat dan kita pupuk, agar terus tumbuh berkembang dan menghasilkan aneka buah pembangunan Indonesia, yang hasilnya dapat kita nikmati bersama, dan juga kita wariskan kepada anak cucu kita, generasi penerus bangsa. Amin ya Rabbal 'Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
2. Peran Penting Seorang Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak
Oleh: KH Sobrun Jamili, S.Pd.I, Sekretaris 5 MUI kota Tangerang
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الّذِيْ جَعَلَ الْأَمْوَالَ وَالْبَنِيْنَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا،وَأَمَرَنَا بِتَرْبِيَتِهِمْ عَلٰى مَنْهَجِ الْإِسْلَامِ وَالتَّقْوَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الْعُظْمَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَاوَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْخُلُقِ الْأَسْمَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَعْلَامِ الْهُدَى.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ،اِتَّقُوا اللّٰهَحَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَسْؤُولُونَ عَنْ رَعَايَاكُمْ يَوْمَ اللِّقَاءِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فَيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ)، وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ).
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَطِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Berharap agar kita layak mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, teladan terbaik kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Bagi kita, anak adalah anugerah sekaligus juga amanah dari Allah SWT. Kita, selaku orang tua wajib mendidik dan menjaganya dalam mengantarkan mereka menuju jalan yang benar dan lurus sesuai fitrahnya.
Jika kita ajarkan kebaikan dan kebenaran, maka mereka akan berada dijalan lurus menuju keselamatan. Namun jika sebaliknya, maka jalan kesesatanlah yang akan dilalui oleh mereka.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
"Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi." (HR Bukhari dan Muslim)
Saat ini, kita sering terjebak dalam stigma bahwa urusan mendidik anak, menemani bermain, dan membentuk karakter ego anak adalah tugas mutlak seorang ibu. Sementara ayah, sering kali dianggap cukup hanya sebagai mesin pencari nafkah semata.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut oleh para pakar sosiologi sebagai "fatherless country" atau negeri tanpa ayah-sebuah kondisi di mana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis dan spiritual dalam kehidupan anak-anaknya.
Sejatinya, Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian. Alquran memberikan porsi yang sangat besar dalam menggambarkan bagaimana dialog-dialog pengasuhan justru banyak dilakukan oleh seorang ayah.
Dr Tariq al-Suwaidan dalam riset statistik dan numerik Alquran yang dipublikasikan dalam format buku yang berjudul Al-Izazul Adadi fil Qur'anil Karim, yang diterbitkan pada tahun 1990 hingga awal tahun 2000 menyampaikan hasil risetnya sebagai berikut:
"Bahwa di dalam Alquran ada 17 dialog antara orang tua dan anak. 14 dialog melibatkan peran Ayah, 2 dialog melibatkan peran Ibu, dan 1 dialog melibatkan gabungan kedua orang tua dalam menghadapi anak yang membangkang."
Maka, 14 berbanding 2 ini adalah sebuah pesan eksplisit dari Allah SWT, bahwa peran ayah sangat dominan dalam tumbuh kembang anak untuk membentuk karakter anak dalam masalah ketauhidan, ketataan kepada Tuhan, penanaman akhlak dan moral, adab sosial kemasyarakatan, bahkan visi untuk menghadapi masa depan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...."
Ayat ini merupakan khitab atau seruan yang ditujukan utama kepada para kepala keluarga, yaitu para ayah. Ayah adalah benteng utama, komandan, dan penanggung jawab hitam-putihnya masa depan anak di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga mempertegas tanggung jawab besar ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya... Seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya."
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Jika kita membuka lembaran kitab-kitab para ulama, kita akan mendapati betapa tegasnya mereka dalam menyoroti peran ayah. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, menerangkan satu hal yang sangat menampar kita, selaku para ayah. Beliau mengungkapkan:
"Kerusakan yang terjadi pada anak, mayoritas penyebabnya adalah karena kelalaian ayah. Ayah mengabaikan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak sejak kecil, sehingga anak-anak tidak memberikan manfaat untuk diri mereka sendiri dan orang tua mereka saat tumbuh dewasa."
Pendapat ulama ini selaras dengan temuan para pakar pendidikan modern. Berbagai studi psikologi anak menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan kehadiran sosok ayah yang aktif (father-presence) memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi, lebih percaya diri, lebih mandiri, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang jauh lebih baik.
Sebaliknya, anak yang kehilangan figur ayah (baik karena perceraian, kematian, atau ayah yang sibuk bekerja tanpa interaksi) rentan mengalami depresi, kecemasan, penurunan prestasi akademik, hingga terjerumus pada kenakalan remaja dan narkoba.
Terkait hal itu, para pakar pendidikan menekankan bahwa ibu memberikan rasa aman dan empati, sedangkan ayah memberikan tantangan, ketegasan, dan mengenalkan batas-batas dunia luar.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Mari kita tengok kisah teladan yang abadi di dalam Alquran. Allah SWT mengabadikan nama seorang ayah yang bukan nabi, bukan pula raja, namun namanya kekal menjadi nama surat karena kehebatannya dalam mendidik anak. Tidak lain, beliau adalah Luqman Al-Hakim.
Dalam surat Luqman ayat 13, Allah mengabadikan momen kedekatan Luqman dengan anaknya:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'"
Perhatikan panggilan Luqman kepada anaknya, "Ya Bunayya". Ini adalah panggilan kasih sayang, sebuah panggilan yang melembutkan hati anak.
Luqman tidak mendidik dengan membentak, tidak pula mentransfer kurikulum kehidupan dengan penuh amarah. Ia mendidik dengan kedekatan hati, mengajarkan tauhid, akhlak, shalat, dan adab bermasyarakat secara langsung.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Kisah teladan lainnya datang dari Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah ayah yang sangat sibuk, berdakwah melintasi negara dan benua. Namun, ketika beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail, beliau tidak langsung mengeksekusinya secara otoriter. Nabi Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi, meminta pendapatnya secara demokratis. Dialog tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Psikologis yang dibangun Ibrahim membuat Ismail tanpa ragu menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Demikianlah ketaatan Ismail lahir dari kualitas pengasuhan Ibrahim yang luar biasa.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Lalu, bagaimanakah kita bisa meneladani para tokoh di atas di era modern yang penuh tantangan digital ini? Di sini, setidaknya ada tiga peran mendasar yang harus diambil oleh seorang ayah saat ini, yakni sebagai berikut.
1. Ayah sebagai pendidik iman dan akhlak (The Spiritual Leader)
Ayah harus menjadi teladan utama dalam beribadah. Jangan sampai anak melihat ayahnya jarang ke masjid, gemar berbohong, atau sibuk dengan gawai saat adzan berkumandang.
2. Sebagai pemberi kasih sayang dan perhatian (The Emotional Anchor)
Sempatkan waktu setidaknya 15-30 menit sehari tanpa gangguan apa pun untuk mengobrol, mendengarkan keluh kesah anak, dan memeluk mereka.
3. Sebagai penjaga batasan dan disiplin (The Coach)
Ayah mengajarkan ketegasan, sportivitas, dan hukum sebab-akibat dalam kehidupan agar anak siap menghadapi kerasnya dunia di luar rumah.
Menjadi ayah bukanlah sekadar status biologis setelah pernikahan. Menjadi ayah adalah sebuah profesi ukhrawi, sebuah amanah suci yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah Allah SWT.
Mencari nafkah adalah kewajiban yang mulia, namun jangan sampai demi menjamin masa depan finansial anak, kita justru menghancurkan masa depan moral, mental, dan spiritual mereka karena ketidakhadiran kita di sisi mereka.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada para ayah agar mampu mengemban amanah pengasuhan ini dengan baik, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang saleh, qurrata a'yun, dan pembawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan kedua orang tuanya.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
3. Mencintai Sesama Manusia, Cermin Kesemournaan Islam
Oleh: Dr. KH. Ahmad Suja'i Mughni, MM, Ketua 2 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً، وَأَمَرَ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَاةً دَائِمَةً مَقْبُوْلَةً تُؤَدِّيْ بِهَا عَنَّا حَقَّهُ الْعَظِيْمَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ)
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sering kali kita memahami iman hanya sebatas hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Sang Pencipta melalui shalat, zakat, dan puasa. Namun, Islam adalah agama yang sempurna yang juga menekankan hubungan horizontal antar sesama manusia.
Salah satu tolak ukur paling nyata dari kesempurnaan iman seseorang adalah sejauh mana ia mampu mencintai sesamanya.
Islam adalah agama yang dibangun di atas kasih sayang dan cinta. Salah satu bukti kesempurnaan iman seorang muslim bukan hanya terletak pada ibadah ritualnya, tetapi pada sikap cintanya kepada sesama manusia.
Iman yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia, penuh empati, dan menjauhkan diri dari kebencian serta permusuhan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah Ta'ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia, tanpa memandang latar belakang, selama tidak mengajak kepada kemaksiatan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa cinta kepada sesama merupakan ukuran kualitas iman seseorang. Semakin tinggi imannya, semakin besar kasih sayangnya.
Setidaknya terdapat dua hal penting yang tersirat dalam hadis di atas, yakni sebagai berikut:
Pertama, cinta di antara sesama manusia adalah syarat kesempurnaan iman. Artinya, iman bukanlah sekadar ucapan di lisan atau keyakinan di hati, melainkan tercermin dalam akhlak dan empati.
Hadis tersebut merupakan kaidah emas dalam Islam. Standar kebaikan yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, haruslah menjadi standar kebaikan yang kita inginkan bagi orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Jika kita tidak ingin disakiti, maka janganlah menyakiti sesama.
Kedua, membangun empati dan kepedulian. Ketahuilah, bahwa mencintai sesama manusia berarti merasakan penderitaan mereka dan ikut berbahagia atas keberuntungan mereka.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaiakanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Di sini ditegaskan, bahwa persaudaraan (ukhuwah) yang dibangun di atas fondasi iman melampaui batas-batas nasab, suku, maupun bangsa. Dan bahwa mencintai dan menyayangi sesama manusia adalah bentuk pengakuan bahwa kita semua adalah hamba Allah yang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dan keadilan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kedengkian kepada sesama manusia. Al-Ghazali juga menekankan bahwa ibadah yang paling cepat mengangkat derajat seseorang adalah menebar kemanfaatan bagi manusia lainnya.
Bahkan, ulama besar Sufyan bin 'Uyainah pernah berkata: "Bukanlah seseorang dikatakan mengenal Allah jika ia tidak mengasihi makhluk-Nya? Barang siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti akan mencintai apa yang dicintai Allah, dan Allah mencintai kasih sayang di antara hamba-Nya."
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mencintai sesama manusia dalam konteks kehidupan modern saat ini dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, di antaranya:
1. Menjaga lisan dan tangan di ruang digital
Wujud nyata kasih sayang di era digital adalah dengan bijak bermedia sosial. Kita dapat mengamalkannya dengan tidak menyebarkan berita bohong (hoaks), tidak memproduksi fitnah, serta menghindari komentar yang menghina atau menjatuhkan orang lain, demi terciptanya ekosistem digital yang sehat dan damai.
2. Peka dan ringan tangan membantu kesulitan sesama
Kepedulian sosial dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti sigap membantu tetangga atau rekan kerja yang sedang tertimpa musibah. Bantuan ini tidak selalu harus berupa materi, tetapi juga bisa melalui tenaga, waktu, atau sekadar kehadiran untuk menguatkan mental mereka.
3. Berjiwa besar dengan memberi maaf
Menebar cinta kasih juga berarti merawat kesehatan mental dan batin dengan cara tidak menyimpan dendam. Selalu membuka pintu maaf atas kesalahan orang lain adalah bentuk kedewasaan emosional yang memutus rantai kebencian dan menciptakan keharmonisan antarsesama.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jamaah sekalian, mari kita jadikan cinta kepada sesama sebagai gaya hidup. Iman kita tidak akan mencapai derajat kesempurnaan jika kita masih memelihara kebencian, rasisme, atau sikap takabur yang merendahkan manusia lain. Ingatlah bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, dan puncak dari akhlak adalah kasih sayang (rahmah).
Mencintai sesama manusia bukan hanya dengan ucapan, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata. Kita menolong yang lemah, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, serta menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain.
Islam melarang segala bentuk kebencian, fitnah, dan permusuhan yang merusak persaudaraan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim adalah sumber keselamatan bagi orang lain, baik dari lisan maupun tangannya.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa hakikat iman tampak pada akhlak seseorang terhadap sesamanya. Oleh karena itu, marilah kita jadikan cinta dan kasih sayang sebagai prinsip hidup. Di tengah perbedaan, kita kedepankan toleransi. Di tengah perselisihan, kita utamakan musyawarah. Di tengah ujian kehidupan, kita hadir sebagai penebar kebaikan.
Sebagai penutup, marilah kita merenungi bahwa setiap manusia yang kita temui adalah ladang pahala bagi kita. Dengan mencintai mereka karena Allah, kita sebenarnya sedang menjemput cinta dan ridha Allah SWT.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
4. Pentingnya Mengonsumsi Makanan dan Minuman Bersertifikat Halal
Oleh: KH Abdul Muiz Ali, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَسَطَ لِعِبَادِهِ أَبْوَابَ الْأَرْزَاقِ، وَأَبَاحَ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ، وَجَعَلَ تَحَرِّيَ الْحَلَالِ مِنْ صِدْقِ الْإِيمَانِ وَحِفْظِ الْأَمَانَاتِ، وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الْخَبَائِثِ وَأَكْلِ الْحُقُوقِ وَاتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ. نَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَوْلَانَا مِنَ النِّعَمِ وَالْهِبَاتِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِمَّا اقْتَرَفْنَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالتَّبِعَاتِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ وَتُكْشَفُ الْخَفِيَّاتُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، دَعَا إِلَى طِيبِ الْمَكَاسِبِ وَصِدْقِ الْمُعَامَلَاتِ، وَهَدَى أٌمَّتَهُ إِلَى الْوَرَعِ وَاجْتِنَابِ الشُّبُهَاتِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، إِمَامِ الْهُدَى وَقُدْوَةِ الْأُمَنَاءِ وَالثِّقَاتِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ وَالْمَكْرُمَاتِ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَتِ الْأَيَّامُ وَالسَّاعَاتُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَفِي الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمُعَامَلَاتِ؛ فَإِنَّ مَنْ رَاقَبَ اللَّهَ فِي كَسْبِهِ وَقُوتِهِ، كَانَ أَحْرَى بِالسَّلَامَةِ مِنَ التَّبِعَاتِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: (يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ) وقال سبحانه: (يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ)
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Marilah kita memperbarui ketakwaan kepada Allah dengan memperhatikan perkara yang setiap hari begitu dekat dengan kita: makanan yang kita santap dan nafkah yang kita bawa pulang. Di tengah kesibukan kota, sering kali makan menjadi aktivitas yang kita selipkan di antara aktivitas lain.
Sarapan sambil berangkat, makan siang di sela rapat, lalu memesan makan malam melalui telepon ketika badan sudah letih. Makanan datang dengan cepat; kesempatan untuk memikirkan asal-usulnya justru semakin sedikit.
Kita tentu ingin memberikan yang terbaik kepada keluarga. Kita memilih makanan yang bersih, membaca tanggal kedaluwarsa, dan berusaha menyesuaikan belanja dengan kemampuan. Dalam perhatian yang baik itu, ada amanah yang perlu terus kita hidupkan: memastikan bahwa yang kita nikmati dibolehkan oleh Allah.
Anak yang menunggu makanan di rumah belum dapat memeriksa pemasok daging atau bahan tambahan di dalamnya. Ia menerima dengan percaya. Di situlah kasih sayang orang tua memperoleh bentuk yang sangat nyata: mengusahakan makanan yang halal dengan nafkah yang halal pula.
Ayat yang baru kita dengarkan, mempertemukan dua tuntunan, halalan thayyiban: halal dan baik. Makanan halal harus tetap dijaga kebersihan, keamanan dan kelayakannya. Sesuatu yang boleh dimakan juga perlu dikonsumsi secara wajar, dengan memperhatikan keadaan tubuh. Allah berfirman, yang artinya: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31).
Maka berdasarkan prinsip tersebut, perhatian terhadap sertifikat halal harus berjalan bersama perhatian terhadap kesehatan dan kesederhanaan. Artinya, masing-masing mempunyai tempat dalam tanggung jawab kita.
Lebih dalam lagi, Allah menghubungkan makanan dengan pengabdian. Kepada para rasul, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Mu'minun: 51)
Penyandingan antara makanan yang baik dan amal saleh ini mengajak kita memandang makanan sebagai bagian dari kehidupan beragama. Tenaga untuk bekerja, melayani orang tua, mendidik anak, dan menunaikan shalat perlu ditopang oleh sesuatu yang kita peroleh dengan benar. Kesalehan yang kita harapkan tumbuh dalam rumah tangga patut kita usahakan sejak mencari penghasilan, memilih belanja, sampai menghidangkan makanan.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."
Dalam hadis yang sama, beliau menyebut seorang lelaki yang menempuh perjalanan panjang, kusut rambutnya, berdebu tubuhnya, dan mengangkat kedua tangan sambil memohon, "Ya Rabb, ya Rabb...." Kemudian beliau bersabda:
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
"Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram. Maka bagaimana doanya akan dikabulkan?" (HR Muslim)
Betapa dekat peringatan ini dengan kehidupan kita. Kita bekerja keras, pulang dalam keadaan lelah, lalu berdoa agar Allah memudahkan urusan keluarga. Hadis ini mengajak kita menyertai doa dengan pemeriksaan diri: adakah hak orang lain yang masih kita tahan?
Adakah penghasilan yang kita anggap benar hanya karena semua orang di lingkungan kerja melakukannya? Adakah makanan yang sudah jelas bermasalah, tetapi tetap kita beli karena murah atau disukai keluarga?
Asupan haram merupakan penghalang terkabulnya doa. Namun demikian, di sini perlu dipahami pula, hadis tersebut tidak memberi kita hak untuk menilai bahwa setiap orang yang sedang diuji pasti memakan yang haram. Sebab, para nabi pun mengalami ujian yang berat.
Arah peringatan dalam hadis tersebut tidak lain adalah untuk memperbaiki diri, sekaligus tetap berharap kepada rahmat Allah. Bila ada yang keliru dalam nafkah kita, pintu taubat terbuka. Bersegeralah menghentikan pelanggarannya, sesali perbuatannya, dan kembalikan hak yang menjadi milik orang lain.
Jamaah yang Dimuliakan Allah SWT,
Untuk menjaga kehalalan dengan benar, kita perlu memahami apa yang sebenarnya harus dijaga. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya' 'Ulumiddin:
الْمَالُ إِنَّمَا يَحْرُمُ إِمَّا لِمَعْنًى فِي عَيْنِهِ أَوْ لِخَلَلٍ فِي جِهَةِ اكْتِسَابِهِ
"Harta menjadi haram karena sifat yang terdapat pada bendanya, atau karena cacat pada cara memperolehnya."
Penjelasan ini membuat perhatian kita utuh. Ada bahan yang memang diharamkan, seperti daging babi dan khamr (minuman keras dan narkoba). Ada hewan yang jenisnya halal, tetapi dagingnya baru boleh dimakan setelah memenuhi ketentuan penyembelihan, seperti sapi dan ayam.
Ada pula makanan yang bahan dan prosesnya halal, tetapi seseorang memperolehnya dengan mencuri atau membeli menggunakan harta yang bukan haknya.
Maka tulisan "tidak mengandung babi" sebenarnya belum menjelaskan seluruh keadaan sebuah produk. Pada daging ayam, misalnya, kita masih perlu memperhatikan penyembelihannya. Pada pangan olahan, kita perlu mengetahui asal bahan tambahan dan proses yang dapat mempengaruhi kehalalannya.
Nama bahan yang asing juga tidak dengan sendirinya berarti haram. Gelatin, pengemulsi, dan perisa harus dinilai berdasarkan bahan asal serta prosesnya, bukan berdasarkan mudah atau sulitnya kita mengucapkan namanya.
Majelis Ulama Indonesia, melalui Fatwa Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal, menetapkan: Hewan harus dalam keadaan hidup ketika disembelih. Ketentuan itu menunjukkan bahwa jenis hewan saja belum cukup.
Fatwa tersebut juga mengatur penyembelih, alat, proses pemotongan, serta penanganan daging sesudahnya. Pemingsanan yang dibolehkan mempunyai syarat, antara lain tidak menyebabkan kematian atau cedera permanen. Dengan demikian, pemeriksaan halal memang membutuhkan pengetahuan dan keahlian.
Dalam Fatwa Nomor 4 Tahun 2003 tentang Standardisasi Fatwa Halal, MUI juga menaruh perhatian pada penelusuran bahan dan proses, termasuk media yang dipakai untuk pertumbuhan mikroba dalam produksi pangan.
Hal ini menjelaskan mengapa penilaian tidak selalu selesai dengan melihat rupa makanan di meja. Ada bahan yang bekerja selama produksi, meskipun konsumen tidak dapat mengenalinya melalui rasa dan warna.
Perhatian terhadap proses itu juga tampak dalam keputusan Majma' al-Fiqh al-Islamiy ad-Duwaliy, sebuah lembaga fiqih internasional di bawah Organisasi Kerja Sama Islam.
Keputusan Nomor 210 Tahun 2015 membahas "istihalah", yakni perubahan hakikat suatu bahan menjadi bahan lain dengan sifat dan karakteristik berbeda. Majma' membedakan perubahan yang sempurna dari perubahan sebagian, serta menegaskan perlunya ukuran yang diakui para ahli.
Jadi, pernyataan "sudah diolah" belum cukup untuk menetapkan hukum. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi harus benar-benar diketahui. Perincian penerapannya pun dapat berbeda di antara lembaga fatwa. Karenanya, konsumen tidak dibebani memutuskan sendiri persoalan tersebut hanya dari informasi singkat di media sosial.
Di sinilah sertifikasi halal menjadi penting bagi kehidupan perkotaan. Seporsi makanan dapat melibatkan rumah potong, pabrik bumbu, gudang, dapur produksi, dan beberapa pemasok. Kita tidak mungkin memeriksa semuanya seorang diri.
Pemeriksaan oleh pihak yang berwenang serta penetapan kehalalan melalui mekanisme yang berlaku membantu kita memperoleh dasar kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sertifikat halal memberi informasi tentang produk dalam cakupannya; ia tidak menilai seluruh amal pemilik usaha atau menyucikan semua sumber penghasilannya.
Karena itu, memilih makanan dan minuman bersertifikat halal merupakan ikhtiar penting untuk menunaikan kewajiban mengonsumsi yang halal, terutama pada produk olahan yang bahan serta prosesnya tidak kita saksikan.
Kehati-hatian ini mempunyai jalan yang praktis: periksa identitas produk, pastikan sertifikatnya benar-benar berkaitan dengan produk tersebut, dan mintalah penjelasan dengan sopan bila ada informasi yang belum jelas.
Hadirin Rahimakumullah,
Agama juga membimbing kita bahwa ketelitian melahirkan ketenteraman. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara samar, ia telah menjaga agama dan kehormatannya." (HR Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perkara yang samar itu tidak jelas kehalalan atau keharamannya bagi banyak orang. Tentang jalan mengetahui hukumnya, beliau mengatakan:
وَأَمَّا الْعُلَمَاءُ فَيَعْرِفُونَ حُكْمَهَا بِنَصٍّ أَوْ قِيَاسٍ أَوِ اسْتِصْحَابٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ
"Adapun para ulama, mereka mengetahui hukumnya melalui nas, kias, istishhâb, atau cara lainnya."
Sesuatu yang belum kita ketahui tidak berarti selamanya tidak dapat diketahui. Jalan keluarnya adalah mencari penjelasan kepada orang yang berilmu dan mengetahui keadaan produknya.
Dar al-Ifta' al-Mishriyyah, lembaga fatwa Mesir, dalam Fatwa Nomor 3452 tentang daging impor, menjelaskan syarat jenis hewan, penyembelihan, dan penyembelihnya.
Fatwa itu juga mengakui dasar pengetahuan yang bersifat dugaan kuat dan informasi dari pihak yang layak diterima keterangannya. Mengenai keterangan penyembelihan, dinyatakan:
وَكِتَابَةُ عِبَارَةِ مَذْبُوحٌ عَلَى الطَّرِيقَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ تُعَدُّ شَكْلًا مِنْ أَشْكَالِ إِخْبَارِ مَنْ هُوَ أَهْلٌ لِلذَّكَاةِ
"Pencantuman keterangan 'disembelih menurut tata cara Islam' merupakan salah satu bentuk pemberitahuan dari pihak yang memenuhi syarat penyembelihan."
Penjelasan tersebut berlaku dalam konteks syarat-syarat yang diterangkan fatwa itu. Ia mengajarkan bahwa seseorang tidak harus menyaksikan setiap penyembelihan agar dapat menerima keterangan yang layak dipercaya.
Di Indonesia, sertifikasi resmi menyediakan mekanisme untuk membangun dan memeriksa kepercayaan tersebut. Apabila terdapat bukti nyata pelanggaran, tentu bukti itu harus ditindaklanjuti. Namun, kemungkinan yang hanya kita bayangkan tidak layak dijadikan dasar untuk mencurigai semua makanan.
Makanan yang belum bersertifikat tidak otomatis haram zatnya. Di sisi lain, pelaku usaha yang termasuk cakupan kewajiban sertifikasi tetap harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Hukum bahan makanan dan kewajiban pengurusan sertifikat perlu dipahami pada tempatnya.
Jangan sampai kita meremehkan pemeriksaan halal. Jangan pula kita merusak nama baik warung tetangga hanya karena belum melihat sertifikatnya. Kita dapat bertanya, mendorong pengurusan, dan membantu mencari pendampingan tanpa mempermalukan orang yang sedang berusaha mencari nafkah.
Allah mengingatkan agar manusia tidak sembarangan mengatakan, "Ini halal dan ini haram," sehingga mengada-adakan kedustaan atas nama Allah (QS. al-Nahl: 116). Peringatan ini patut menemani jari kita ketika hendak meneruskan kabar di grup percakapan.
Sebuah tuduhan dapat menyebar dalam beberapa menit, sedangkan kepercayaan yang rusak belum tentu pulih setelah kita menghapus pesannya. Kesungguhan menjaga makanan perlu disertai kesungguhan menjaga kehormatan sesama.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Saat ini kita berada di ujung akhir masa penahapan kewajiban sertifikasi halal bagi usaha mikro dan kecil untuk produk makanan, minuman, hasil sembelihan, dan jasa penyembelihan. Batas penahapan itu adalah 17 Oktober 2026, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024.
BPJPH menegaskan pelaksanaan kewajiban tahap tersebut akan dimulai pada 18 Oktober 2026. Kesempatan ini patut kita gunakan untuk memperkuat kesiapan, terutama dengan membantu saudara-saudara kita yang usahanya masih kecil.
Kewajiban administratif dalam perlindungan konsumen mempunyai kaitan dengan tanggung jawab keagamaan. Allah memerintahkan ketaatan kepada-Nya, kepada Rasul, dan kepada pemegang urusan di antara kita dalam surat An-Nisa' ayat 59. Rasulullah SAW memberikan batasnya:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
"Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik." (HR Bukhari dan Muslim)
Aturan yang sah untuk melindungi konsumen dan mendukung pelaksanaan syariat patut ditaati sesuai ketentuannya. Tanggung jawab itu berjalan dua arah. Pelaku usaha berkewajiban jujur dan patuh, sementara penyelenggara layanan wajib melayani dengan adil, jelas, dan amanah.
Saudara kita yang menjual sarapan sejak subuh perlu memperoleh bimbingan yang bisa dijalankan. Pengurus masjid, lembaga pendidikan, dan warga yang mempunyai kemampuan dapat membantu mempertemukan mereka dengan pendamping halal yang berwenang. Dengan begitu, ajakan menjaga halal hadir sebagai pertolongan yang terasa.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Kepada saudara-saudara kami yang mengelola warung, katering, toko roti, rumah makan, dan usaha pangan, sungguh besar kepercayaan yang dititipkan kepada saudara. Pembeli tidak menyaksikan apa yang terjadi di dapur.
Ketika ia menyerahkan uang, ia sekaligus mempercayakan makanan yang akan masuk ke tubuhnya dan keluarganya. Menjaga bahan, pemasok, peralatan, serta informasi produk merupakan bagian dari menunaikan kepercayaan itu. Sesudah sertifikat diperoleh, kehalalan harus terus dijaga; perubahan bahan atau proses perlu dilaporkan dan ditangani sesuai ketentuan.
Rasulullah SAW pernah memeriksa setumpuk bahan makanan yang dijual. Beliau mendapati bagian yang basah tersembunyi di dalamnya. Pemiliknya menjelaskan bahwa makanan itu terkena hujan. Beliau menegur agar bagian basah diletakkan di atas sehingga orang dapat melihatnya, lalu bersabda:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
"Barang siapa berbuat curang, ia tidak mengikuti jalanku." (HR Muslim)
Lihatlah perhatian Rasulullah terhadap hak pembeli untuk mengetahui keadaan barang. Pada zaman kita, amanah yang sama hadir dalam keterangan bahan, label, dan klaim halal.
Menyembunyikan perubahan bahan atau menggunakan pengakuan halal yang tidak berhak digunakan adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan. Keuntungan yang diperoleh dari ketidaktahuan pembeli kelak tetap harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Adapun kita yang menjadi pembeli, mari dukung usaha yang jujur dan berupaya memenuhi ketentuan halal. Untuk belanja keluarga, jamuan kantor, kegiatan sekolah, atau konsumsi masjid, masukkan kejelasan halal sebagai pertimbangan sejak memilih penyedia makanan.
Jangan menunggu hidangan datang baru mempersoalkannya. Perhatian yang direncanakan sejak awal lebih bermanfaat bagi semua pihak.
Hadirin yang Dimuliakan Allah
Sebelum khutbah ini kita akhiri, marilah kita kembali kepada diri sendiri. Ada bagian dari halal yang tidak dapat diselesaikan oleh sertifikat produsen: dari mana uang belanja kita berasal. Restoran dapat menjaga dapurnya, tetapi kita sendirilah yang harus menjaga cara memperoleh penghasilan.
Jangan sampai kita begitu teliti membaca komposisi makanan, sementara masih membenarkan suap, mengambil hak rekan kerja, memalsukan tagihan, atau menunda pembayaran yang sudah wajib dan mampu kita tunaikan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
"Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil." (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini perlu kita bawa pulang ke kantor, ke toko, dan ke tempat kita mencari nafkah. Bila ada hak orang lain dalam harta kita, jalan memperbaikinya ialah menunaikan hak tersebut.
Menghidangkan makanan yang lezat kepada keluarga tidak menggugurkan kewajiban mengembalikan harta yang diambil secara zalim. Cinta kepada keluarga justru menguatkan keberanian kita untuk memperbaiki sumber nafkah, meskipun harus mengurangi sesuatu yang selama ini biasa dinikmati.
Kita mungkin belum dapat menyediakan semua yang diinginkan anak-anak. Akan tetapi, kita dapat berusaha memberi mereka teladan tentang batas yang harus dihormati.
Ketika orang tua menolak keuntungan yang tidak benar, anak belajar bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada kesempatan menambah uang. Ketika pedagang tetap jujur meskipun pembeli tidak mengawasi, ia sedang memelihara kepercayaan yang membuat kehidupan bersama menjadi tenteram.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sepulang dari masjid nanti, mari mulai dari sesuatu yang nyata: memeriksa satu produk yang biasa kita beli, menanyakan satu bahan yang memang belum jelas, membantu satu pelaku usaha mengurus kehalalannya, atau menyelesaikan satu hak orang lain yang masih menjadi tanggungan kita.
Kitab berharap, semoga Allah menerima ikhtiar kecil itu, melapangkan rezeki kita melalui jalan yang baik, dan menjadikan makanan di rumah kita sebagai nikmat yang kita syukuri dengan ketaatan.
Semoga tangan yang membawa pulang nafkah kepada keluarga adalah tangan yang bersih dari kezaliman, dan hati yang menikmati rezeki itu senantiasa mengingat kemurahan Allah. Amin.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاسِعِ عَطَاؤُهُ، الْعَظِيمِ إِحْسَانُهُ، الَّذِي أَحَلَّ لَنَا الطَّيِّبَ مِنَ الْأَقْوَاتِ، وَدَعَانَا إِلَى شُكْرِهِ بِحِفْظِ الْحُقُوقِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ. نَحْمَدُهُ عَلَى سَوَابِغِ النِّعَمِ وَالْبَرَكَاتِ، وَنَسْتَعِينُهُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَالشُّبُهَاتِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الزَّلَلِ فِي الْأَقْوَالِ وَالتَّصَرُّفَاتِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُطَّلِعُ عَلَى السَّرَائِرِ وَالْخَفِيَّاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ بِالْهُدَى وَالْبَيِّنَاتِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أُولِي الْفَضْلِ وَالْمَكْرُمَاتِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ؛ فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي أَقْوَاتِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَفِي أَهْلِيكُمْ وَعِيَالِكُمْ، وَأَدُّوا إِلَى النَّاسِ حُقُوقَهُمْ، وَلَا تَجْعَلُوا حَاجَتَكُمْ إِلَى الرِّزْقِ ذَرِيعَةً إِلَى الْعُدْوَانِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ لَا يُطْلَبُ بِمَعْصِيَتِهِ، وَأَنَّ صِدْقَ التَّوَكُّلِ يَقْتَضِي الْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ مَعَ حِفْظِ حُدُودِهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ).
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، الْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّينَ: سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَسَيِّدِنَا عُمَرَ الْفَارُوقِ، وَسَيِّدِنَا عُثْمَانَ ذِي النُّورَيْنِ، وَسَيِّدِنَا عَلِيٍّ الْمُرْتَضَى، وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِينَ، وَعَنْ آلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الِاقْتِدَاءَ بِهِمْ فِي صِدْقِ الْإِيمَانِ، وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَالْجُودِ وَالْعِفَّةِ وَحِفْظِ الْأَمَانَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اللَّهُمَّ أَطِبْ مَكَاسِبَنَا وَمَطَاعِمَنَا وَمَشَارِبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الطَّمَعِ، وَأَيْدِيَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْبُهْتَانِ. وَأَعِنَّا عَلَى رَدِّ الْمَظَالِمِ إِلَى أَهْلِهَا، وَأَدَاءِ الْحُقُوقِ إِلَى أَصْحَابِهَا، قَبْلَ أَنْ نَلْقَاكَ يَوْمَ الْحِسَابِ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِلتُّجَّارِ الصَّادِقِينَ، وَالْعُمَّالِ الْمُخْلِصِينَ، وَالسَّاعِينَ فِي أَرْزَاقِهِمْ بِالْحَلَالِ، وَيَسِّرْ لِأَصْحَابِ الْمَتَاجِرِ وَالْمَشَارِيعِ الصَّغِيرَةِ أَسْبَابَ الْكِفَايَةِ وَالْعَفَافِ. وَوَفِّقِ الْقَائِمِينَ عَلَى فَحْصِ الْأَغْذِيَةِ وَبَيَانِ أَحْكَامِهَا لِلدِّقَّةِ وَالْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْ عِلْمَهُمْ وَعَمَلَهُمْ سَبَبًا لِحِفْظِ الدِّينِ وَسَلَامَةِ الْعِبَادِ.
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ جَائِعَنَا، وَاقْضِ دَيْنَ مَدِينِنَا، وَاشْفِ مَرِيضَنَا، وَارْحَمْ ضَعِيفَنَا، وَاجْعَلْنَا عَوْنًا لِذَوِي الْحَاجَاتِ. اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ سَعَةَ الرِّزْقِ فِتْنَةً لَنَا، وَلَا ضِيقَهُ سَبَبًا لِقُنُوطِنَا، وَارْزُقْنَا فِي السَّعَةِ شُكْرًا، وَفِي الشِّدَّةِ صَبْرًا، وَفِي كُلِّ حَالٍ قَلْبًا مُنِيبًا.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِلْعَدْلِ وَالسَّدَادِ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى حِفْظِ الْحُقُوقِ وَرِعَايَةِ مَصَالِحِ الْعِبَادِ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا الْأَمْنَ وَالسَّلَامَ، وَادْفَعْ عَنْهَا وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَانْصُرِ الْمَظْلُومِينَ، وَفَرِّجْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ). فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
5. Mencintai dan Dicintai Rasulullah
Oleh: KH Arif Hidayat, S.Q, M.Hum, Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang
السَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُه
اَلْحَمَدُ ِللَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ الْعَالِمِ بِمَا فِي الْضَمَائِرِ وَخَفِيِّ الأَسْرَارِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى النِّعَمِ وَتَوَلَّى كَالأَمْطَارِ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَعِبَادِهِ الأخْيَارِ وَأَشْهَدُ أنْ لَّا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الكَرِيْمُ الغَفَّارُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخُتَارُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمِّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ مَا دَامَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ أَمَّا بَعْدُ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ.
إِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ)
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102)
Dan pada hari yang mulia ini pula, tak henti-hentinya khatib mengingatkan, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Mengapa? Sikap saling mengingatkan ini akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman. Inilah intisari firman Allah SWT:
وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Adz-Dzariyat: 55)
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Bulan Rabiul Awal yang kita tempuh saat ini adalah bulan ketika lahirnya manusia mulia, utusan Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dalam surat As-Saba' ayat 28, Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
"Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya." (QS. As-Saba': 28)
Ayat ini menjelaskan empat pokok penting yang perlu dipahami: adanya utusan Allah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, Allah sebagai pengutus, seluruh manusia sebagai yang diutus kepadanya, dan risalah yang penuh rahmat.
Rasulullah SAW bukan hanya sekadar pembawa rahmat, melainkan kepribadian beliau sendiri adalah rahmat. Kemuliaan beliau disampaikan dengan pujian yang agung oleh Allah SWT.
Kemuliaan sifat Rasulullah saw tercermin dalam kesehariannya beliau berdakwah. Sehingga Islam dikenal sebagai agama yang mengajarkan kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.
Hal ini perlu dipahami bahwa pengertian rahmat pada diri Rasulullah SAW adalah ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, hubungan sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antaragama.
Rasulullah SAW mengajarkan untuk saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian dengan menitikberatkan pada ajaran akhlakul karimah, sopan santun, dan tepo seliro.
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Sebagaimana telah dijelaskan, visi pendidikan Rasulullah SAW adalah terciptanya kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat. Sepantasnya sebagai umatnya, kita semua kaum muslimin bersyukur atas diutusnya Rasulullah SAW dan senantiasa mencintai beliau dengan sepenuh hati, dengan kecintaan yang sebenar-benarnya.
Walaupun tidak ada aturan yang menjelaskan cara mencintai Rasul secara khusus, namun kecintaan terhadap Rasulullah SAW dapat dibuktikan dengan beberapa hal, di antaranya dengan memperbanyak membaca shalawat. Sebagaimana diperintahkan dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
Para sahabat Rasulullah SAW telah membuktikan kecintaannya terhadap Rasulullah SAW secara nyata. Pertama, Ali bin Abi Thalib menggantikan Rasulullah SAW saat pengepungan oleh kaum Quraisy pada saat Rasulullah SAW hendak hijrah.
Kedua, berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Ketika tidak ada satupun orang yang percaya kepada Rasulullah SAW telah di-Isra' Mi'raj-kan, Abu Bakar Ash-Shidiq lah orang yang pertama kali meyakini akan kebenaran tersebut.
Ketiga, Umar Bin Khattab tidak rela Rasulullah SAW dikabarkan telah meninggal, sehingga siapa pun yang berani mengatakan berita itu akan dipenggal kepalanya oleh beliau.
Keempat, Umu Sulaym mengumpulkan keringat Rasulullah SAW dan mengabadikannya. Selain memperbanyak bacaan shalawat, cara kita mencintai Rasulullah SAW adalah dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.
Baik berupa perkataan, perbuatan, maupun segala kebiasaan sikap Rasulullah SAW dengan jalan memperbanyak bershalawat dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW, semoga kita semua menjadi orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah SAW.
Dikisahkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi, Syekh Syibli mendatangi Ibnu Mujahid. Secara spontan, Ibnu Mujahid merangkul dan mencium kening Syekh Syibli. Syekh Syibli pun bertanya tentang hal itu. Syekh Mujahid menceritakan bahwa ia pernah bermimpi dan melihat Rasulullah SAW mencium kening Syekh Syibli.
Dalam mimpinya Ibnu Mujahid bertanya kepada Rasulullah SAW, hal apa yang menyebabkan Rasulullah saw begitu mencintai Syekh Syibli. Rasulullah SAW menjawab bahwa Syekh Syibli selalu membaca dua ayat terakhir surat at-Taubah dan shalawat setiap selesai shalat fardhu.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Dan membaca shalawat:
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّد
Kemudian Ibnuu Mujahid menanyakan akan hal itu terhadap Syekh Syibli dan ternyata beliau selalu mengamalkan apa yang diceritakan Rasulullah SAW dalam mimpi Ibnu Mujahid.
Melihat kisah tersebut, bukan hanya berapa banyak shalawat yang dibaca, tetapi konsisten, terus-menerus dan kecintaan sebenar-benarnya kepada Rasulullah SAW-lah yang dapat menjadikan kita semua dikenal oleh Rasulullah SAW dan akan mendapatkan cintanya.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bershalawat dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW sebagai bukti cinta kita. Dan kita semua akan mendapatkan cinta dan syafaat dari beliau, Rasulullah Muhammad SAW. Amin.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah Ta'ala menjamin rahmat dan balasan kebaikan bagi hamba-Nya yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan. Maka, mencintai seseorang yang diperintahkan Allah Ta'ala untuk meneladaninya adalah perbuatan yang sungguh sangat mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR Bukhari)
Mencintai Nabi SAW, sungguh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi yang akan diperoleh. Nabi SAW bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api." (HR Bukhari)
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjukku), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Ali 'Imran: 31)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami maksud dari seseorang yang mencintai suatu kaum yang tidak pernah berjumpa dengannya sekalipun." Lalu Rasulullah SAW bersabda:
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai." (HR Bukhari)
Syekh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi berkata, "Jika seseorang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka kendatipun amalannya tidak sebaik yang dilakukan oleh kaum tersebut sebab keterkaitan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar berbuat serupa."
Oleh karenanya, makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi SAW adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh beliau. Dan bahwa mencintai Nabi SAW adalah ibadah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
6. Pentingnya Keadilan Para Pemimpin
Oleh: Dr KH Ahmad Suja'i Mughni, MM, Ketua 1 MUI Kota Tangerang
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاحِ.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Setiap bangsa mendambakan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan sejati hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, khususnya oleh para pemimpin.
Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak hanya diminta untuk berkuasa, tetapi dituntut untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan suku, status, maupun kepentingan pribadi.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita perhatikan perihal menyangkut keadilan sebagai berikut:
Pertama, keadilan sebagai ruh kemerdekaan.Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kemerdekaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan penjajahan bentuk baru, di mana yang kuat menindas yang lemah.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
Ayat ini menegaskan bahwa perintah pertama Allah kepada manusia, terutama para pemegang urusan (pemimpin), adalah berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, melainkan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa diskriminasi.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kedua, pemimpin adil adalah naungan Allah. Kemerdekaan sejati tercapai saat masyarakat merasa aman karena pemimpinnya takut kepada Allah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih, beliaun bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: ... الإِمَامُ الْعَادِلُ .....
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: ... (salah satunya adalah) Pemimpin yang adil...." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat pemimpin yang mampu menjaga keadilan di tengah godaan kekuasaan yang luar biasa.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketiga, pesan sahabat dan ulama. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah memberikan nasihat emas terkait keberlangsungan sebuah bangsa. Beliau menegaskan: "Sebuah negara yang kafir bisa bertahan jika ia adil, namun sebuah negara yang beriman (muslim) akan hancur jika ia zalim."
Kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa keadilan adalah hukum alam (sunnatullah) untuk stabilitas sebuah bangsa. Jika pemimpin bertindak adil, maka rakyat akan merasa merdeka secara batiniah. Mereka merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelaparan, dan merdeka dari perlakuan semena-mena.
Keempat, implementasi keadilan dalam berbangsa. Setiap pemimpin yang membawa kemerdekaan sejati adalah mereka yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan; mereka yang menjaga lisan dan tindakan dari perbuatan korupsi yang merampas hak rakyat; dan mereka yang mendengarkan keluh kesah masyarakat paling bawah.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah perintah langsung dari Allah, bukan pilihan, apalagi sekadar slogan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya menjadi kata-kata, sementara rakyat tetap terbelenggu oleh ketimpangan dan ketidakpastian.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah." (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan kemuliaan kedudukan pemimpin yang adil, baik dalam keputusan dan kebijakan maupun dalam memperlakukan rakyatnya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sejarah mencatat bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali bermula dari rusaknya keadilan para pemimpin. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, ketika kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan kepentingan rakyat, maka saat itulah kemerdekaan sejati sirna.
Namun, jamaah sekalian, keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin. Rakyat pun memiliki kewajiban menjaga keadilan, dengan tidak berbuat zalim, tidak menyebarkan kebencian, serta tidak mendukung kezaliman dalam bentuk apa pun.
Kemerdekaan sejati lahir ketika pemimpinnya menjalankan amanah dengan jujur; ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu; dan ketika rakyat dapat hidup aman, sejahtera, dan bermartabat.
Jika keadilan hilang, maka sejatinya kita masih terjajah, meskipun negeri ini telah merdeka secara administratif.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita dukung terciptanya keadilan ini mulai dari unit terkecil, yakni kepemimpinan dalam diri sendiri dan keluarga. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada bangsa kita pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan adil, sehingga kemerdekaan yang kita nikmati saat ini benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mari kita tegakkan keadilan dalam diri kita sendiri, dalam rumah tangga kita, hingga pada akhirnya Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil di tengah-tengah kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri kita, Indonesia, dan menjadikannya negeri yang "Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur"-negeri yang subur, makmur, adil, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT. Amiin ya Rabbal 'Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
7. Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal
Oleh: Dr Alvian Iqbal Zahasfan, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Metodologi, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ونستهديه ونشكره، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لا نبي بعدَه.
اللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ التناد.
أما بعد، عباد الله أوصي نفسي أولا وأوصيكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) وقال أيضا: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.)
Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Hari ini, di mimbar yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan, terutama pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan iman dan takwa, dalam arti bersungguh-sungguh dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.
Tak lupa khatib juga mengajak jamaah untuk mempertebal kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karena mencintai Rasulullah merupakan bagian dari iman.
Barang siapa yang ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah. Barang siapa yang ingin merajut jalinan dengan Allah, maka rajutlah jalinan dengan Baginda Nabi. Itulah jalan dan cara yang disampaikan Allah langsung dalam Kitab-Nya, surat Ali Imran ayat 31:
قُل اِن كُنتُم تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِى يُحبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغفِرْ لَـكُم ذُنُوبَكُم وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Sidang Jumat yang Diberkati Allah,
Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema "Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal".
'Ibadallah..., ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah "isti'adzah" atau mohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, sebagaimana terekam dalam doanya berikut ini:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، (وفي رواية: ومن دعوة لا يُستجابُ لها)
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan)." (HR An-Nasai)
Mari kita perjelas satu per satu. Semoga kita dapat memahami kenapa Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal tersebut.
Isti'adzah pertama, Nabi berlindung dari "ilmu yang tidak bermanfaat". Apa itu ilmu yang tidak bermanfaat? Menurut Imam Al-Qadhi 'Iyyadl ilmu yang tidak bermanfaat adalah:
العلم الذي لا يُعمل به، أو لا يهدي إلى طاعة الله، ولا يُثمِر خشيةً ولا صلاحًا
"Ilmu yang tidak diamalkan, atau yang tidak mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, atau yang tidak membuahkan rasa takut dan yang tidak membuahkan kesalehan."
Artinya, ilmu yang dihindari di sini adalah ilmu yang dimiliki tetapi hanya menjadi materi perdebatan, sebagai sarana mencari ketenaran dan popularitas, sebagai bangga-banggaan atau gagah-gagahan, untuk mencari gelar, dan/atau untuk sekadar mencari dunia.
Seharusnya niat mencari ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, melaksanakan kewajiban dan mencari ridha Allah. Sementara buah dari ilmu yang bermanfaat adalah "al-khasyyah" atau rasa takut kepada Allah. Hal ini sebagai ditegaskan Allah dalam surat Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama."
Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,
Isti'adzah yang kedua, Nabi SAW berlindung dari "hati yang tidak khusyuk".
Menurut Al-Qadhi 'Iyyadl, hati yang tidak khusyuk adalah:
هو القلب القاسي الذي لا تَلينه المواعظُ، ولا تُؤثِّر فيه آياتُ الله.
"Yaitu hati yang keras, yang tidak menjadi lunak oleh nasihat dan tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Allah."
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 74:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang memancar sungai-sungai darinya, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
Bahkan, dalam surat Az-Zumar ayat 22, Allah mengancam hati yang keras:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
"Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah keras untuk mengingat Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata."
Sementara itu, menurut Nabi Muhammad, penyebab hati keras ada tiga. Penyebab pertama adalah terlalu banyak tertawa. Nabi SAW bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
"Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati." (HR At-Tirmidzi)
Penyebab kedua adalah dosa yang ditumpuk-tumpuk, tanpa diperhatikan dan disadari. Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
"Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya." (HR Ibnu Majah)
Adapun penyebab yang ketiga adalah jauh dari Allah. Menyangkut hal ini, Nabi SAW bersabda:
أَبْعَدُ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
"Orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras." (HR At-Tirmidzi)
Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,
Isti'adzah yang ketiga adalah memohon perlindungan kepada Allah dari "jiwa yang tidak pernah puas". Jiwa yang tidak pernah puas disebut dengan tamak. Sedangkan kebalikannya adalah jiwa yang qana'ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi 'Iyyadl:
التي لا تَقنَع بما رزَقَها الله، ولا تزال مُتطلعةً إلى الدنيا
"Yaitu jiwa yang tidak merasa cukup terhadap rezeki yang Allah telah bagikan, dan terus-menerus menginginkan kenikmatan dunia."
Dari sini, mari kita perhatikan, bukankah huru-hara, korupsi, perang, dan segala bentuk kerusakan di bumi ini, tidak lain adalah disebabkan jiwa-jiwa yang serakah, yang tamak, yang tak pernah bersyukur, dan tak pernah merasa cukup dengan pemberiaan Allah.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Isti'adzah yang keempat, yang terakhir, adalah berlindung dari "doa yang tidak didengar". Artinya, bukannya Allah tidak mendengar doa kita-karena Allah Maha Mendengar, Allah mendengar segala sesuatu-yang dimaksud di sini adalah Allah tidak mengabulkan doa kita.
Kalau doa tidak dikabulkan, dipastikan ada rasa kecewa dalam diri seseorang. Sebaliknya, jika doanya dikabulkan, tentu akan merasa senang. Lantas, apakah penyebab doa tidak diterima Allah?
Jawabannya adalah tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, sebab harta yang diperoleh dari cara yang haram. Kedua, sebab melakukan kezaliman kepada orang lain. Ketiga, sebab lalai atau tidak yakin saat berdoa.
Karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan dengan saksama. Jangan sekadar membaca doa, melainkan juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa tersebut tidak dikabulkan.
Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,
Demikian inilah empat isti'adzah atau permohonan perlindungan kepada Allah, yang dilakukan oleh Nabi SAW supaya dihindarkan darinya.
Jika kita perhatikan dari urutan hadis di atas, kita dapat menyimpulkannya bahwa; ilmu yang tidak bermanfaat akan melahirkan hati yang tidak khusyuk; hati yang tidak khusyuk akan menumbuhkan jiwa yang rakus; dan jiwa yang rakus akan menghalangi terkabulnya doa.
Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga ilmu kita bermanfaat, hati kita khusyuk, jiwa kita qana'ah, dan doa kita diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
8. Menjadikan Momentum Keagamaan sebagai Akar Penguat Persaudaraan
Oleh: KH Ahmad Saifuddin HAS., S.Ag., MM, Bendahara 2 MUI kota Tangerang
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِهِ، فَهُوَ الرَّحِيْمُ الرَّؤُوْفُ، اللَّطِيْفُ بِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ فِيْ كُلِّ الظُّرُوْفِ. فَلَوْ أُلْقِيَ الْعَبْدُ فِيْ بَحْرٍ زَاخِرٍ وَهُوَ مَكْتُوْفٌ، فَاللُّطْفُ مِنْهُ الْخَفِيُّ وَمِنْهُ الظَّاهِرُ الْمَكْشُوْفُ. يُوْنُسُ وَأَيُّوْبُ وَيُوْسُفُ، هُمُ الْكَوَاكِبُ وَشَمْسُهُمْ أَحْمَدُ عَلَى حُبِّ الْإِلٰهِ عُكُوْفٌ، فَإِنَّ هَوَى الْمُحِبِّ عَلَى مُرَادِ حَبِيْبِهِ مَعْطُوْفٌ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ شَهَادَةَ حَرِيْصٍ مَلْهُوْفٍ عَلَى أَنْ يَمُوْتَ عَلَيْهَا وَلَوْ ضَرْبًا بِالسُّيُوْفِ؛ شَهَادَةً تَحْمِيْنَا مِنَ الشُّرُوْرِ وَسُوْءِ الْحُتُوْفِ، وَتَسْلُكُ بِنَا طَرِيْقَ الْمَعْرُوْفِ، وَنَنْجُوْ بِهَا مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَالْهَوْلِ الْمَخُوْفِ؛ شَهَادَةً تُحَقِّقُ لَنَا مِنَ اللّٰهِ وَعْدًا غَيْرَ مَخْلُوْفٍ، وَتُظِلُّنَا بِظِلِّ الْعَرْشِ حَيْثُ الْكُلُّ بَيْنَ يَدَيِ الْحَقِّ مَوْقُوْفٌ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَوْصُوْفُ نُورًا كَضَوْءِ الشَّمْسِ مِنْ غَيْرِ سُحُبٍ أَوْ كُسُوْفٍ ، بِعَبِيْرِ أَنْفَاسٍ عَبِقَتْ بِهَا جُدْرَانُ مَكَّةَ وَالسُّقُوْفُ. لَوْ عَلِمَ جَدُّهُ حِيْنَ كَانَ بِالْبَيْتِ يَطُوْفُ, مُسْتَبْشِرًا بِهِ كَمْ رَغِمَتْ بِمَبْعَثِهِ أُنُوْفٌ، لَظَلَّ يَلْهَجُ بِالثَّنَاءِ بِغَيْرِ مَلَلٍ أَوْ وُقُوفٍ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ فِيْ سُوْرَةِ الْفَتْحِ مَوْصُوْفٌ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ مَنْ زَانَ الْوُجُوْدَ بِشَخْصِهِ، وَزَانَ الْقُلُوْبَ بِوَصْفِهِ، وَزَانَ الْعُقُوْلَ بِصِدْقِهِ، وَبِمِثْلِ طِيْبِهِ أَبَدًا لَمْ تَحْظَ الْأُنُوْفُ.
أَمَّا بَعد، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: (وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ)
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah SWT,
Mari kita bersyukur atas desah napas yang masih mengalir, atas detak jantung yang masih setia menemani, dan di atas segalanya, atas nikmat iman serta ketakwaan yang senantiasa menuntun langkah kita menuju rumah-Nya yang damai ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah luhur kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan kelembutan hati yang risalahnya menjadi oase di tengah gersangnya jiwa manusia.
Hari ini, kita berada di pertengahan bulan Muharram nan mulia. Sebuah waktu di mana gempita dan kemeriahan Tahun Baru Islam perlahan mulai surut. Masjid-masjid yang tempo hari sesak oleh perhelatan doa bersama, kini mulai kembali pada ritme kesehariannya.
Di saat-saat senyap seperti inilah, esensi ketakwaan kita yang sesungguhnya sedang diuji. Apakah getaran spiritual dari perhelatan keagamaan kemarin membekas menjadi transformasi sosial, ataukah menguap begitu saja tanpa jejak?
Pertengahan Muharram ini bukanlah hari raya, melainkan sebuah "ujian sunyi". Ia adalah momentum krusial untuk menguji istiqamah dan konsistensi. Ibarat seorang pelari maraton, sorak-sorai di garis start memang membakar semangat.
Namun, kemenangan sejati tidak ditentukan di garis start, melainkan pada kemampuan pelari untuk mempertahankan napas dan langkah di kilometer-kilometer tengah, ketika sorak-sorai telah reda.
Demikianlah agama kita. Momentum keagamaan bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk memperkuat struktur kehidupan kita.
Untuk memahaminya, mari kita renungkan sebuah analogi yang Allah SWT sendiri berikan dalam Alquran, yaitu "Analogi Pohon Kehidupan".
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Allah SWT memberikan kita analogi yang sangat indah dan sempurna dalam surat Ibrahim ayat 24-25:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya."
Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menguraikan makna yang mendalam mengenai ayat ini:
1. Akar yang teguh (ashluha tsabit) adalah keyakinan dan ritual ibadah yang mengakar kuat di dalam hati. Ia tersembunyi, tidak selalu dipuji orang, namun ia menyerap nutrisi keimanan langsung dari Allah SWT.
2. Batang yang menjulang (wa far'uha fis-sama') adalah ukhuwah Islamiyah. Ia adalah penopang yang menghubungkan akar yang tersembunyi dengan dunia luar. Batang ini harus kokoh untuk menopang beban kehidupan, dan memerlukan perawatan terus-menerus, bukan hanya dibiarkan tumbuh liar.
3. Buah yang terus-menerus (tu'ti ukulaha kulla hin) adalah akhlak mulia dan interaksi sosial. Kesehatan akar dan kekuatan batang hanya bisa dibuktikan dari manisnya buah yang bisa dinikmati oleh orang lain.
Jika buah yang dihasilkan pahit dan beracun, seperti suka memfitnah, memutus silaturahim, atau sombong, maka ada yang sakit pada akar ibadah kita, betapapun rajin kita tampak di mata manusia.
Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Buah dari pohon keimanan ini haruslah kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah anugerah terbesar dari Allah.
Di masa Jahiliyah, orang bersatu atau bermusuhan berdasarkan nasab dan kesukuan. Allah menghapus fanatisme itu dan menggantinya dengan ikatan iman.
Oleh karena itu, mencintai sesama manusia bukan sekadar etika sosial biasa, ia adalah cermin kesempurnaan iman.
Rasulullah SAW menegaskan prinsip luhur ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Teori pohon ini bukan sekadar konsep abstrak, lebih dari empat belas abad yang lalu, untuk melihat bagaimana "batang" dan "buah" ini tumbuh secara nyata.
Saat itu, euforia menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabat Muhajirin baru saja mereda. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Rasulullah SAW mempersaudarakan seorang sahabat Muhajirin bernama Abdurrahman bin 'Auf dengan seorang sahabat Anshar bernama Sa'ad bin Rabi'.
Abdurrahman bin 'Auf tiba di Madinah dengan tangan hampa. Ia meninggalkan seluruh harta dan kenyamanan di Makkah demi mempertahankan akarnya, yaitu iman.
Sementara itu, Sa'ad bin Rabi' adalah tuan tanah yang makmur, dengan dua kebun kurma yang rimbun dan keluarga yang bahagia.
Dengan hati yang tulus, Sa'ad bin Rabi' menawarkan separuh dari seluruh kekayaannya kepada Abdurrahman. Bahkan, dengan kemuliaan akhlak yang luar biasa, Sa'ad berkata, "Aku memiliki dua istri. Lihatlah mana yang paling engkau sukai, sebutkan namanya, akan kucerai agar engkau dapat menikahinya."
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Tawaran itu adalah tawaran yang membuat langit pun mungkin terdiam. Itu adalah puncak dari ibarat "batang" persaudaraan yang kokoh, siap menopang saudara yang terjatuh.
Namun, apa jawaban Abdurrahman bin Auf?
Dengan senyum yang teduh dan penuh martabat, ia menjawab: "Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu. Aku tidak membutuhkan itu semua. Tunjukkan saja kepadaku, di mana letak pasar?"
Lihatlah, kalimat singkat ini adalah "buah" termanis dari pohon keimanan. Abdurrahman tidak ingin menjadi beban. Ia menolak ketergantungan, bukan karena sombong, tetapi karena ia memahami bahwa persaudaraan sejati bukanlah tentang menjadikan satu pihak sebagai peminta-minta dan pihak lain sebagai pemberi sedekah.
Persaudaraan sejati adalah tentang saling memulihkan martabat, saling menguatkan untuk berdiri di atas kaki sendiri, dan saling bahu-membahu dalam kebaikan.
Akhirnya, Sa'ad menunjukkan pasar. Abdurrahman pun berdagang. Dan dengan kejujuran dan kerja kerasnya, dalam waktu yang tidak lama, Allah melimpahkan keberkahan kepadanya.
Abdurrahman menjadi kaya, hingga pada suatu hari ia datang dengan membawa mahar yang sangat besar untuk menikah, membuktikan bahwa dari akar iman yang kuat, dan batang persaudaraan yang saling menopang, lahirlah buah kemandirian dan kemuliaan yang dinikmati oleh seluruh masyarakat Madinah.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah cermin bagi kita di bulan Muharram ini.
Ketika kemeriahan awal tahun telah berlalu, apakah kita masih memiliki hati seperti Sa'ad bin Rabi' yang rela berbagi?
Dan ketika kita berada dalam kesulitan, apakah kita memiliki semangat seperti Abdurrahman bin 'Auf untuk tetap berkarya, bukan sekadar mengeluh atau saling menyalahkan?
Di era di mana jari-jari kita lebih mudah mengetik hujatan daripada memberi bantuan, di era di mana kita lebih cepat memviralkan aib tetangga daripada menjenguknya yang sakit, kisah Madinah ini menampar kita dengan lembut, bahwa persaudaraan tidak dibangun di atas mimbar seremonial, ia dibangun di pasar-pasar kehidupan, di teras-teras rumah tetangga, dan dalam diamnya tangan yang saling membantu tanpa mencari sorakan.
Allah SWT memperingatkan kita dalam surat Al-Anfal ayat 46:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar."
Perselisihan dan polarisasi akan menghilangkan ruh kekuatan, semangat, dan keberkahan umat. Maka, di bulan Muharram ini, kita diingatkan oleh sabda Rasulullah SAW tentang esensi istiqamah. Beliau bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling konsisten terus-menerus, meskipun sedikit."
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Retorika yang indah tidak akan berarti tanpa tindakan nyata. Untuk menjadikan momentum ini sebagai akar penguat persaudaraan, mari kita praktikkan tiga tindakan konkret di lingkungan kita:
Pertama, menjenguk yang sakit sebagai "nutrisi kasih sayang". Ingatlah metafora Rasulullah SAW yang berbunyi:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan turut merasakan." (HR Bukhari & Muslim)
Kehadiran kita adalah obat yang menguatkan ikatan emosional. Maka sepatutnya kita memperhatikannya.
Kedua, menjaga lisan dan jari serta memangkas duri fitnah.
Di era ini, lisan juga berupa ketikan jari. Menjaga lisan berarti menahan diri dari ghibah, adu domba, dan hoaks. Jadikan jari kita sebagai perisai yang melindungi kehormatan saudara, bukan senjata yang mematahkan batang persaudaraan.
Ketiga, menghidupkan semangat gotong royong untuk memperkokoh "batang" keislaman.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
"Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sedangkan tetangganya yang berada di sampingnya kelaparan." (HR Al-Baihaqi)
Oleh karena itu, mari kita saling membantu, baik dalam menjaga kebersihan lingkungan maupun meringankan beban tetangga. Sebab ini adalah praktik ukhuwah yang paling nyata.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai perenungan akhir, mari kita hayati kata-kata bijak Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Beliau mengatakan:
"Persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar slogan yang diucapkan di mimbar-mimbar, atau tepuk tangan di pertemuan-pertemuan. Persaudaraan adalah bukti nyata dalam kehidupan. Ia terasa ketika kita membela kehormatan saudara yang tidak hadir, membantu meringankan beban tetangga yang kesulitan, dan menahan lisan dari aib sesama. Di situlah letak ruh Islam yang sebenarnya."
Marilah kita jadikan hari ini sebagai titik balik. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari lingkungan terdekat kita dalam merawat dan menjaga kebaikan yang berkelanjutan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
9. Tentang Usia Manusia
Oleh: Dr Muhammad Alvi Firdausi, S.Si., M.A, Anggota Komisi Fatwa MUI
Khutbah I
الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلام، وأفهمنا بشريعة النبي الكريم، أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريك له، ذو الجلال والإكرام، وأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وبارك عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اله وأصحابه والتابعين بِإِحْسانِ إِلَى يَوْمِ الدِّين
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الإخوان، أوْصَيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمُ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمُ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا) وقال تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ). صَدَقَ اللَّهُ العَظِيمُ
Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah,
Para fuqaha berijtihad bahwa usia manusia terbagi menjadi 4 fase. Yaitu fase shabiy atau bayi, kemudian fase athfal atau anak-anak, kemudian fase syabab atau pemuda, kemudian fase kahulah atau usia dewasa, yaitu 40 tahun, dan terakhir fase syuyukh atau tua, yaitu di atas 60 tahun.
Tujuan klasifikasi umur ini adalah agar kita menjadi semakin dewasa dalam menghadapi perjalanan hidup di dunia serta mematangkan persiapan akhirat seiring bertambahnya usia.
Betapa seringnya kita terlena dalam menghadapi perjalanan dunia. Kita selalu percaya diri, menganggap hidup di dunia masih lama dan jauh. Padahal setiap manusia memiliki jatah kontrak hidup di dunia yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya. Hal ini termaktub di dalam Alquran surat Al-A'raf ayat 34, Allah SWT berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلَّ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan."
Atas dasar itu, pada kesempatan ini khatib mengajak kepada para jamaah sekalian marilah kita melakukan muhasabah berdasarkan penggalan firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 15:
حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, 'Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim."
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ayat ini memberikan banyak nasihat kepada kita tentang makna usia 40 tahun, di mana manusia telah memasuki fase kahulah. Pada fase ini, Allah memberikan kematangan dan puncak kedewasaan dalam hal berpikir maupun tanggung jawab.
Momentum usia 40 tahun adalah titik start bagi manusia untuk kembali ke jalan Allah serta meningkatkan keseriusan memikirkan akhirat, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak.
Muaranya, akan terbangun koneksi hablun minallah yang baik. Sebab tidak ada cara lain untuk membangun jaringan akhirat kecuali dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan. Hal ini sebagaimana pesan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"... Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Selanjutnya, perkara yang layak kita renungkan adalah bagaimana cara membekali diri yang diridhai oleh Allah.
Tentu ibadah lahiriah tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tetapi kita harus tahu bagaimana caranya agar ibadah yang kita lakukan dapat dipanen di akhirat kelak.
Jangan sampai kita selaku makhluk yang sempurna dengan akal, kalah dengan burung yang terbang di awan. Mereka, meskipun tidak dikaruniai akal, tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah.
Allah berfirman di dalam surat An-Nur ayat 41:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَفْتُ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَةٌ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
"Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu bahwa sesungguhnya kepada Allah-lah apa yang di langit dan di bumi dan burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan."
Dan cara beribadah itu adalah sebagaimana termaktub di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15:
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَيهُ
Yaitu bahwa setiap ibadah yang kita amalkan haruslah didasarkan pada hadirnya nilai keikhlasan yang semata-mata ditujukan kepada Allah.
Ibadah tanpa ikhlas hanya akan mendatangkan riya', ujub, takabbur, dan berbagai keburukan yang dimurkai oleh Allah SWT.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW dijumpai oleh salah seorang sahabat. Ketika itu beliau dalam keadaan menangis. Sahabat tersebut lalu bertanya tentang penyebabnya.
Rasulullah menjawab bahwa sesaat yang lalu Malaikat Jibril menginformasikan bahwa Allah segan mendatangkan musibah terhadap suatu kaum selama di dalamnya ada kelompok orang yang sudah beruban tetapi hatinya tetap tertambatkan untuk selalu dekat dengan Allah. Inilah yang membuat Rasulullah menangis terharu.
Di sini, kita melihat betapa Allah memberikan sebuah apresiasi yang tinggi terhadap golongan syuyukh yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, adalah sebuah tindakan yang sangat keterlaluan jika pada fase kahulah, terlebih lagi saat masuk fase syuyukh, ternyata seorang muslim masih menjalani hidup melalaikan Allah dengan melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya.
Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang selalu mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah. Dan semoga segala amal ibadah kita diridhai oleh Allah SWT. Amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
اقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
10. Memahami Hakikat "'Afiyah fil Jasad"
Oleh: Ahmad Yani, M.A, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Khutbah I
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّابَعْدُ، فَيَاعِبَادَاللّٰهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَال اللّٰهُ تَعَالٰى فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ)
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلٰى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan. Nikmat yang sering kita rasakan, tetapi jarang kita syukuri dengan sungguh-sungguh.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam cara kita menjaga hidup, termasuk menjaga tubuh dan jiwa yang Allah amanahkan kepada kita.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Salah satu doa yang sering diajarkan Nabi adalah memohon "al-'afiyah", keselamatan dan kesehatan. Dalam doa itu kita mengenal ungkapan "'afiyatan fil jasad", kesehatan pada tubuh. Namun para ulama menjelaskan, makna 'afiyah bukan sekadar bebas dari penyakit.
Ulama tafsir seperti Ibn Katsir menjelaskan bahwa 'afiyah adalah perlindungan menyeluruh dari segala yang membahayakan manusia. Bukan hanya sakit, tetapi juga sebab-sebab yang mengantarkan pada kerusakan hidup.
Sementara Imam al-Qurtubi menegaskan bahwa kesehatan tubuh tidak bisa dipisahkan dari kesehatan jiwa. Tubuh yang kuat tanpa jiwa yang tenang adalah rapuh. Dan jiwa yang gelisah akan menyeret tubuh pada kelemahan.
Karena itu, ketika kita berdoa "'afiyatan fil jasad", sejatinya kita sedang memohon tiga hal sekaligus: tubuh yang sehat, jiwa yang tenang, dan hidup yang dijaga dari keburukan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Coba kita renungkan: berapa banyak orang yang tampak sehat tubuhnya, tetapi batinnya penuh kecemasan? Dan berapa banyak yang rajin beribadah, tetapi lalai menjaga tubuhnya? Padahal Islam tidak mengajarkan pemisahan seperti itu.
Dalam pandangan ulama, kesehatan adalah amanah. Imam Fakhruddin ar-Razi mengingatkan bahwa nikmat sehat sering baru terasa nilainya ketika telah hilang. Maka, memohon 'afiyah adalah bentuk kesadaran agar kita tidak lalai sebelum datang penyesalan.
Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Hari ini kita hidup di zaman penuh tekanan. Stres, kecemasan, kelelahan mental semuanya nyata. Dan semua itu tidak hanya menyerang jiwa, tetapi juga tubuh kita.
Karena itu, doa "'afiyatan fil jasad" menjadi semakin relevan. Kita tidak cukup hanya berdoa, tetapi juga harus menjaga. Menjaga pola makan, menjaga istirahat, menjaga pikiran, dan menjaga hati.
Sebagaimana disampaikan oleh ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi, Islam adalah agama keseimbangan. Tidak boleh berlebihan dalam satu sisi dan melupakan sisi yang lain.
Maka, merawat tubuh adalah bagian dari ibadah. Dan menenangkan jiwa adalah bagian dari kesehatan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ هٰذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Kita telah memahami bahwa "'afiyatan fil jasad" bukan sekadar sehat fisik, tetapi keselamatan hidup secara utuh. Maka pertanyaannya: sudahkah kita menjaganya?
Jangan sampai kita hanya sibuk mencari kesehatan, tetapi lupa mensyukurinya. Jangan sampai kita meminta keselamatan, tetapi hidup dengan cara yang merusaknya.
Mulailah dari hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari: jaga makan kita, jaga waktu istirahat kita, jaga lisan kita, dan jaga hati kita.
Karena pada akhirnya, tubuh yang sehat akan menopang ibadah kita. Dan jiwa yang tenang akan mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Mari kita tutup dengan sama-sama berdoa...
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Nah, itulah kumpulan contoh khutbah Jumat singkat dan terbaru yang bisa dijadikan referensi. Semoga bermanfaat ya detikers!
