Wabup Mimik Dorong Siswa Gemar Membaca Lewat Perpustakaan Digital

Wabup Mimik Dorong Siswa Gemar Membaca Lewat Perpustakaan Digital

Suparno - detikJatim
Selasa, 20 Okt 2026 12:30 WIB
Wabup Sidoarjo Mimik Idayana dorong budaya gemar membaca lewat perpustakaan digital
Wabup Sidoarjo Mimik Idayana dorong budaya gemar membaca lewat perpustakaan digital/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mendorong penguatan budaya literasi di kalangan pelajar melalui pengembangan perpustakaan digital sekolah. Menurutnya, kemudahan akses bacaan perlu diimbangi dengan kebiasaan memahami dan menceritakan kembali isi buku yang dibaca.

Hal itu disampaikan Mimik saat menerima audiensi Pustaka Media Guru di rumah dinas Wakil Bupati Sidoarjo, Senin (19/10/2026). Pertemuan tersebut membahas pengembangan program Perpustakaan Digital Sekolah untuk memperluas akses bacaan sekaligus mendorong kreativitas siswa.

Mimik mengatakan, kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Tidak hanya membaca, siswa juga perlu diberi kesempatan untuk menceritakan kembali isi buku agar pemahaman dan kemampuan berkomunikasi mereka semakin berkembang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan sekadar membaca. Kalau bisa, setelah membaca harus diceritakan agar ada kemauan untuk membaca kembali," ujar Mimik dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, ruang bagi siswa untuk menyampaikan kembali isi bacaan dapat membuat mereka merasa dihargai dan didengarkan. Hal itu diharapkan menumbuhkan semangat untuk terus membaca dan memperluas wawasan.

"Kalau anak-anak ini diberikan wadah untuk menceritakan kembali kan akhirnya dia merasa didengarkan. Jadi, besoknya lagi dia akan mau membaca dan bercerita kembali agar kreativitasnya terus berjalan dengan banyak wawasan dan kosa-kata lewat membaca," imbuhnya.

Pemimpin Redaksi Pustaka Media Guru, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa program Perpustakaan Digital Sekolah dikembangkan untuk memudahkan siswa mengakses bahan bacaan di tengah perkembangan teknologi.

Menurut Eko, layanan tersebut dapat diakses secara gratis melalui aplikasi pada perangkat Android dan iOS. Sekolah juga dapat memantau aktivitas membaca siswa, mulai dari durasi membaca hingga jumlah buku yang telah diselesaikan.

"Perpustakaan digital ini dapat diakses melalui aplikasi pada perangkat Android dan iOS secara gratis. Sistemnya juga memungkinkan sekolah memantau aktivitas membaca setiap siswa," jelas Eko.

Selain memperluas akses bacaan, platform tersebut memungkinkan sekolah menambah koleksi buku digital dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan pengadaan buku cetak. Siswa juga dapat memanfaatkan platform untuk mengembangkan cerpen dan karya tulis lainnya sebagai konten lokal.

Eko berharap pengembangan program itu dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, termasuk dengan melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Netti Lastiningsih, menyambut baik upaya pengembangan budaya literasi melalui perpustakaan digital. Ia menyebut lebih dari 100 sekolah telah mengembangkan perpustakaan dengan sistem yang beragam.

Netti menegaskan, penerapan perpustakaan digital perlu disesuaikan dengan kondisi dan sistem yang telah berjalan di masing-masing sekolah. Pemilihan bahan bacaan juga harus mempertimbangkan jenjang pendidikan serta kemampuan membaca siswa.

Untuk siswa kelas awal, misalnya, buku bergambar dan komik dengan teks sederhana dapat menjadi pilihan agar mereka lebih mudah memahami isi bacaan.

"Kami siap berkolaborasi dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), baik sekolah negeri maupun swasta, untuk memperkaya pengembangan perpustakaan di Kabupaten Sidoarjo. Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja," kata Netti.

Salah satu sekolah yang mulai menerapkan perpustakaan digital adalah SDN Sidodadi. Kepala SDN Sidodadi, Anita Wanodiya Kurnia, mengatakan sebelumnya kegiatan membaca di sekolah masih mengandalkan buku fisik. Kehadiran perpustakaan digital kini menjadi alternatif bagi siswa untuk mengakses bacaan sekaligus mengembangkan kreativitas.

Sekolah tersebut juga mengembangkan majalah digital Jenggala sebagai wadah bagi siswa untuk menghasilkan dan mempublikasikan karya. Pada edisi ketiga tahun ini, majalah digital tersebut berhasil meraih juara III.

Anita mengatakan, keberadaan majalah digital membuat karya siswa dapat terdokumentasi dan tetap diakses meski mereka telah lulus sekolah.

"Anak-anak senang karena sudah ada wadah untuk menampilkan karya mereka. Karya itu tidak hilang begitu saja setelah mereka lulus, tetapi bisa menjadi kenang-kenangan sekaligus bukti kreativitas mereka selama bersekolah," ungkap Anita.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads