PDIP Ajak Anak Muda Lestarikan Hutan Mangrove di Pantai Clungup Malang

PDIP Ajak Anak Muda Lestarikan Hutan Mangrove di Pantai Clungup Malang

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 18:10 WIB
PDIP di Pantai Clungup Malang
PDIP di Pantai Clungup Malang/Foto: Istimewa
Malang -

Sekertaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, bersama kedua aktivis lingkungan, Saptoyo, dan Mochamad Zamroni mengajak ratusan anak muda mencanangkan gerakan rehabilitasi dan pelestarian hutan mangrove di pesisir Pantai Clungup, Kabupaten Malang.

Gerakan ini telah berlangsung selama 20 tahun. Hingga kini, rehabilitasi tersebut mencapai sekitar 158 hektar dalam 46 jenis mangrove. Bahkan, telah berhasil menarik 55 jenis burung dan penyu. Hal ini disampaikan oleh Saptoyo, penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC)Tiga Warna sekaligus Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru.

"Tempat ini di tahun 2021, telah menghasilkan 9000 ton serapan karbon. Kawasan ini, juga telah memberikan manfaat ekonomi bagi 60 orang pekerja. Belum lagi manfaat ekonomi yang diberikan kepada ibu-ibu yang memasak untuk kebutuhan tamu. Serta kelompok nelayan perahu. Total manfaat ekonomi langsung yang didapatkan Rp2 milyar rupiah setahun," kata Saptoyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saptoyo menuturkan, proses konservasi hutan mangrove ini dipenuhi banyak rintangan. Meski begitu, perjuangan tersebut kini membuahkan hasil.

ADVERTISEMENT

"Tidak sedikit dari kawan kami yang meneteskan darah karena kecelakaan kerja. Tidak ada kompensasi apapun dan tidak ada yang menuntut karena semua berdasarkan kerelaan," tuturnya.

Sementara itu, Hasto Kristiyanto menilai konservasi hutan bertujuan mengembangkan kegiatan ekonomi tanpa merusak basis ekologis. Dalam hal ini, pihaknya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk aktif dan terlibat dalam menjaga lingkungan.
"Konservasi bukan sekadar membatasi aktivitas ekonomi. Tujuannya adalah mengembangkan kegiatan ekonomi yang dapat berjalan tanpa merusak basis ekologisnya. Generasi muda perlu aktif belajar dan berinovasi," ucapnya.

Hasto mengingatkan pentingnya membatasi pembukaan kawasan hutan. Mengingat, kebakaran hutan masih menjadi persoalan yang dihadapi saat ini. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis bagi lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan.

Kawasan konservasi tak cukup hanya menjadi destinasi wisata. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem dan mengembangkan ekonomi berkelanjutan juga menjadi kunci agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Upaya itu didorong melalui pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas di kawasan Pantai Clungup dan Teluk Asmara, Kabupaten Malang. Kawasan tersebut diharapkan menjadi salah satu pelopor perdagangan karbon berbasis komunitas di Indonesia, dengan melibatkan warga setempat dan memperkuat upaya pelestarian lingkungan.

PDIP di Pantai Clungup MalangPDIP di Pantai Clungup Malang Foto: Istimewa

Andreas Eddy Susetyo menilai tantangan lingkungan semakin kompleks. Peningkatan timbunan sampah, kerusakan ekosistem, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Menurut Andreas, konservasi tidak bisa hanya dibebankan kepada aktivis lingkungan atau lembaga tertentu. Anak-anak muda, keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas masyarakat perlu mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan.

"Kami akan mendorong CMC untuk dapat masuk ke perdagangan karbon berbasis komunitas pertama, kita akan bantu CMC untuk memenuhi sejumlah syarat: legalitas kawasan, sertifikasi, penghitungan penyerapan karbon yang kredibel, serta pencatatan unit karbon pada Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK)," pungkas Andreas.

Dukungan tersebut diharapkan membuka peluang bagi komunitas pengelola kawasan konservasi untuk mengembangkan potensi lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Namun, upaya itu perlu ditopang legalitas kawasan, sertifikasi, serta penghitungan penyerapan karbon yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dialog lintas wilayah juga menjadi sarana untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan gagasan mengenai konservasi. Praktik baik yang telah berjalan di suatu daerah diharapkan dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi wilayah lain.

Tri Rismaharini menekankan pentingnya mengubah pendekatan konservasi agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan dengan partisipasi publik dan dampak yang terukur.

"Makna penting konservasi perlu bergeser dari kegiatan seremonial menjadi gerakan yang memiliki kesinambungan, partisipasi publik, dan dampak terukur," tutur Tri Rismaharini.

Risma juga menegaskan kebersihan sebagai salah satu syarat utama keberlanjutan pariwisata. Meningkatnya kunjungan wisatawan diharapkan tidak hanya menguntungkan pengelola kawasan, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga, mulai dari pemilik warung kuliner, perajin, pemandu wisata, hingga pemilik perahu di sekitar kawasan.

Sementara itu, Eriko Sotarduga mengajak generasi muda menjadikan pilihan dan tindakan mereka sebagai bagian dari upaya memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Pilihlah yang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang banyak," terang Eriko.

Ia juga mengajak anak muda berpartisipasi dalam Pekan Peduli Sampah Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 9-14 November 2026. Salah satu kegiatan yang didorong ialah mengolah sampah organik menjadi kompos.

"Di antara gerakannya adalah mengolah sampah organik menjadi kompos," jelas Eriko.

Rangkaian kegiatan ini diawali dengan Workshop Peluang dan Tantangan Perdagangan Karbon bagi Komunitas di Kawasan Pantai Clungup dan Teluk Asmara. Kemudian ditutup dengan Susur Mangrove sampai dengan Pantai Tiga Warna. Aktivitas ini diikuti oleh Ratusan Anak Muda, Emak-Emak, dan Nelayan.

Kawasan tersebut tidak hanya menjadi wisata ekologis. Tetapi, turut bertransformasi sebagai kawasan pertama secara Nasional yang terlibat perdagangan karbon berbasis kimunias sekaligus didukung oleh produk unggulan warga yang mampu bersaing secara nasional hingga mendunia.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads