Voluntrip LMI (Lembaga Manajemen Infaq Ukhuwah Islamiyah) berkolaborasi dengan Kitabisa melakukan penanaman mangrove dan pilah sampah di Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Sebanyak 220 bibit mangrove ditanam di lahan konservasi.
Environment Project Lead Voluntrip, Tika menyebut, kegiatan ini berupaya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sekitar sejak usia dini. Khususnya, mengenalkan pentingnya keberadaan hutan lindung kepada anak-anak binaan.
"Karena kami ingin menanamkan kesadaran sejak ini tentang bagaimana kita harus menjaga dan melindungi lingkungan kita. Utamanya salah satunya adalah mangrove," kata Tika kepada detikJatim, Sabtu (17/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tika menilai, penanaman mangrove penting untuk terus dilakukan. Mengingat, manfaat hutan mangrove begitu besar dampaknya bagi lingkungan. Terutama dalam mencegah bencana alam seperti abrasi.
"Karena mangrove itu dampaknya kemana-mana ya, mulai dari bisa melindungi kita dari abrasi, melindungi kita dari kalau misalnya dia sudah lebih besar melindungi kita dari tsunami," terangnya.
Kegiatan ini melibatkan 10 relawan dan 13 anak-anak binaan. Selain menanam mangrove, mereka juga melakukan aksi memilah sampah yang memenuhi area muara konservasi di kawasan tersebut. Jenis sampah rumah tangga paling banyak ditemukan.
"Macem-macem, ya. Betul, jadi bahkan juga tidak, satu-dua itu kami menemukan potongan kasur, bantal, guling, karena benar-benar mungkin orang-orang membuang sampahnya itu awalnya mungkin di sungai, terus kemudian karena ini seperti muara," jelasnya.
Untuk mendorong semangat anak-anak binaan saat memilah sampah-sampah plastik, panitia relawan sengaja menyiapkan hadiah bagi mereka yang berhasil memilah sampah terbanyak. Dalam waktu 20 menit, mereka berhasil mengumpulkan 89 kilogram limbah sampah.
Penanaman mangrove dan bersih-bersih sampah di Surabaya Foto: Eka Fitria Lusiana/detikJatim |
"Kebetulan adik-adik itu kita ambil dari anak binaan Kenjeran, kemudian untuk sampah yang terkumpul kita berhasil mengumpulkan dalam waktu 20 menit itu sekitar 89 kilogram," ucapnya.
Tika berharap, kegiatan ini bisa memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi seluruh relawan dan anak-anak binaan. Di samping itu, juga berdampak pada lingkungan sekaligus mendorong kebiasaan menjaga kelestarian alam.
"Mereka mendapatkan experience itu dan pengetahuan juga. Jadi mendapat pengetahuan, mendapat ilmu," terangnya.
"Kalau misalnya kita terus buang sampah sembarangan, misalnya di sungai yang bermuara ke laut, terus akhirnya sampah itu masuk ke area penanaman mangrove, mangrovenya bisa tidak hidup, bisa mati. Dan itu dapatnya balik lagi ke kita," pungkasnya.

