Jalur angkutan barang di kawasan Romokalisari, Surabaya, kini lebih lancar setelah penertiban praktik pungutan liar (pungli) pada 6 Oktober 2026. Sepekan setelah penertiban, sejumlah sopir truk mengaku tak lagi dimintai uang saat melintas dan berharap kondisi tersebut terus terjaga.
Salah satu sopir truk, Sutahan (55), warga Lamongan mengatakan, penertiban pungli berdampak positif terhadap aktivitasnya sehari-hari. Ia mengaku biasa melintasi kawasan tersebut hingga dua kali sehari menggunakan truk engkel pengangkut besi.
"Saya satu hari bisa 2 kali lewat sini, sekali lewat biasanya 2 ribu, sekarang alhamdulillah sudah tidak," ujar Sutahan, Rabu (14/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sutahan, praktik pungli sebelumnya juga kerap memicu kemacetan. Kendaraan yang berhenti untuk membayar pungutan, termasuk saat menunggu uang kembalian, membuat arus lalu lintas tersendat.
"Sama mengurangi kemacetan. Orang-orang berhenti kan bayar, nanti ada yang masih menunggu uang kembalian, jadi dulu itu bisa macet," ungkapnya.
Dampak serupa dirasakan Juanto (47), sopir truk fuso asal Malang. Ia menyebut kondisi di kawasan Romokalisari kini lebih aman setelah penertiban berlangsung selama sepekan terakhir.
"Aman sekarang, sudah tidak ada selama seminggu ini. Mugo-mugo gaonok pungutan maneh (semoga tidak ada pungutan lagi)," kata Juanto.
Di samping menyampaikan tanggapan atas kondisi saat ini, para sopir juga menaruh harapan besar terkait masa depan keamanan di jalur tersebut. Sriyono (56), sopir truk fuso rute Gresik-Mojosari, menanggapi pentingnya pengawasan guna kejadian serupa tidak terulang.
"Sudah aman-aman saja. Semoga tidak terulang lagi," ujar Sriyono.
Dari pantauan detikJatim pada Rabu, 14 Oktober 2026, kondisi jalur sepekan usai penertiban kini menunjukkan perubahan. Salah satunya adalah tidak adanya kemacetan yang biasa terjadi akibat antrian truk saat sedang membayar pungli.
