Julukan Malang Raya sebagai kawasan dataran tinggi yang sejuk seolah luntur dalam beberapa hari terakhir. Sinar matahari menyengat tajam bahkan sejak pagi hingga sore hari.
Cuaca terik yang cukup banyak diresahkan oleh warga Malang ini merupakan dampak nyata perubahan atmosfer yang tengah melintasi wilayah Jawa.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang Linda Fitrotul membeberkan bahwa langit yang terlalu bersih dari tutupan awan menjadi biang utama di balik fenomena suhu panas di wilayah Malang Raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pantauan BMKG, kondisi atmosfer di wilayah Jawa pada periode 2 hingga 8 Oktober tergolong sangat kering tanpa benteng awan yang menghalangi. Radiasi matahari pun dengan leluasa menghantam permukaan bumi tanpa hambatan.
"Kondisi panas dan kering ini masih terjadi hingga beberapa hari ke depan. Minim tutupan awan membuat pemanasan permukaan lebih kuat sehingga suhu maksimum siang hari terasa lebih panas," kata Linda saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (7/10/2026).
Menurut Linda, penyebab cuaca yang terik ini tidak hanya berhenti di situ. Posisi gerak semu matahari yang saat ini melintasi selatan ekuator kian memperparah teriknya siang di Malang Raya.
Ketika fenomena astronomis ini beradu dengan langit yang minim awan, dampaknya langsung merambat ke suhu udara lokal. Ketinggian geografis Malang yang biasanya diandalkan untuk mendinginkan suasana pun tak lagi mampu menahan gempuran panas.
"Meski secara geografis Malang Raya berada di dataran tinggi, namun siang hari terasa panas saat langit cerah dan tutupan awannya sedikit," kata Linda.
Anomali cuaca ini kian kompleks lantaran terdorong pengaruh iklim global. BMKG mencatat kombinasi fenomena El Nino yang masih perkasa serta kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif telah menguras pasokan uap air menuju wilayah Indonesia.
Seretnya pasokan uap air membendung pembentukan awan hujan hingga akhirnya menyisakan rentang siang yang terik dan panjang.
Masyarakat Malang Raya pun diimbau untuk menahan diri dan menjaga stamina saat beraktivitas di luar ruangan. Meski perlahan suhu diprediksi akan mereda seiring memasuki masa pancaroba dan potensi hujan yang mulai mengintip, penurunan panas tidak akan terjadi secara instan.
"Penurunan intensitas panas diperkirakan terjadi secara bertahap, seiring meningkatnya pertumbuhan awan dan peluang hujan. Namun, kondisi panas masih dapat terjadi pada hari-hari tertentu selama masa peralihan," tutup Linda.
