Viral Gempa Palu Berdampak ke Bojonegoro, BMKG Singgung Sesar Kendeng

Faiq Azmi - detikJatim
Jumat, 19 Jun 2026 12:05 WIB
Ilustrasi gempa bumi di Indonesia/Foto: detikcom/Mindra Purnomo
Bojonegoro -

BMKG memberikan penjelasan terkait Sesar Kendeng yang kembali menjadi sorotan di media sosial setelah dikaitkan dengan potensi gempa di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur usai terjadi gempa Palu. Isu tersebut sebelumnya viral dan memicu kekhawatiran publik terkait potensi gempa bumi berskala besar di sejumlah daerah.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso menegaskan, Sesar Kendeng merupakan salah satu zona patahan aktif yang melintasi sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan perlu diwaspadai karena berada di kawasan padat penduduk.

"Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," kata Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Ricko menyebut, Sesar Kendeng memang ada di sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Sesar ini melintang sejauh 300 kilometer di Pulau Jawa.

"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang, Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," terangnya.

Sesar ini, kata Ricko terbagi menjadi enam segmen utama yang melewati berbagai wilayah perkotaan dan kabupaten di Pulau Jawa. Yakni Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (melintasi Lamongan), Segmen Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya), Segmen Waru (melintasi Sidoarjo).

"Secara administratif, jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya," bebernya.

Ricko menyebut, terakhir kali Sesar Kendeng beraktivitas dan berdampak cukup parah terjadi pada tahun 1915. Menurutnya, Sesar Kendeng merupakan sesar yang pergerakannya lambat.

"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," jelasnya.

Ricko kemudian membeberkan gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837 di mana gempa merusak di wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang. Kala itu, estimasi kekuatannya mencapai Magnitudo 6 hingga 7 apabila dikonversi ke skala modern.

Selanjutnya, gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Lalu pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya.

Lebih lanjut, Ricko membeberkan kondisi Sesar Kendeng dalam beberapa tahun terakhir.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," tandasnya.



Simak Video "Video: Gempa M 6,3 Guncang Afghanistan Tewaskan 20 Orang"


(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork