Video yang memperlihatkan anggota TNI bersama alat berat berada di area SDN Wolomoni, Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial. Sekolah tersebut disebut-sebut digusur untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dan pengecekan terkait informasi yang beredar.
"Oh. Sedang dikoordinasikan, tentu saja lahan di setiap desa dan kelurahan yang menjadi lahan untuk bangunan Koperasi Desa Merah Putih ini harus atas persetujuan masyarakat, koperasi, dan juga kepala desa," kata Farida kepada wartawan di Hotel Harris Surabaya, Selasa (9/6/2026) malam.
Farida menjelaskan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan milik masyarakat desa yang pengelolaannya dilakukan oleh warga setempat. Karena itu, penentuan lokasi pembangunan harus berdasarkan kesepakatan bersama.
"Pengelolaannya fungsionalnya adalah masyarakat desa, dan dan atas dasar kepemilikan itu, maka kemudian pemilihan lahan harus atas kesepakatan bersama," jelasnya.
Meski demikian, Farida belum dapat memastikan apakah SDN Wolomoni benar-benar digusur untuk pembangunan Kopdes Merah Putih. Kementerian Koperasi masih menunggu hasil pengecekan langsung di lapangan.
"Itu kita lihat dulu. Kita lihat dulu fakta lapangan. Saya belum melihat secara detail, masih meminta untuk dicek secara langsung permasalahannya ini faktualnya seperti apa," pungkasnya.
Sebelumnya, video yang memperlihatkan sejumlah anggota TNI berada di area SDN Wolomoni viral di media sosial. Dalam video tersebut tampak alat berat berupa ekskavator masuk ke lingkungan sekolah dan sejumlah warga berusaha menghadangnya.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution membantah adanya penggusuran paksa maupun perusakan fasilitas sekolah.
"Tidak terdapat intimidasi, kekerasan fisik maupun upaya penggusuran paksa oleh personel TNI terhadap masyarakat maupun fasilitas pendidikan di lokasi," tegas Amrizal dilansir dari detikBali, Selasa (9/6/2026).
Menurut Amrizal, peristiwa itu terjadi saat mobilisasi ekskavator menuju lokasi pembangunan KDKMP yang berada di lahan hibah masyarakat di belakang area sekolah. Kondisi jalan desa yang sempit membuat perlu dilakukan penyesuaian teknis agar alat berat dapat melintas.
"Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan dan verifikasi terhadap berbagai pihak terkait, peristiwa tersebut berawal dari kendala teknis pada saat mobilisasi alat berat (excavator) menuju lokasi pembangunan KDKMP yang berada di atas lahan hibah masyarakat di belakang area SDN Neowula," ungkapnya.
"Sebelumnya telah dikoordinasikan dengan Kepala Desa dan pihak komite sekolah, tujuannya agar alat berat dapat melintas tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan utama sekolah," lanjut Kapendam.
Amrizal menjelaskan penyesuaian teknis dilakukan dengan memotong sebagian tiang penyangga yang berada di jalur akses alat berat. Ia menegaskan proses tersebut telah dimediasi dan tiang yang sempat terdampak kini telah diperbaiki kembali.
Saat ini, seluruh aktivitas pekerjaan dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi proses mediasi dan menjaga situasi tetap kondusif.
Simak Video "Video: Impor Mobil Pick Up dari India, Dasco: Tunggu Presiden Pulang!"
(esw/hil)