Setiap tahun, hari raya Waisak selalu menarik perhatian publik, terutama karena identik dengan ribuan lampion di Borobudur, dan suasana perayaan yang penuh ketenangan.
Namun, masih banyak orang yang penasaran, Waisak sebenarnya hari raya agama apa, dan makna di balik peringatannya? Bukan sekadar hari libur nasional, Waisak merupakan hari suci umat Buddha, yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama.
Menariknya lagi, sejarah perayaan Waisak ternyata sudah berlangsung sangat lama, dan memiliki perjalanan panjang hingga akhirnya diperingati secara internasional seperti sekarang.
Waisak Hari Raya Agama Apa?
Hari raya Waisak adalah hari suci umat Buddha. Dalam tradisi Buddhisme, Waisak menjadi momen penting untuk memperingati Tri Suci Waisak, yaitu tiga peristiwa besar dalam kehidupan Buddha Gautama.
Dilansir Desa Tamblang, tiga peristiwa tersebut meliputi kelahiran Pangeran Siddharta, pencapaian penerangan agung atau kesempurnaan menjadi Buddha, serta wafatnya Buddha Gautama atau Parinibbana. Karena itu, Waisak menjadi salah satu hari paling sakral bagi umat Buddha di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Apa yang Diperingati Saat Hari Raya Waisak?
Dalam ajaran Buddha, Waisak memperingati tiga peristiwa suci yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak. Ketiga peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam kehidupan Buddha Gautama dan memiliki makna mendalam bagi umat Buddha di seluruh dunia.
- Kelahiran Pangeran Siddharta Gautama
- Pencapaian pencerahan sempurna menjadi Buddha
- Wafatnya Buddha Gautama atau Parinibbana
Ketiganya dipercaya terjadi pada hari bulan purnama di bulan Waisakha atau Waisak. Karena itulah, peringatan Waisak selalu jatuh saat fase bulan purnama. Perayaan ini biasanya diisi dengan meditasi, doa bersama, pembacaan paritta, hingga kegiatan sosial sebagai bentuk penghayatan ajaran welas asih Buddha.
Mengapa Waisak Dirayakan Saat Bulan Purnama?
Waisak dirayakan saat bulan purnama karena diyakini memiliki kaitan erat dengan tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama. Dalam tradisi Buddhis, khususnya aliran Theravada, kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian pencerahan sempurna menjadi Buddha, hingga wafatnya atau Parinibbana dipercaya terjadi pada hari bulan purnama di bulan Waisakha.
Bulan purnama dianggap sebagai simbol kesempurnaan, terang, dan kebijaksanaan dalam ajaran Buddha. Karena itu, momen tersebut dipandang suci dan penuh makna spiritual bagi umat Buddha di seluruh dunia.
Tradisi memperingati Waisak saat bulan purnama pun terus dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup Buddha Gautama, sekaligus pengingat untuk menebarkan kedamaian dan welas asih.
Sejarah Hari Raya Waisak di Dunia
Menurut penjelasan Charles Preston dalam laman Britannica, asal-usul pasti hari raya Waisak memang tidak dijelaskan secara rinci dalam sumber Buddhis awal. Namun, tradisi ini sudah dikenal sejak lama dalam komunitas Buddhis Theravada.
Penyebutan Waisak secara lebih jelas muncul dalam Mahavamsa, kronik sejarah Sri Lanka abad ke-5 hingga ke-6 Masehi. Festival serupa juga tercatat dalam perjalanan peziarah Buddha asal Tiongkok, Faxian, yang mengunjungi India pada awal abad ke-5.
Perayaan Waisak modern berkembang pesat di Sri Lanka pada abad ke-19. Awalnya, Waisak hanya diperingati di lingkungan biara dan kuil. Namun, setelah muncul gerakan kebangkitan Buddhisme di masa kolonial, perayaan Waisak mulai dibuat lebih terbuka dan meriah.
Tokoh teosofis Henry Steel Olcott bahkan pernah mengajukan petisi kepada pemerintah Sri Lanka pada tahun 1884 agar Waisak dijadikan hari libur resmi. Sejak saat itu, Waisak berkembang menjadi festival besar dengan lampion, parade, pertunjukan kisah hidup Buddha, hingga dekorasi kota penuh cahaya.
Kapan Waisak Diakui Secara Internasional?
Perayaan Waisak mulai mendapat pengakuan internasional setelah Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia atau World Fellowship of Buddhists di Sri Lanka pada tahun 1950.
Dalam konferensi tersebut, Waisak ditetapkan sebagai hari raya Buddhis internasional yang diperingati setiap bulan purnama pertama di bulan Mei. Kemudian pada tahun 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengakui hari raya Waisak sebagai perayaan internasional.
Awal Mula Perayaan Waisak di Indonesia
Di Indonesia, sejarah perayaan Waisak modern erat kaitannya dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tradisi Waisak di Borobudur pertama kali dimulai pada tahun 1929 oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda.
Organisasi tersebut beranggotakan campuran bangsawan Jawa dan orang Eropa yang memiliki ketertarikan terhadap ajaran spiritual dan kebudayaan Timur. Namun, perayaan Waisak sempat terhenti akibat perang revolusi kemerdekaan Indonesia.
Tradisi perayaan Waisak baru kembali dilanjutkan pada tahun 1953, sebelum akhirnya kembali dipindahkan sementara ke Candi Mendut saat Borobudur mengalami pemugaran pada tahun 1973.
Sejarah Waisak di Candi Borobudur
Candi Borobudur sendiri merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia, dan salah satu situs Buddhis paling terkenal di dunia. Menurut situs resmi Borobudur Park, Borobudur dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar tahun 780-840 Masehi, sebagai tempat pemujaan Buddha dan lokasi ziarah.
Dalam sejarahnya, Borobudur sempat lama tidak digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Karena itu, tradisi Waisak modern di Borobudur, menjadi simbol penting kebangkitan budaya sekaligus toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Kini, Borobudur menjadi pusat utama perayaan Waisak nasional yang selalu menarik perhatian wisatawan dan umat Buddha dari berbagai negara. Borobudur dipilih sebagai pusat perayaan Waisak karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat kuat dalam perkembangan Buddhisme di Indonesia.
Selain menjadi candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur juga dianggap sebagai simbol perjalanan spiritual menuju pencerahan. Tak heran jika setiap perayaan Waisak, ribuan umat Buddha berkumpul di kawasan ini untuk mengikuti ritual suci dan meditasi bersama.
Makna Tri Suci Waisak bagi Umat Buddha
Bagi umat Buddha, Waisak bukan hanya perayaan seremonial, tetapi momentum refleksi diri. Melalui Tri Suci Waisak, umat Buddha diajak mengingat kembali ajaran Buddha tentang kebijaksanaan, cinta kasih, pengendalian diri, dan pembebasan dari penderitaan.
Karena itu, banyak umat Buddha mengisi Waisak dengan meditasi, berbuat kebajikan, berdana, hingga membantu sesama sebagai bentuk praktik ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi dan Rangkaian Perayaan Waisak
Perayaan Hari Raya Waisak tidak hanya menjadi momen ibadah bagi umat Buddha, tetapi juga sarat dengan tradisi penuh makna spiritual dan nilai kemanusiaan. Berbagai rangkaian kegiatan dilakukan untuk mengenang ajaran Buddha Gautama, sebagai berikut.
- Meditasi dan doa bersama
- Pembacaan paritta suci
- Kirab Waisak
- Pelepasan lampion. Dalam banyak tradisi Buddhis, pelepasan lampion melambangkan harapan, pencerahan, dan pelepasan sifat buruk dari dalam diri.
- Pengambilan Api Dharma dan Air Berkah
- Bakti sosial dan donor kemanusiaan
Detik-detik Waisak 2026
Merujuk keterangan resmi dari Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, detik-detik Waisak 2026 jatuh pada Minggu 31 Mei 2026 pukul 15.44.44 WIB. Puncak perayaan ini akan dipusatkan di Candi Borobudur sebagai lokasi utama peringatan Waisak nasional. Adapun rangkaian kegiatan Waisak 2026 meliputi berikut.
- Minggu 3 Mei: Karya Bakti di Taman Makam Pahlawan seluruh Indonesia
- Sabtu-Minggu 23-24 Mei: Bakti sosial pengobatan gratis
- Jumat 29 Mei: Pengambilan Api Dharma
- Sabtu 30 Mei: Pengambilan Air Berkah
- Minggu 31 Mei: Puncak acara perayaan Tri Suci Waisak
- Detik-detik Waisak: pukul 15.44 WIB
Simak Video "Video: Puluhan Bhikkhu Jalan Kaki Bali-Borobudur Bawa Misi Damai Waisak 2026"
(irb/abq)