Sebagian perahu wisata tradisional di Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten mulai menghentikan operasional dipicu semakin berkurangnya debit air karena kemarau panjang. Padahal, wisatawan yang berkunjung masih ramai.
"Sebagian masih beroperasi tapi terkendala air. Kapal sering terkena sampah-sampah," ungkap pengelola perahu wisata tradisional rawa Jombor, Sutomo kepada detikJateng, Sabtu (17/10/2026) siang.
"Di tempat saya, sudah hari apa itu gak menerima bookingan lagi karena dikhawatirkan perahu bisa kandas. Daripada nanti menanggung risiko perahu rusak lebih baik kami libur dulu," lanjut Sutomo.
Dikatakan Sutomo, surutnya air karena musim kemarau memicu rawa menjadi dangkal. Akibatnya mesin kapal tersangkut sampah.
"Mesin sudah kandas karena sudah mepet tanah. Pengunjung memang masih ramai tapi entah Minggu depan tapi ini bokingan (kapal) sudah tidak diterima karena air surut nanti kapal tidak bisa jalan," tutur Sutomo.
Menurut Sutomo, debit air rawa Jombor semakin surut banyak karena kemarau. Sebagian sudah menghentikan operasional perahunya tapi masih ada yang beroperasi.
"Tapi masih ada sebagian yang posisi air dermaganya masih agak dalam masih bisa beroperasi. Untuk speed boat sudah libur dua Minggu yang lalu," terang Sutomo yang juga ketua paguyuban pengelola perahu wisata tradisional itu.
Jika hujan tidak turun dalam dua Minggu ke depan, lanjut Sutomo, kemungkinan semua perahu dan speed boat akan stop beroperasi. Air sudah tidak memungkinkan.
"Ya karena posisi air sudah tidak memungkinkan dua Minggu lagi daripada kandas," jelas Sutomo.
Koordinator operasional Rawa Jombor, Nandung Setiawan menjelaskan daya tampung normal rawa sekitar 3.200 meter kubik. Luasan total 178 hektare .
" Luasan total 178 hektare, posisi air sekarang sekitar 732 meter kubik. Kalau terdampak pasti kapal terdampak karena di pinggiran mulai terlihat pulau - pulaunya, " ungkap Nandung kepada detikJateng.
Menurut Nandung, untuk sementara sebagian kapal masih bisa jalan beroperasi. Di bagian barat laut masih cukup air sampai ke tengah.
"Dari barat laut ke tengah masih bisa karena air masih sedada orang dewasa. Speed boat tidak lagi karena banyak sisa bumbu yang dulu digunakan untuk karamba dan jaring apung bisa berbahaya," jelas Nandung.
"Jumlah bambu yang dulu belum dibersihkan banyak, kita untuk mencabut semua tidak mampu," imbuh Nandung.
Nandung mengimbau masyarakat pemanfaat rawa baik pemilik karamba atau rakit untuk membersihkan bambu yang sudah tidak terpakai. Untuk wisata dan pemancing diimbau untuk ikut menjaga sampah.
"Ya untuk ikut menjaga sampah agar tidak dibuang sembarang. Termasuk PKL diimbau untuk tidak membuang sampah di rawa atau sungai, kita jaga bersama rawa," imbuhnya.
Pantauan detikJateng, ketinggian air rawa sudah berkurang banyak. Di tepi sisi timur dasar rawa mulai terlihat, daratannya mulai tumbuh rumput.
Beberapa daratan yang agak ke tengah juga mulai muncul ke permukaan ditumbuhi rumput. Sebagian kapal di timur dan Selatan sudah tidak beroperasi.
Kapal yang masih beroperasi hanya di sisi barat laut. Area berlayarnya kapal juga tidak bisa jauh ke selatan dan timur karena karamba di bagian tengah mulai terlihat.
Simak Video "Berenang Ceria Bersama Mermaid di Umbul Ponggok, Klaten"
(afn/afn)