Di balik padatnya lalu lintas dan deret bangunan di Kota Semarang, terdapat sebuah sudut yang mampu membawa wisatawan seperti melangkah mundur ke masa lalu. Kampoeng Djadhoel jadi wisata unik di Semarang yang menawarkan berbagai kegiatan asyik.
Pantauan detikJateng di Kampoeng Djadhoel, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, ada atap jerami, ornamen batik, mural warna-warni, hingga stan-stan kuliner tradisional menyambut siapa pun yang masuk ke sana.
Sebuah bangunan bergaya tradisional dengan papan bertuliskan Kampoeng Djadhoel berdiri di tengah pemukiman. Beberapa pengunjung tampak berjalan santai, bercengkerama, sementara anak kecil berlarian di tengah jalan kecil berdinding mural dengan nuansa tokoh pewayangan.
Payung-payung, bangku kayu, hingga relief tentang sejarah batik Nusantara di dinding tampak mempertegas nuansa tempo dulu yang sengaja dihadirkan di tengah kota.
"Djadhoel itu dari kata 'belanja' dan 'dolan-dolan', berdiri pada tanggal 29 April tahun 2017," kata pengelola Kampoeng Djadhoel," Ignatius Luwiyanto, saat ditemui detikJateng, Minggu (25/1/2026).
Berada di lingkungan Kampung Batik Semarang, kata Luwi, Kampoeng Djadhoel sejak awal dirancang sebagai ruang pelestarian budaya batik yang juga menghadirkan unsur ekonomi, edukasi, dan wisata. Pengunjung tak hanya datang untuk melihat, tetapi juga belajar.
"Kami fokus pada edukasi batik, sejarah Kota Semarang, dan kearifan lokal. Mulai dari anak TK, ibu rumah tangga, sampai akademisi kami terima," jelasnya.
Sepanjang jalan kecil itu, mural-mural bertema budaya dan sejarah juga menghiasi dinding. Mural ini sudah ada sejak Kampoeng Djadhoel berdiri dan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak muda.
"Muralnya kurang lebih sepanjang 24 meter, nggak asal, sudah ada ceritanya semua dan bisa dibaca di atasnya sudah ditempel," jelasnya.
Selama ini, Kampoeng Djadhoel juga kerap menjadi tujuan penelitian mahasiswa. Mulai dari tugas kuliah, skripsi, tesis, hingga disertasi, banyak yang menggali kekayaan batik Semarang dari tempat tersebut. Terdapat dua toko batik yang hadir di kampung itu.
"Ada beberapa perajin batik, ada Sekar Kenanga itu untuk perajin batik. Tapi kita fokusnya semua, jadi tidak hanya ke batiknya saja," kata Luwi.
Ia juga menjelaskan, Batik Asem Semarang merupakan batik asli Semarang yang memiliki keistimewaan dengan motif asem sedompol atau asem yang menggerombol dan itu telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
Selain batik, lanjut Luwi, Kampoeng Djadhoel juga menghidupkan kembali kuliner tempo dulu khas Semarang. Di sini, pengunjung bisa menjumpai beragam makanan yang kini mulai jarang ditemui.
Pantauan detikJateng, ada sekitar empat stan yang menjual kuliner hari ini. Beberapa kuliner yang disajikan yakni jajanan pasar, ubi-ubian, hingga berbagai jenis jamu.
"(Kampoeng Djadoel menyediakan) Ada sego glewo, pohung (ubi), wedhang jarem, nasi kebuli, roti ganjel rel. Sego Glewo itu dulu makanan favorit orang Semarang sekitar tahun 1931," ungkapnya.
Ia menjelaskan, Sego Glewo merupakan kuliner legendaris Kota Semarang yang berbahan dasar sapi dan koyor atau otot, yang direbus serta dimasak dengan kuah santan.
Tak hanya makanan berat, aneka jajanan tradisional seperti lumpia, wingko babat, hingga jajanan pasar juga tersedia. Minumannya pun khas, mulai dari wedang jarem yang merupakan racikan jahe, serai, dan lemon, hingga wedang tahu dan berbagai jenis jamu.
Selain bisa mencoba berbagai kuliner, pengunjung juga bisa mengetahui sejarah makanan legendari yang dicoba, dalam buku panduan yang bisa diakses melalui barcode yang ditempel di kampung tersebut.
(alg/alg)