Sosok Julaibib tak menarik dalam pandangan wanita Madinah kala itu. Hidupnya sederhana bahkan tergolong miskin, nasabnya tidak jelas, dan secara fisik dia pendek dan lusuh.
Julaibib menyadari akan kondisinya. Dia pun tak berniat menikah karena minder dan tidak yakin apakah ada wanita Madinah yang mau menerimanya. Meski kurang beruntung secara fisik dan harta, Julaibib termasuk di antara sahabat yang saleh. Dia selalu mengisi barisan depan baik saat salat maupun di medan perang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diceritakan dalam buku Saat Semua Meninggalkanmu, Allah Setia Menunggumu oleh Hafidz Muftisany, suatu ketika Rasulullah SAW menghampiri Julaibib dan bertanya tentang keinginan menikah.
"Tidakkah engkau ingin menikah, wahai Julaibib?" tanya Rasulullah SAW. Beliau bertanya hingga tiga kali, tapi tetap ditepis oleh Julaibib karena menyadari kondisi hidupnya.
Ternyata Rasulullah SAW tak sekadar bertanya. Beliau mengajak Julaibib ke rumah salah seorang pemimpin kaum Anshar yang punya gadis cantik jelita.
"Aku ingin menikahkan putri kalian," pinta Rasulullah SAW kepada pemimpin tersebut.
Pemimpin Anshar mengira Rasulullah SAW melamar untuk dirinya sendiri. Dengan gembira, mereka menyambut hangat lamaran itu.
"Bukan untukku. Kupinang putri kalian untuk Julaibib," kata Rasulullah SAW.
Ayah si gadis langsung terpekik. Sementara, Julaibib merasa sangat minder karena menyadari bagaimana mungkin si buruk rupa nan miskin akan menikahi putri pemimpin Anshar yang punya status sosial tinggi?
Pemimpin Anshar itu lalu minta izin Rasulullah SAW untuk berdiskusi dengan istrinya. "Tunggu, Rasulullah! Saya akan meminta pendapat ibunya terlebih dahulu," ujarnya.
Mereka keberatan menikahkan putrinya dengan Julaibib. Sang anak ternyata menguping pembicaraan orang tuanya, lalu berkata, "Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah SAW? Jika beliau merestui laki-laki itu untuk kalian, maka nikahkanlah ia!"
"Engkau benar," kata sang ayah.
Ayah si gadis lalu keluar menemui Rasulullah SAW dan berkata, "Jika engkau merestuinya, kami pun merestuinya."
Rasulullah SAW lalu berkata, "Ya, aku merestuinya."
Julaibib pun menikah dengan anak pemimpin Anshar itu. Tak lama kemudian, Madinah diserang musuh. Julaibib pun terjun ke medan perang.
Setelah perang berakhir, orang-orang menemukan Julaibib sudah tak bernyawa dan di sekitarnya ditemukan mayat orang-orang musyrik. Menurut suatu riwayat, ada tujuh mayat orang musyrik.
Rasulullah SAW mendatangi mayat Julaibib dan mengurus pemakamannya.
Istri Julaibib pun menjadi salah satu janda paling mulia di Madinah. Anas RA berkata, "Sejak saat itu, aku melihat perempuan tersebut menjadi salah satu perempuan yang paling disukai di Madinah."
Kisah Julaibib itu diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari Anas RA. Abu Ya'la turut meriwayatkannya. Hadits tersebut dinukil Badawi Mahmud Syaikh dalam Riyadhu ash-Shalihat terjemahan Yodi Indrayadi.
(kri/erd)
