Hari Santri 2026, Menag Sampaikan Lima Program Perkuat Ekosistem Pesantren

Hari Santri 2026, Menag Sampaikan Lima Program Perkuat Ekosistem Pesantren

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 22 Okt 2026 15:50 WIB
Menteri Agama RI (Menag) Nasaruddin Umar
Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto: Kemenag
Jakarta -

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan lima program besutan Kementerian Agama dalam rangka memperkuat ekosistem pendidikan pesantren. Hal ini disampaikan Menag dalam upacara Hari Santri 2026, di halaman kantor pusat Kemenag RI, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Hari Santri Nasional sendiri diperingati setiap 22 Oktober sejak 2015 silam. Momen ini bertujuan mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 22 Oktober 1945 atau 81 tahun yang lalu, Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy'ari mewakili seluruh warga pesantren mengumandangkan Resolusi Jihad. Fatwa ini disebut monumental karena menegaskan bahwa membela NKRI adalah fardhu'ain dan mempertahankan kemerdekaan adalah ibadah tertinggi.

"Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri," ujar Menag Nasaruddin, dilansir dari situs resmi Kemenag RI.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut dia menegaskan semangat itu turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peristiwa itu mengajarkan kepada warga bangsa bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa.

"Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia," sambung Menag.

Dalam kaitannya, Kemenag terus memperkuat ekosistem pendidikan pesantren. Langkah ini bertujuan memperluas peran pesantren, sekaligus mempersiapkan para santri untuk berkontribusi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

5 Program Kemenag untuk Perkuat Ekosistem Pesantren

Menag menjelaskan terdapat lima program yang disiapkan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 yang menandai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren). Regulasi ini merupakan bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara kepada pesantren, sehingga santri mendapatkan ruang fasilitasi penuh untuk tumbuh berdaya.

1. SAFESANTRI

Program yang pertama adalah SAFESANTRI. Program ini hadir untuk menguatkan eksistensi pesantren sebagai lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah.

"Citra pesantren aman dan nyaman harus dikawal agar tidak tercoreng oleh laku oknum yang tidak sejalan dengan semangat pesantren," terang Menag.

Kemenag telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) SAFESANTRI yang dirilis Menag Nasaruddin Umar pada momen Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2026.

"Bertepatan peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Satuan Tugas SAFESANTRI. Semoga langkah ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri," ujar Menag.

Lewat pembentukan Satuan Tugas SAFESANTRI, Kemenag menyiapkan mekanisme pencegahan, pengaduan, pendampingan, serta respons cepat terhadap persoalan kekerasan di lingkungan pesantren. Sejumlah tokoh pesantren telah menyatakan kesediaan untuk bergabung dalam satuan tugas tersebut, salah satunya Gus Kautsar.

"Keterlibatan unsur masyarakat pesantren diharapkan memperkuat kolaborasi dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi santri," harap Menag.

2. Rekognisi Ijazah

Program kedua adalah penguatan Rekognisi Ijazah. Hal ini bertujuan menguatkan pengakuan atas pendidikan pesantren, sekaligus memperluas akses para santri untuk melanjutkan pendidikan di berbagai bidang.

Penguatan rekognisi juga diharapkan memperbesar peluang kerja dan pengembangan karier lulusan pesantren. Dengan demikian, capaian pendidikan dan kompetensi santri dapat memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.

"Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh," terang pria yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

3. Pesantren Adaptif dan Mandiri

Program ketiga adalah Pesantren Adaptif dan Mandiri yang berfokus pada penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi. Pesantren masa kini dihadapkan pada tantangan AI dan perkembangan Science, Technology, Engineering & Mathematics.

Selain penguatan teknologi, program ini mencakup modernisasi tata kelola kelembagaan dan pengembangan kemandirian ekonomi pesantren. Melalui pendekatan tersebut, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

"Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi pesantren," ungkap Menag Nasaruddin.

4. Santri 5.0

Program keempat adalah Santri 5.0. Program ini bertujuan mencetak santri yang tidak hanya memahami khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berkembang.

Dengan begitu, penguatan keterampilan, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, serta karakter keagamaan jadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi santri yang mampu menghadapi tantangan masa depan.

"Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan," papar Menag.

5. Dakwah Digital

Program kelima adalah Dakwah Digital. Tujuan program ini adalah menyiapkan dai dan daiyah yang menguasai ilmu agama, memahami media sosial, algoritma, AI, dan konten kreatif agar dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda.

Program ini menjadi respons terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan. Dakwah pesantren diharapkan tidak hanya hadir melalui mimbar dan ruang pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital yang semakin mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Meski demikian, transformasi dakwah tetap harus berpijak pada kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.

"Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda," pungkasnya.



(aeb/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads