Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta masyarakat mewaspadai penularan (hantavirus) virus hanta menyusul laporan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan otoritas kesehatan internasional di Spanyol.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB Lalu Hamzi Fikri menjelaskan Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat imbauan Nomor SR.03.01/C/2572/2026 tertanggal 10 Mei 2026 tentang kewaspadaan penyakit virus hanta.
Menurut Fikri, virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan Orthohantavirus dan ditularkan melalui kontak dengan rodensia atau hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularan juga dapat terjadi melalui urin, feses, saliva atau air liur, hingga debu yang terkontaminasi.
"Jadi penyakit ini dapat menimbulkan dua manifestasi klinis, yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, batuk, sesak napas hingga gangguan ginjal," ujar Fikri kepada detikBali, Selasa (12/5/2026).
Fikri menegaskan hingga kini belum ada laporan kasus virus hanta tipe HPS di Indonesia maupun di NTB. Meski begitu, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan karena tingginya mobilitas perjalanan internasional serta adanya temuan kasus virus hanta tipe HFRS di sejumlah provinsi di Indonesia.
"Kami sudah instruksikan seluruh Dikes kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas hingga laboratorium untuk meningkatkan surveilans, deteksi dini, edukasi masyarakat terhadap kemungkinan adanya kasus penyakit virus hanta," ujarnya.
Ia memastikan seluruh rumah sakit, fasilitas kesehatan, Balai Laboratorium Kesehatan, hingga Balai Kekarantinaan Kesehatan terus melakukan surveilans guna mengendalikan risiko penyebaran virus hanta di NTB.
"Kami terus menguatkan sumber daya, serta rencana tanggap darurat untuk menghadapi berbagai risiko terburuk jika terjadi KLB," tegasnya.
Untuk mencegah penyebaran virus hanta, Fikri mengimbau masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan dan menghindari kontak langsung dengan rodensia, termasuk ekskresi dan sekresinya.
"Perlu juga kan menjaga kebersihan area tempat tinggal dan tempat kerja, menyimpan makanan dan minuman dengan aman menggunakan wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi rodensia," katanya.
Selain itu, masyarakat diminta menutup seluruh lubang di dalam maupun luar rumah agar tikus dan celurut tidak masuk ke rumah. Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala.
"Misalnya ada demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, ikterik atau aundice, batuk, dan sesak napas," tegasnya.
Fikri menambahkan Dikes NTB terus berkoordinasi dengan lintas sektor dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan kesiapsiagaan daerah menghadapi potensi penyakit infeksi emerging.
"Kita minta masyarakat tetap tenang dan jangan mudah percaya dengan informasi yang belum tentu benar. Pastikan bisa mengakses informasi berkala di laman kami," tandas Fikri.
Simak Video "Video Kondisi Terkini WNA Kontak Erat Hantavirus Klaster MV Hondius"
(dpw/dpw)