Sumut Kirim 1 Ton Cabai Merah ke Kalimantan, Gubsu Bobby: Menolong Petani Kita

Sumut Kirim 1 Ton Cabai Merah ke Kalimantan, Gubsu Bobby: Menolong Petani Kita

Kartika Sari - detikSumut
Rabu, 22 Apr 2026 21:41 WIB
Pelepasan komoditi cabai merah asal Sumut menuju Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Kartika Sari/detikSumut)
Foto: Pelepasan komoditi cabai merah asal Sumut menuju Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Kartika Sari/detikSumut)
Medan -

Sumatera Utara mengirim 1 ton cabai merah ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pengiriman itu dilakukan karena pasokan cabai merah di Sumut melimpah hingga harganya anjlok di pasaran.

Pemprov Sumut dengan Bank Indonesia melakukan program Kerja sama Antar Daerah (KAD) dengan mengirim 1,050 ton cabai merah asal Karo ke Kota Palangkaraya. Pengiriman cabai merah ini melalui kargo pesawat.

Melalui program KAD ini, harga jual petani mencapai Rp 25 ribu per kg, naik dibanding sebelumnya yang sempat hanya dijual Rp 9.000 per kg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengungkapkan pengiriman cabai merah perdana ke luar Pulau Sumatera untuk menstabilkan harga cabai merah yang dalam kondisi anjlok. Sementara itu, Kota Palangkaraya juga mendapatkan pasokan cabai merah yang sempat menipis di wilayah tersebut.

"Program ini menolong para petani cabai kami. Bukan hanya ngirim barang tapi disortir dan juga barang tetap fresh. Kalau bisa jangan hanya sekarang ini saja tapi kita buat kesepakatan harga," ungkap Bobby.

ADVERTISEMENT

"Tolong KAD benar-benar dijadikan program. Kalau perlu setiap bulan ada daerah mana-mana saja yang sudah kerjasama itu yang kita prioritaskan untuk dapatkan bantuan," lanjutnya.

Sementara itu, Bobby menargetkan pelaksanaan KAD untuk 12 kabupaten/kota pada tahun ini. Ia optimis KAD ini mampu menyejahterakan para petani.

"Ini terobosan luar biasa, sudah menolong para petani cabai di Karo. Yang kami lakukan ini pure untuk kesejahteraan para petani," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Rudy Brando Hutabarat menyebutkan bahwa pengiriman pasokan cabai merah yang difasilitasi Bank Indonesia ini selain menstabilkan harga juga mencegah potensi kemungkinan inflasi.

"Kebijakan ini bukan hanya melihat harga tinggi saja tetapi harga rendah pun kalau berpotensi merugikan petani. Kalau kita tidak tolong, petani tidak ingin menanam harga cabai lagi dan kedepannya inflasi cabai akan naik," ujar Rudy.

"Bukan hanya inflasi yang terjaga ke depan tapi membantu daya beli petani sehingga daya beli dari konsumsi terjaga dan inflasi juga terjaga," lanjutnya.

Selain cabai merah, Rudy menyebut komoditi bahan pokok lain berpotensi akan disalurkan melalui program KAD.

"Bukan saja komoditi ini tapi komoditas lainnya akan coba kami lihat. Di sini kami membantu mendistribusikan, kami menjaga dalam hal sortir, pengemasan hingga pengiriman," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Terpuk Sisiwa Pedoman Ginting menilai sinergi antardaerah menjadi solusi efektif dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

Ia menjelaskan bahwa Gapoktan yang dipimpinnya terdiri dari 13 kelompok tani dengan kapasitas produksi cabai merah mencapai 3-4 ton per hari.

"Setelah adanya KAD, harga cabai merah di pasaran berangsur naik, dari Rp 9.000 per kilogram, naik ke harga Rp 18 ribu per kilogram. Terakhir harganya Rp 25 ribu per kilogram. Untuk harga kesepakatan KAD dengan Palangkaraya kami sepakati Rp21.000 per kilogram. HPP (harga pokok produksi) di Karo Rp18.000 per kg. Harga segitu masih bisa untung," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Polisi Gagalkan Penyelundupan 22 Kg Sabu dalam Tangki Mobil di Medan"
[Gambas:Video 20detik]
(ksr/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads